PorosLombok.com – Arus dukungan terhadap dr H Anjasmoro SpRad untuk menduduki kursi Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Lombok Timur terus mengalir deras dari ratusan tenaga kesehatan, Jumat (29/5/2026).
Dokter spesialis radiologi berprestasi ini dinilai sebagai figur paling ideal untuk menakhodai organisasi profesi medis tersebut. Rekam jejaknya yang bersih di sektor pelayanan publik menjadi magnet utama pengumpulan massa pemilih.
“Beliau sosok yang bijaksana dan memiliki pengalaman luas,” ujar seorang sejawat dokter spesialis yang bertugas di salah satu RS Swasta Lombok Timur yang enggan disebutkan namanya.
Sumber medis tersebut menegaskan bahwa karakter kepemimpinan kandidat sangat adaptif dalam merangkul semua golongan dokter, baik senior maupun junior. Pendekatan persuasifnya dinilai efektif menyatukan persepsi lintas sektor.
Integritas moral yang tinggi membuat sosok ahli radiologi ini mendapatkan tempat khusus di hati masyarakat pemilih. Komitmennya dalam memotong jalur birokrasi pengobatan dinilai menjadi terobosan yang sangat berani.
“Kami yakin beliau mampu membawa IDI menjadi lebih maju,” katanya.
Rekan sejawatnya menambahkan bahwa visi strategis calon ketua fokus pada perlindungan hukum para anggotanya di pelosok desa. Program kerja ini langsung memicu gelombang simpati masif dari para dokter muda.
Aspek kompetensi klinis yang mumpuni juga menjadi alasan kuat di balik meroketnya popularitas sang dokter. Kemampuannya mendeteksi penyakit lewat pemindaian akurat telah menyelamatkan ribuan nyawa pasien kritis.
“Pengembangan sumber daya manusia medis menjadi agenda prioritas utama,” jelasnya.
Ia membeberkan rencana sang dokter untuk memfasilitasi beasiswa lanjutan bagi para praktisi kesehatan lokal. Langkah ini diambil guna mengejar ketertinggalan kualitas penanganan medis antardaerah urban.
Kondisi soliditas internal organisasi kedokteran saat ini membutuhkan sentuhan figur pemersatu yang minim konflik kepentingan. Inovasi pelayanan yang digagasnya diyakini mampu menjawab tantangan disrupsi teknologi digital.
Edukasi preventif ke masyarakat bawah juga gencar ia lakukan lewat pemanfaatan media massa secara berkala. Aksi nyata ini berhasil mendongkrak tingkat literasi kesehatan warga di wilayah pinggiran.
“Kehadiran beliau membawa semangat baru bagi dunia kesehatan daerah,” ujarnya.
Pihaknya optimistis standardisasi pelayanan klinik di pelosok akan meningkat tajam di bawah komando barunya kelak. Kesejahteraan para dokter kontrak di puskesmas terpencil juga masuk dalam poin perjuangannya.
Tahapan verifikasi berkas pencalonan kini tengah berlangsung ketat di tingkat panitia pemilihan distrik. Semua prasyarat administratif dipastikan telah terpenuhi dengan predikat sangat memuaskan tanpa cacat hukum.
“Pencalonan ini menjadi harapan baru bagi kemajuan profesi,” pungkasnya.*















