Lombok Timur, PorosLombok.com – Masjid Sikur yang terletak di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, menyuguhkan sesuatu yang lebih dari sekadar tempat salat.
Masjid yang berdiri di samping rumah pribadi Bupati Lotim, H. Haerul Warisin alias H. Iron, ini dikenal sebagai titik singgah favorit para musafir yang melintas di jalan provinsi tersebut.
Bukan hanya karena letaknya yang strategis, tetapi karena keramahannya yang nyata. Di masjid ini, siapa pun bebas menikmati nasi dan kopi gratis yang disediakan warga setempat setiap hari.
“Silakan langsung duduk di berugak. Nasinya sudah tersedia, tinggal ambil,” kata salah satu pengurus masjid kepada PorosLombok.com, Kamis (22/5).
Penyajian makanan di sini unik dan penuh kehangatan. Beberapa piring besar berisi nasi dan lauk pauk diletakkan berjajar rapi di berugak, bukan di meja prasmanan. Wadah dan gelas tersedia di samping, tinggal diambil seperlunya oleh tamu yang datang.
Mereka yang singgah bisa langsung duduk lesehan, menyantap makanan dengan santai sambil berbincang dengan warga sekitar. Tak ada protokol. Tak ada syarat. Hanya keramahan khas kampung yang terasa mengalir.
“Kadang kami ngobrol sampai lupa waktu. Mereka cerita asal-usul, perjalanan, dan kami dengar dengan senang hati,” ucap salah seorang warga yang kerap menyambut tamu di masjid tersebut.
Suasana di berugak terasa hidup. Musafir dari berbagai daerah melepas lelah, menyeruput kopi panas, dan tersenyum saat disapa. Seolah semua orang di sana sudah lama saling kenal.
Hadi, pedagang sarung keliling dari Pringgabaya, mengaku selalu menyempatkan diri singgah di masjid ini tiap kali melintas. Baginya, tempat ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi rumah persinggahan yang membuatnya merasa diterima.
“Serasa pulang kampung. Bisa makan, ngopi, dan istirahat tanpa khawatir apa-apa,” ujar Hadi sambil menyendok nasi ke piringnya.
Ia mengatakan, di banyak masjid lain, tamu seperti dirinya hanya bisa salat lalu pergi. Tapi di Sikur, para pelintas diberi ruang untuk bernapas sejenak, bahkan menyerap suasana hangat layaknya di rumah sendiri.
“Yang beginian langka sekarang. Tempat istirahat gratis dengan rasa kekeluargaan,” katanya sambil menyiapkan dagangannya lagi.
Tradisi berbagi ini sudah berlangsung lama dan tumbuh secara alami. Makanan disediakan bergilir oleh warga sekitar, tanpa proposal, tanpa nama-nama donatur.
Menurut pengurus, tiap rumah punya jadwal masak dan menyuplai nasi ke masjid. Mereka membawa dari dapur masing-masing dan langsung menatanya di berugak.
“Ini dari warga, untuk musafir. Nggak ada yang disuruh. Semua jalan sendiri karena sudah jadi kebiasaan,” ujar tokoh masyarakat setempat.
Masjid Sikur membuktikan bahwa rumah ibadah bisa menjadi lebih dari sekadar tempat ritual. Ia adalah ruang sosial yang menyambung silaturahmi dan memberi makna kemanusiaan lewat sepiring nasi dan secangkir kopi.
Bagi para musafir yang pernah singgah, masjid ini akan selalu dikenang bukan karena kemegahannya, tetapi karena kehangatan yang melekat seperti rumah sendiri.
(arul/PorosLombok)
















