Lombok Timur Melawan Stunting dengan Pangan Lokal

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memperkuat kolaborasi lintas sektor dan mengoptimalkan 171 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna menekan angka stunting melalui program pangan lokal

(PorosLombok.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menabuh genderang perang terhadap masalah gizi kronis dengan mengandalkan potensi alam sendiri.

Langkah strategis ini mengemuka dalam talkshow bertajuk “Pangan Lokal, Gizi Optimal, Sehat dari Bumi” di Ballroom Kantor Bupati, Selasa (27/1).

​Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas sumber daya manusia ke depan.

“Kami memberikan ruang kolaborasi seluas mungkin bagi mitra yang ingin membantu penanganan isu sosial ini,” ucapnya.

​Melalui Bappeda, otoritas setempat memastikan sinergi dengan berbagai lembaga non-pemerintah (NGO) terus dibuka lebar demi mempercepat penurunan angka gagal tumbuh.

“Pemerintah Daerah mengapresiasi kerja sama yang terbangun dalam menjaga kualitas sumber daya manusia,” katanya.

​Fokus utama pemerintah saat ini adalah mengawal program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar mampu menyasar kelompok rentan secara tepat.

“Persagi berperan penting membekali ahli gizi agar memperhatikan penyajian gizi seimbang bagi ibu hamil, menyusui, dan balita,” jelasnya.

​Saat ini tercatat sebanyak 213 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah disiapkan, dengan 171 unit di antaranya sudah beroperasi aktif di lapangan.

“Diharapkan pelaksanaan MBG dapat mendukung upaya penurunan stunting di daerah ini,” harapnya.

​Tantangan kesehatan di Bumi Patuh Karya memang masih cukup berat mengingat dinamika data kasus yang terus bergerak setiap bulannya.

“Berdasarkan data terakhir, angka stunting Lombok Timur pada Desember 2025 berada pada posisi 22,39 persen,” paparnya.

​Pemerintah daerah memberikan perhatian khusus pada munculnya temuan kasus baru yang terdeteksi pada awal tahun berjalan ini.

“Tercatat pada Januari 2026 terdapat kasus baru sebesar 0,8 persen atau sebanyak 545 kasus,” tuturnya.

​Sementara itu, Manager Wahana Visi Indonesia (WVI) Sidik Lando menilai Bumi Gora memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah untuk menunjang kesehatan anak.

“Pentingnya penguatan komitmen bersama untuk mewujudkan anak-anak yang sehat,” terangnya.

​Sinergi antara Pemkab Lotim, Lombok Utara, dan para ahli gizi dianggap sebagai bukti nyata kolaborasi dalam menciptakan generasi berkualitas.

“Lombok memiliki sumber daya alam melimpah yang dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pangan lokal,” katanya.

​Kemandirian pangan menjadi salah satu fokus utama dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Sehat dimulai dari diri kita, sehat dari bumi kita,” jelasnya.

​Diskusi edukatif ini menghadirkan narasumber kredibel, salah satunya dr. Tan Shot Yen, guna memberikan pemahaman mendalam mengenai pola konsumsi berbasis bahan tradisional.

“Pemanfaatan pangan lokal menjadi upaya pencegahan stunting sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

​Para kader kesehatan dan tenaga medis diharapkan menjadi garda terdepan dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat mengenai pentingnya asupan nutrisi lokal.

“Kami mengapresiasi para kader dan tenaga kesehatan yang selama ini berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU