Lombok Timur, PorosLombok.com – Suara ceria anak-anak terdengar di tepi jalan Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra, Selasa (12/12/2023) sore. Mereka tampak antusias, berbaris rapi menunggu giliran untuk mendapatkan jajanan dari seorang pria bertopi lusuh yang berdiri di samping motornya.
Di atas motor itu, ia sibuk menggoreng adonan sempol, jajanan tradisional berbentuk sate kecil yang akrab di lidah masyarakat.
Pria itu adalah Hafizin (32), seorang tenaga honorer asal Pancoran, Desa Rumbuk. Lima bulan terakhir, Hafizin memutuskan untuk menambah penghasilan dengan berjualan sempol keliling. Langkah ini diambilnya demi mencukupi kebutuhan keluarga di tengah keterbatasan gaji sebagai tenaga honorer.
“Jualan sempol ini hasilnya lebih nyata dan saya merasa lebih santai,” ujar Hafizin sambil tersenyum, menyerahkan sempol panas kepada salah satu pembeli kecilnya.
Hafizin bukan orang baru di dunia kerja. Selama 12 tahun, ia telah mengabdikan diri sebagai tenaga honorer di salah satu instansi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Namun, gajinya sebagai honorer yang hanya Rp500 ribu per bulan terasa sangat tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Beberapa waktu lalu, Hafizin sempat mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ia berharap bisa mengamankan posisi dengan pendapatan yang lebih stabil. Sayangnya, ia harus menerima kenyataan pahit tidak lolos seleksi tersebut.
“Saya kecewa, tapi saya tidak boleh menyerah. Saya harus tetap mencari jalan lain untuk menafkahi keluarga saya,” tuturnya penuh keyakinan.
Dari kegagalan itu, Hafizin mulai memutar otak untuk mencari peluang usaha. Sejak dulu, ia memang bercita-cita menjadi seorang pedagang. “Makanya saya coba jualan sempol. Alhamdulillah, hasilnya luar biasa,” tambahnya.
Hasilnya tidak main-main. Dalam sehari, Hafizin bisa meraup omzet hingga Rp850 ribu dengan keuntungan bersih sekitar Rp500 ribu. Bahkan, dalam waktu dua minggu pertama berjualan, ia sudah mampu membeli motor baru dari hasil usahanya.
Setiap hari, Hafizin berjualan sepulang kerja. Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, ia sudah siap dengan motor dan peralatan masaknya. Ia berkeliling hingga malam hari, memastikan semua sempol dagangannya ludes terjual.
“Letih itu ibadah. Meski pekerjaan ini kadang dipandang sebelah mata, bagi saya ini pekerjaan mulia. Yang penting, anak istri saya bisa tersenyum di rumah,” ucapnya penuh syukur.
Sempol yang dijual Hafizin adalah jajanan tradisional yang terbuat dari campuran tepung tapioka, tepung terigu, dan telur. Setelah digoreng, sempol disajikan dengan bumbu khas yang membuat rasanya semakin menggugah selera.
Jajanan ini cukup populer di kalangan masyarakat sebagai camilan ringan yang murah meriah. Namun, bagi Hafizin, sempol bukan hanya makanan, melainkan berkah yang mengubah hidupnya. Dari penghasilan sebagai honorer yang pas-pasan, kini ia mampu menghidupi keluarganya dengan lebih baik.
Kisah Hafizin adalah bukti nyata dari firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Dengan kerja keras dan keyakinan, Hafizin berhasil membuktikan bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tidak terduga.
(Arul/PorosLombok)


















