Menanam Jagung, Memanen Kematian, Lapas Selong dalam Sorotan

Menanam jagung, memanen kematian.
Program Asimilasi Lapas Selong berubah dari harapan menjadi tragedi”
–––––––––––––––––––––––––––

Lombok Timur, PorosLombok.com —
Sabtu pagi, 26 April 2025, Menanga Baris di Lombok Timur diselimuti hawa hangat. Karianto, 36 tahun, memetik jagung dengan tangan cekatan di ladang asimilasi. Kaus lusuh dan topi lebar melekat di tubuh kurusnya, seolah menjadi saksi bisu hari terakhirnya di dunia.

Ia adalah satu dari 25 warga binaan Lapas Kelas IIB Selong yang lolos program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Program yang dirancang untuk memberi kesempatan kedua itu kini berubah menjadi sorotan tajam. Pagi yang seharusnya penuh harapan, berujung tragedi.

Menurut Kepala Lapas Selong, Ahmad Sihabudin, para petugas baru menyadari ada yang janggal saat apel siang. Mereka menghitung ulang jumlah warga binaan, dan satu nama tidak ada dalam daftar hadir.

“Kami baru sadar saat apel siang. Setelah dihitung, satu orang tidak ada,” ujar Sihabudin, saat ditemui di Lapas Selong, Ahad, 27 April 2025.

Petugas pun bergerak cepat. Mereka menyisir ladang, kebun jagung, hingga semak-semak di sekitar lokasi. Namun, upaya itu nihil, sosok Karianto seperti lenyap ditelan bumi. Kegelisahan merebak di antara para penjaga.

Tak lama berselang, kabar mengejutkan datang dari Dusun Lingkung Lauk, Desa Tetebatu. Seorang warga menemukan tubuh pria tergeletak di pinggir sungai, tangan kiri berlumuran darah, luka menganga di pergelangan.

“Benar, itu warga binaan kami. Kami pastikan setelah pengecekan di RSUD,” kata Sihabudin, membenarkan kabar itu.

Dari Ladang ke Jurang
Foto Jenazah Kariyanto, mengambang di Sungai Lingkung desa Tetebatu

Keterangan polisi membuka rentetan peristiwa yang mengarah pada kematian Karianto. Kasi Humas Polres Lombok Timur, AKP Nikolas Oesman, menjelaskan bahwa korban sempat meninggalkan lokasi asimilasi dan menumpang ojek dari Simpang Tiga Labuan Lombok menuju Desa Tetebatu sekitar pukul 10.00 WITA.

“Sampai di Dusun Lingkung Lauk, korban memarkirkan motornya di rumah Haji Zaeni, lalu berjalan menuju rumah mantan mertuanya, Marni,” kata AKP Nikolas.

Marni yang sedang berada di dalam rumah, mengaku kaget saat melihat bercak darah di dapur dan ruang tengah. Ketika ia keluar mencari asal darah, kabar tentang orang jatuh di jurang belakang rumah langsung beredar di lingkungan sekitar.

Beberapa warga bergegas melakukan pencarian. Mereka menemukan tubuh Karianto dalam keadaan tak bernyawa di tepi sungai, tak jauh dari rumah Marni.

“Berdasarkan pemeriksaan dokter, korban mengalami lebam di pipi kanan, luka di bibir, luka di pinggang, serta luka sayatan pada nadi tangan kiri,” ujar Nikolas.

Dugaan kuat, kematian Karianto disebabkan oleh kehabisan darah akibat luka sayatan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan lain pada tubuh korban. Keluarga pun memilih menolak autopsi, dengan alasan menerima kematian itu sebagai musibah.

“Kami sudah menerima surat pernyataan dari keluarga yang menolak autopsi,” tambah Nikolas.

Program Asimilasi yang Goyah
FOTO: Kalapas Selong Ahmad Sihabudin (kanan) dan Lalu Saefandi (kiri).

Tragedi ini mengguncang kepercayaan pada program asimilasi yang dibanggakan Lapas Selong. Ahmad Sihabudin menyatakan bahwa seluruh warga binaan program SAE telah ditarik kembali ke dalam lapas untuk menghindari insiden serupa.

“Semua warga binaan sudah kami tarik kembali. Kami akan evaluasi menyeluruh,” kata Sihabudin.

Pihak Lapas juga langsung melaporkan insiden ini ke Kanwil Kemenkumham NTB. Evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) dan mekanisme pengawasan menjadi agenda utama mereka dalam waktu dekat.

Dalam pernyataannya, Sihabudin menegaskan bahwa tragedi ini menjadi pukulan telak dan pelajaran berharga. Ia menyebutkan bahwa SOP di lapangan harus diperketat agar kejadian serupa tak terulang.

“Kami berkomitmen memperbaiki semua sistem pengawasan di program SAE,” ucapnya.

Namun pertanyaan tak kunjung reda. Bagaimana bisa seorang warga binaan keluar dari lokasi kerja tanpa deteksi? Apakah pengawasan selama ini sekadar formalitas di atas kertas? Program SAE yang dimaksudkan sebagai jembatan kembali ke masyarakat, kini dinilai membuka lubang baru dalam sistem pemasyarakatan.

Sungai yang Menyimpan Rahasia

Sungai kecil di Lingkung Lauk mengalir tenang, membawa arus yang seolah menyapu pergi segala jejak. Di sana, tubuh Karianto ditemukan, mengakhiri perjalanannya yang singkat dari balik jeruji menuju kebebasan yang tak pernah benar-benar tiba.

Harapan yang tumbuh bersama jagung itu kini terkubur bersama jasad Karianto. Program Sarana Asimilasi dan Edukasi, yang seharusnya menjadi mercusuar perubahan, justru kini menjadi simbol kelalaian.

(Arul/PorosLombok.com)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU