LOTIM, Poroslombok.com – Akses jalan Gunung Sepang, Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong, Lombok Timur rusak parah dan tak kunjung diperbaiki. Hal tersebut mengundang reaksi masyarakat setempat yang berujung pada penyekatan jalan dan aksi tanam pisang pada hari selasa 1 juni 2021 lalu.
“Ini (penanaman pisang, red) sebagai bentuk protes kami, karena kondisi jalan sudah rusak parah,” kata Satria Wadi, Ketua Karang Taruna Kelurahan Denggen, dikutip dari Wartasamalas.com.
Atas kejadian tersebut, Pemerintah Kelurahan (Pemkel) Denggen, pihak Kecamatan Selong beserta Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Lotim merespon cepat dengan mengundang tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta seluruh unsur masyarakat setempat dalam sebuah acara silaturrahmi yang bertempat di Masjid Baitul Ma’mur, Gunung Sepang Lauk, Kelurahan Denggen, pada jum’at (4/6/21).
Acara silaturrahmi tersebut dilaksanakan usai melaksanakan acara shalat jum’at bersama. Adapun acara silaturrahmi tersebut dihajatkan untuk memberikan klarifikasi, penjelasan, dan pemahaman kepada seluruh masyarakat setempat terkait status jalan Gunung Sepang-Dasan Gedang yang sudah masuk dalam skala prioritas tahun ini.
Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga, Lalu Kurnia Darmawan, ST, dalam pemaparannya menyampaikan, ruas jalan Gunung Sepang-Dasan Gedang yang panjangnya 1.4 kilo meter tersebut sudah masuk dalam RAB (Rencana Anggaran Biaya) pada tahun 2021 ini, dengan perkiraan biaya anggaran sebesar 2.5 sampai 3 milyar rupiah yang dialokasikan dari Dana Alokasi Khusus (DAK)
“Sebenarnya, ruas jalan Gunung Sepang-Dasan Gedang ini, sudah masuk dalam drap usulan tahun 2020 lalu. Namun karna saat itu terjadi pandemi covid-19 yang melanda seluruh wilayah bahkan seluruh dunia, sehingga semua usulan ruas jalan yang ada di Lotim batal dilaksanakan, baik yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus,(anggaran pusat), maupun yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (anggaran daerah),”papar Miq Awan, sapaan karib Lalu Kurnia Darmawan.
Saat ini, ucap Miq Awan melanjutkan, dimana pihaknya sudah menyiapkan proses pelelangan, dimana pada pertengahan bulan ini akan diserahkan ke ULPBJ (Unit Lembaga Pengadaan Barang dan Jasa) sebagai leading sector yang membidangi itu.
“Jadi, ada tahapan-tahapan proses yang kita lalui. Mulai dari proses tender yang insyaallah pertengahan bulan ini kita serahkan ke ULPBJ. Nantinya, proses tender ini akan memakan waktu kurang lebih selama 24 hari. Setelah pemenang tender sudah bisa ditentukan oleh ULP, barulah kita bisa mulai pengerjaan pisiknya,”imbuhnya menjelaskan.
Lebih lanjut, Miq Awan mengatakan, bahwa tidak perlu ada keraguan (kepada pemerintah daerah-red) terkait dengan pembangunan pada ruas jalan tersebut. Sebab menurut dia lagi, ruas jalan tersebut sudah diundangkan oleh Bupati (perbup) dan RABnya pun sudah jelas. Sehingga pengerjaan pisik hanya perlu menunggu proses pelelangan tender.
“Insyaallah pada akhir bulan juli, atau selambat-lambatnya pada awal bulan agustus nanti pengerjaan pisik di ruas jalan Gunung Sepang ini sudah kita mulai,”ujarnya meyakinkan.
Pada kesempatan ini, mantan Kepala Bidang Rekonstruksi dan Rekonsiliasi ini juga menyinggung tentang adanya selintingan issue yang beredar ditengah-tengah masyarakat, bahwa program pekerjaan ruas jalan tersebut dialihkan ke tempat/ruas jalan lain. Menurut Miq Awan, bahwa issue tersebut sama sekali tidak benar dan tidak mendasar.
“Jadi tidak benar kalo program pengerjaan ruas jalan di sini dipindahkan ke posisi ruas jalan lain. Kalo dia sudah masuk ke dalam DPA, maka tidak akan ada yang bisa merubah itu. Karnanya, pada tahun ini dan bahkan dalam waktu dekat ini akan segera dikerjakan,”ujarnya menandaskan.
Miq Awan juga merinci, dimana pada tahun ini kurang lebih ada 34 ruas jalan yang akan dikerjakan, termasuk 2 buah jembatan, yakni jembatan Denggen Timur dan Jembatan Gereneng Timur. Oleh sebab itu, dirinya berharap akan kesabaran serta dukungan dari masyarakat kepada Pemerintah Daerah, agar segala proses dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Salah seorang pemuda setempat yang berkesempatan diwawancarai jurnalis poroslombok usai acara, yakni Muhammad Irpan, dirinya mengaku belum merasa puas atas apa yang disampaikan oleh Kabid Bina Marga tadi. Karna menurut dia harapannya adalah acara tersebut dapat dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, sehingga dirinya dan yang lain dapat menyampaikan segala unek-uneknya.
“Seharusnya tadi dibuka sesi tanya jawab. Dan sebenarnya tadi kami menginginkan adanya nota kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Sehingga masyarakat punya pegangan dan punya acuan untuk menuntut ketika janji itu tidak terlaksana. Karna selama ini cuma wacana-wacana dan wacana terus,” ujar Muhammad Irpan, dengan nada sedikit kecewa.
Tak hanya menginginkan untuk dibuka sesi tanya jawab dan menandatangani nota kesepahaman, Muhammad Irpan juga seyogyanya berharap agar pihak terkait, dalam hal ini pihak Bina Marga dapat memperlihatkan Dokumen DPA dari pelaksanaan jalan tersebut. Menurutnya, ia beserta pemuda yang lainnya akan merasa puas jika sudah diperlihatkan DPAnya.
Sementara itu di tempat sama, Lurah Denggen, Parjono, S.Sos, cukup menyesalkan adanya kejadian aksi yang menurutnya dilakukan oleh segelintir pemuda dan beberapa orang tua yang menurutnya terjadi disebabkan hanya karna mis komunikasi saja.
“Sebenarnya ini sebuah penyesalan kami kepada ulah daripada anak-anak muda kami, dan sebagian mungkin ada dari orang tua, karna pada saat kami mengadakan pertemuan dengan pak Kabid Bina Marga, itu sebetulnya sudah jelas. Jadi apa yang terjadi pada hari ini, itu yang terjadi pada malam senin beberapa hari yang lalu,”ucap Parjono.
Parjono menuturkan, pada hari minggu yang lalu dirinya ditelpon oleh Kabid Bina Marga guna mengumpulkan seluruh elemen masyarakat setempat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda bahkan tokoh wanita jika ada, untuk dikumpulkan di Mushalla Asafiah Gunung Sepang guna diberikan klarifikasi dan penjelasan terkait akan segera dikerjakannya jalan tersebut.
“Waktu itu kami sudah sampaikan undangan secara door to door dan dari mulut ke mulut, bahkan kami juga sudah melakukan penjemputan. Tetapi pada waktu itu ada beberapa tokoh yang tidak bisa hadir karna kurang sehat. Tetapi yang hadir pada waktu itu mengatakan, walaupun yang hadir sedikit tapi insyaallah sudah mewakili, karna itulah pertemuan kami lanjutkan,”tutur Parjono.
Nyatanya, ketidakhadiran sebagian orang pada malam itu telah menyebabkan terjadinya mis komunikasi terhadap sebagian pemuda dan masyarakat yang berbuntut pada aksi penanaman pohon pisang di ruas jalan desa setempat, dan itu cukup disesalkan oleh sang Lurah sebagai orang yang bertanggungjawab di wilayah pemerintahannya.
“Hari selasa itu kan ada jeda, sehingga mungkin itu yang menyebabkan terputusnya komunikasi, padahal komunikasi itu cukup penting buat mereka,”ucapnya.
Disinggung masalah tuntutan pemuda yang menginginkan adanya nota kesepakatan yang harus ditandatangani oleh kedua belah pihak, serta permintaan untuk diperlihatkan DPA dari pekerjaan jalan tersebut, Lurah Parjono menjawab normatif, ia mengatakan bahwa segala sesuatunya harus difahami secara birokrasi.
“Jadi dalam sebuah proses, ketika kegiatan pemerintah sudah disampaikan seperti itu, ya karna kami juga orang birokrasi jadi harus juga memahami seperti itu. Nah apa lagi yang masih menjadi tuntutan?, karna di DPAnya sudah jelas, siapa sebagai kuasa anggaran sudah jelas, kemudian pak kabid juga sebagai pejabat pembuat komitmen, bahkan pada pertemuan malam itu pak kabid langsung mengumpulkan PPTKnya juga, dan tadi juga pak kabid sudah menyampaikan bahwa tuntutan masyarakat di sini akan dikerjakan pertama. Nah ini kan sudah luar biasa,” ucap Parjono bersemangat.
Karnanya, menurut dia, tidak diperlukan lagi adanya penandatanganan nota kesepahaman maupun yang lainnya. Ia juga menegaskan bahwa segala sesuatunya sudah sangat jelas dan terang benderang. Menurut dia lagi, bahwa tidak semua dokumen rahasia negara boleh diketahui oleh semua orang.
“Yang dikhawatirkan, ketika itu diperlihatkan akan menjadi konsumsi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, nah kita yang orang birokrat memahami itu, yang penting malam itu kami sudah diperlihatkan,”ungkapnya, sembari menambahkan bahwa ruas jalan Gunung Sepang ada pada urutan nomor 4 (empat) dari 34 ruas jalan yang akan dikerjakan tahun ini.
Karnanya, untuk meyakinkan dan memberikan rasa puas kepada masyarakat dan pemuda Gunung Sepang, lurah Parjono menegaskan bahwa dirinya dan jabatan Lurah yang melekat pada dirinya siap dia jadikan sebagai jaminan jika pengerjaan ruas jalan Gunung Sepang-Dasan Gedang tidak terlaksana seperti yang dijanjikan.
“Ini harus saya sampaikan, hanya kondisi yang luar biasa (force majeure) yang disebabkan karna bencana dan penyebab luar biasa lainnya yang bisa menyebabkan ini gagal. Karnanya sampaikan, jika sampai ini tertunda atau gagal, jabatan saya sebagai lurah adalah sebagai taruhannya,”pungkas Parjono.(ns)

















