POROSLOMBOK.COM, MATARAM –
Ketua Umum Pengurus besar (PB) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiah (NWDI) TGB Dr TGKH Zaenul Majdi, MA ajak jamaah NWDI NTB, untuk bersama-sama keluar dari zona nyaman untuk wujudkan doa Maulana syeh, TGKH Zaenuddin Abdul Majid. Hal tersebut disampaikanya pada acara peletakan batu pertama pembangunan gedung PB Nwdi Kota Mataram, Rabu (14/09).
Dijelaskanya keluar dari Zona nyaman dalam arti, bersama-sama berikhtiar bagaimana Organisasi NWDI bisa dirasakan manfaatnya untuk semua orang, bukan hanya di NTB saja namun seluruh ummat.
“Makanya kita di NWDI harus mulai berpikir, memahami dakwah itu sebagai suatu kewajiban membangun peradaban yang lebih baik, dan dunia yang lebih baik itu adalah tuntunan agama,” jelasnya.
Ia menegaskan dalam islam itu tidak mengenal istilah dikotomi antara dunia dan akhirat, namun Islam mengenal dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan bahkan dalam satu ungkapan disebutkan ” Bahwa dunia ini adalah sawahnya dan akhirat itu hasil panennya” kerena tanpa sawah tentu tidak ada penen. Sehingga tanpa dunia tidak ada akhirat yang baik.
Karena itu sambung TGB hal tentang isu-isu yang dibicarakan oleh ummat manusia itu juga merupakan isu yang harus difahami di dalam organisasi NWDI.
“Jadi kalau ummat manusia bicara tentang membangun ummat yang baik dan sehat maka itu juga harus menjadi perhatian kita, jika pemimpin negara kita berbicara tentang ekonomi hijau maka kita juga harus faham apa ite ekonomi hijau, dan berpikir bagaimana cara NWDI bekerja untuk mewujudkan itu,” tandasnya.
NWDI merupakan organisasi agama dan dakwah sehingga, dakwah itu terang TGB, hakekatnya menurut ulama adalah bagaimana menghadirkan keindahan islam dalam kehidupan. Sehingga dakwah itu bukan identik dengan ceramah saja, bukan identik dengan suatu momen keagamaan tertentu, namun seluruh aktifitas kehidupan yang mempu memunculkan keindahan islam.
Sehingga lanjut TGB tidak mungkin keindahan Islam itu bisa diwujudkan kalau masih banyak ruang-ruang kehidupan yang kosong dari tuntunan-tuntunan islam.
Atau tidak mampu menerjemahkan apa yang ada di dalam alqur’an dan hadis, serta yang ada di warisan perjuangan maulana untuk mengisi ruang-ruang peradaban manusia
“Ruang itu sangat luas, dan kita bersyukur dalam islam bahwa kalau Aqidah dan ritual ibadah itu azasnya adalah kepastian, maka di ruang muammalah agama memberikan kita keleluasaan,” ungkapnya
Maka dari itu TGB berharap dakwah NWDI harus terus berkembang, baik medium serta bentuknya, bahkan isinya juga harus berkembang, walaupun isi dakwah tersbut adalah warisan sejak sekian puluh tahun. TGB mencontohkan misalnya ritual untuk internal NWDI, seperti Majlis Hizib, doa-doa syafaah
“Jadi kalau dakwah internal ini dimaksudkan agar kita mengerti dan menjaga tradisi yang sudah dibangun oleh Al Magfurlahu maulana syeh, tentu ini merupakan kewajiban kita terhadap Hizib, yang sudah diwariskan namun tentunya bukan hanya untuk dibaca saja, akan tetapi bagaimana nilai-nilai dalam Hizib dapat kita bahasakan, dengan bahasa yang difahami oleh ummat, dengan mengambil nilai -nilainya, lalu kita gunakan untuk mengisi ruang-ruang yang ada,”pintanya.
Demikian pula majelis dakwah Hamzanwadi yang lainnya, ini juga sebagai pengokohan Aqidah, kebiasaan ritual ibadah juga tidak boleh kendor, namun mengisi ruang muammalah juga tidak kalah pentingnya, karena kadang-kadang dalam banyak keadaan ruang muammalah juga bisa mempengaruhi aqidah,
“Nabi berkata, kemiskinan bisa mendekatkan orang dengan kekufuran, jadi ketika ruang muammalah tidak dikelola dengan baik, perekonomian kita tidak bisa mendatangkan kesejahteraan, maka itu bisa menggeser akidah kita,” terangnya
Karena itu TGB harapkan warga NWDI untuk keluar dari zona nyaman namun dalam makna yang luas yakni, berkiprah keluar jangan hanya di NTB saja, walaupun tidak masuk dalam struktur organisasi namun kader-kader NWDI harus tetap berjuang dan bergerak dimana saja membawa nilai-nilai NWDI sesuai pesan sang maulana.
(Arul/ PorosLombok)
















