Lombok Timur, PorosLombok.com
Perubahan musim yang tak menentu di tahun 2023 ini tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan trend kasus penyakit di Lombok Timur, hal tersebut berdasarkan laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan dari seluruh fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama yakni Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Lotim Budiman Satriadi mengatakan masih belum menemukan penyakit mengalami peningkatan kasus. Kendati demikian pihaknya terus melakukan upaya-upaya promotif berkolaborasi dengan Puskesmas.
“kalau kita melihat trend penyakitnya tahun ini sih belum ada peningkatan secara signifkan,”ucapnya, Jumat (11/08).
Budiman menjelaskan, tidak ada kenaikan kasus penyakit di Lombok Timur, mungkin karena fasyankes tingkat Pertama terus melakukan pencegahan, dengan cara turun langsung ke masyarakat baik dengan sosialisasi dan sebagainya.
“Petugas Puskesmas aktif melakukan kegiatan Posyandu baik Posyandu Lansia, anak, dan Posyandu Keluarga, sehingga nanti masyarakat banyak mengetahui bagaimana menjaga kesehatan dan lain sebagainya,” akunya.
Beberapa kasus penyakit yang biasa tinggi peningkatan seperti Pneumonia, isfa, diare mengalami penurun dari tahun sebelumnya, sehingga untuk sementara Lombok Timur boleh dikatakan masih aman dan tidak ada yang berstatus wasfada.
“Mudah-mudahan aman terus namun masyarakat harus tetap menjaga kesehatan dengan cara berolah raga, makan-makanan yang bergizi, dan istirahat yang cukup,” harapnya.
Diakui melihat cuaca saat ini biasanya banyak kasus pnemoni terutama pada balita, yang diakibatkan Lingkungan yang kurang sehat, baik karena debu, asap rokok dan beberapa penyebab lainnya, sehingga ia menghimbau kepada seluruh masyarakat terutama yang mempunyai bayi agar tidak merokok di dalam rumah.
“Kalau punya bayi usahakan jauhkan dari asap, apalagi kontak langsung kasihan nanti anaknya kalau sampai terkena ispa atau pnemoni,” ujarnya.
Lebih jauh sambung Budiman, Dinas Kesehatan dari waktu ke waktu tetap melakukan pemantauan terhadap penyakit-penyakit potensial wabah/KLB melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), dimana pemantauannya dilakukan setiap minggu.
SKDR ini merupakan sistem untuk memantau perkembangan trend suatu penyakit menular dari waktu ke waktu (periode mingguan) dan memberikan sinyal peringatan/alert kepada pengelola program bila kasus tersebut melebihi ambang batasnya sehingga mendorong program utk melakukan respon.
Adapun angka kejadian Diare 5 minggu terakhir terus menurun, seperti minggu ke-23 jumlah 501 kasus dan menurun di minggu 31 ini menjadi 408 kasus. Sedangkan DBD ada 16 kasus di minggu ke-21 menjadi 8 kasus di minggu ke-31. bulan agustus 2023 ini.
“Yang sedikit meningkat saat ini adalah gigitan hewan penular rabies (GHPR) yaitu anjing, kelelawar, kucing dan kera. Catatan di kami korban gigitan anjing di minggu ke-27 sebanyak 1 kasus menjadi 4 kasus di minggu 31 ini,” pungkasnya.
(Arul/ poroslombok)
















