(PorosLombok.com) – Puncak Pujawali dan Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat, berlangsung meriah. Ribuan warga dan wisatawan memadati kawasan pura untuk menyaksikan tradisi lintas agama, Kamis (04/11/2025).
Tradisi yang sudah berlangsung berabad-abad ini menjadi simbol kuat kerukunan antara masyarakat Sasak yang Muslim dan komunitas Hindu Bali di Lombok.
Tradisi tahunan ini juga mendapat pengakuan lebih luas setelah masuk dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2025. Penetapan tersebut membuat Perang Topat semakin kokoh sebagai salah satu event budaya terbesar di NTB yang rutin menyedot perhatian wisatawan.
Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Agus Gunawan, mengatakan rangkaian acara digelar selama dua hari dan kembali mendapat respons besar dari masyarakat. Ia menyebut kapasitas kunjungan pada gelaran sebelumnya mampu menembus belasan ribu wisatawan dan tren itu diprediksi terulang tahun ini.
“Dari tahun-tahun sebelumnya ini sampai tembus 10 sampai 15 ribu pengunjung dalam kurun waktu seminggu,” ucap Agus.
Sejak pagi, sejumlah prosesi adat menjadi pembuka rangkaian utama Perang Topat. Mulai dari pertunjukan Presean, prosesi Penyucian, hingga Kelilingan Kauh atau menggiring kerbau sebagai simbol penghormatan antarumat.
Seluruh rangkaian tersebut berpuncak pada ritual saling lempar ketupat yang menjadi ikon tradisi ini, sebagai simbol ucapan syukur atas hasil panen dan harapan kerukunan.
Di luar prosesi budaya, denyut ekonomi lokal tampak bergerak cepat. Lapak UMKM berjajar padat dari dalam area pura hingga ke luar kawasan, menunjukkan tingginya antusias produsen lokal yang memanfaatkan lonjakan pengunjung.
Perputaran transaksi pun berlangsung sejak pagi karena banyak warga dari berbagai kabupaten datang untuk memanfaatkan momentum tahunan ini.
Agus mengatakan aktivitas UMKM memang selalu meningkat tajam saat Perang Topat digelar karena wilayah Lingsar sudah lama menjadi titik temu pedagang dari Lombok Tengah, Lombok Barat, hingga Lombok Utara.
“UMKM-nya penuh sekali, bukan hanya di sekitar pura, tapi sampai luar-luar. Semua tumpah di sini,” jelasnya.
Untuk menjaga kualitas produk dan kerapian penataan, pemerintah daerah menerapkan proses kurasi bagi pelaku UMKM. UMKM lokal yang belum ikut kurasi ditempatkan di luar area pura, sementara UMKM yang telah lolos kurasi diberi ruang di bagian dalam.
Kurasi ini dilakukan bersama Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian untuk memastikan standar produk tetap terjaga.
Agus menilai event budaya seperti Perang Topat selalu memberikan dampak ekonomi berlapis karena pergerakan uang tidak hanya dirasakan pedagang makanan dan kerajinan, tetapi juga pelaku ekraf, pengrajin, hingga jasa rias tradisional yang ikut terlibat dalam prosesi adat.
“Coba bayangkan, berapa UMKM hadir di setiap event, berapa pengrajin, ekraf, sampai tukang payas. Dampak ekonominya multiplayer effect,” tegasnya.
Dengan momentum jelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), jumlah pengunjung diperkirakan terus meningkat seiring tingginya mobilitas wisatawan. Tradisi Perang Topat pun kembali menjadi ruang bagi budaya, toleransi, dan ekonomi rakyat bergerak dalam satu panggung yang sama setiap akhir tahun.
(Redaksi/PorosLombok)













