(Lombok Timur, PorosLombok.com)– Di pinggir jalan desa Kesik, Kecamatan Masbagik, terdapat sebuah lapak sederhana yang menjadi saksi perjuangan hidup Samsul. Setiap hari, saat matahari mulai meredup, sekitar pukul 17.00, Samsul memulai perjalanan dari rumahnya di Montong Gading menuju lapaknya dengan semangat yang tak pernah pudar. Jalanan yang dilalui berdebu dan penuh dengan suara kendaraan menjadi saksi bisu dari ketekunan seorang ayah yang berjuang demi masa depan keluarganya.
Lapak kecil yang disewanya seharga Rp200 ribu per bulan ini terletak di sisi jalan yang ramai, tempat di mana lalu lintas kendaraan dan aktivitas warga seakan tidak pernah berhenti. Meskipun lapak tersebut sederhana, suasana sore hari di desa Kesik menjadi hidup dengan aroma gorengan yang menggugah selera. Samsul membuka dagangannya setiap hari dari pukul 17.00 hingga 22.00, saat cahaya matahari mulai memudar dan suasana berubah menjadi pemandangan malam yang semarak.
Modal harian sebesar Rp400 ribu sering kali tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh. Samsul hanya mampu meraup sekitar Rp200 ribu setiap harinya. Namun, angka tersebut tidak membuatnya gentar. “Saya berjualan bukan hanya untuk mencari nafkah, tetapi juga untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Setiap gorengan yang saya jual adalah wujud dari doa dan usaha saya untuk mereka,” ungkap Samsul dengan penuh keyakinan, matanya berbinar dengan tekad.
Meskipun keuntungannya terkadang tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, semangat Samsul tetap membara. Setiap hari, ia berdoa agar usahanya ini menjadi bentuk ibadah dan mendapatkan berkah. “Setiap tetes keringat yang saya keluarkan adalah untuk masa depan anak-anak saya,” tambahnya, menekankan betapa berartinya usaha ini baginya.
Kehidupan Malam di Lapak Sederhana
Di balik kesederhanaan lapaknya, ada cerita yang mendalam. Di tengah hiruk-pikuk jalanan, lapak ini menjadi oasis bagi mereka yang mencari camilan lezat. Meskipun tampak kecil, lapak ini selalu ramai dikunjungi pembeli. Aroma gorengan yang menggugah selera seakan menari di udara, menarik perhatian para pembeli yang melintas.
Suasana di sekitar lapak sangat hidup. Lampu-lampu kendaraan menyala, suara klakson bersahutan, dan obrolan warga mengisi malam. Dalam keramaian tersebut, Samsul berdiri teguh di belakang meja kecilnya, memegang sendok dan spatula, dengan senyum ramah yang tak pernah pudar. Keberadaannya di sini tidak hanya memberi makanan, tetapi juga memberi semangat bagi banyak orang yang melihat dedikasinya.
Samsul menceritakan betapa sulitnya menyeimbangkan antara modal dan pendapatan. Namun, tantangan tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan penuh ketulusan akan membuahkan hasil. “Walaupun terkadang hasilnya tidak sesuai harapan, saya tetap berusaha keras karena saya percaya ini adalah jalan terbaik untuk keluarga saya,” ujarnya dengan nada penuh harapan.
Kehidupan Samsul tidak selalu mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari cuaca buruk hingga persaingan bisnis yang ketat. Namun, semua itu tidak menghentikan langkahnya. “Kadang cuaca hujan membuat lapak menjadi sepi, tapi saya tetap bertahan. Saya tidak bisa menyerah karena keluarga saya membutuhkan saya,” jelasnya, menunjukkan betapa kuatnya tekadnya.
Saat malam semakin larut, sekitar pukul 22.00, suasana di sekitar lapak mulai tenang. Namun, bagi Samsul, kesibukan tidak pernah berhenti. Ia terus melayani pelanggan dengan penuh perhatian, menggoreng setiap bahan dengan kesempurnaan. Setiap gorengan yang dihasilkan adalah bentuk kasih sayangnya yang dituangkan dalam setiap usaha.
Para pelanggan datang dan pergi, tetapi keberadaan Samsul di lapak ini menjadi bagian penting dari rutinitas malam mereka. Banyak yang datang bukan hanya untuk membeli makanan, tetapi juga untuk menikmati keramahan dan ketulusan yang ditawarkan oleh Samsul. “Saya merasa senang ketika pelanggan datang kembali dan menyapa. Itu membuat saya merasa dihargai,” katanya dengan penuh rasa syukur.
Di balik ketekunan dan kesederhanaannya, Samsul menyimpan harapan besar untuk masa depan. Ia berdoa agar usahanya bisa terus berkembang dan membawa keberkahan. “Saya hanya ingin usaha ini bisa memberikan lebih banyak manfaat bagi keluarga saya dan masyarakat sekitar,” harapnya dengan penuh doa.
Setiap malam, setelah lapaknya tutup, sekitar pukul 22.30, Samsul pulang ke rumah dengan rasa lega. Meski lelah, ia merasa puas karena telah berusaha sebaik mungkin. Ia tahu bahwa setiap gorengan yang dijualnya bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol dari usaha dan cinta yang ia berikan untuk keluarganya.
Kisah Samsul adalah contoh nyata dari keteguhan dan dedikasi. Di tengah kesulitan dan tantangan, ia tetap berdiri teguh, memberikan yang terbaik untuk keluarga dan masyarakat. Keberadaannya di pinggir jalan desa Kesik menjadi inspirasi bagi banyak orang yang melihat betapa besar tekad seorang pedagang kecil dalam menjalani kehidupan.
“Saya akan terus berjuang demi keluarga saya. Semoga usaha ini bisa menjadi berkah dan memberikan kebahagiaan bagi mereka,” tutup Samsul dengan senyum penuh harapan. Di balik setiap gorengan yang dijualnya, terdapat sebuah cerita tentang cinta, usaha, dan keteguhan yang patut dicontoh.
(Arul/PorosLombok)














