(PorosLombok.com) – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bareng Mele Masbagik Utara Baru, Kecamatan Masbagik Lombok Timur, membuktikan program ketahanan pangan desa bukan sekadar wacana.
Panen perdana budidaya ikan air tawar menghasilkan hampir dua ton ikan dari satu kolam, dengan omzet kotor mencapai sekitar Rp60 juta. Pada Senin (30/12/2025).
Namun di balik hasil melimpah itu, ikan produksi desa justru belum terserap oleh dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berada di wilayah setempat.
Kepala Desa Masbagik Utara Baru, Khaerul Ihsan, SH.MH mengatakan panen perdana ini dicapai setelah masa pemeliharaan selama tiga bulan. Hasil tersebut menjadi penanda bahwa potensi utama desa di sektor perikanan air tawar benar-benar menjanjikan.
“Alhamdulillah, dari satu kolam saja hasilnya hampir dua ton. Ini panen perdana dan hasilnya sangat memuaskan,” kata Hairul.
Menurutnya, ketahanan pangan yang dikelola BUMDes kini tidak lagi berbicara dalam hitungan kuintal, melainkan ton. Sebagian hasil panen bahkan sudah mampu memasok sejumlah rumah makan di wilayah Masbagik, dengan pangsa pasar yang relatif jelas.
Namun demikian, Hairul mengaku menyayangkan belum adanya serapan dari dapur MBG. Padahal, dari sisi kualitas dan ketersediaan, ikan hasil budidaya BUMDes dinilai layak dan siap memenuhi kebutuhan dapur program nasional tersebut.
“Yang disayangkan, sampai sekarang dapur MBG belum mengambil ikan dari kami. Ini bukan soal besar kecilnya ikan, tapi soal kemanfaatannya bagi masyarakat desa sendiri,” ujarnya.
Ia menyebutkan, selama ini dapur MBG lebih memilih pasokan ikan dari luar wilayah. Kondisi itu dinilai berbanding terbalik dengan semangat pemberdayaan potensi lokal yang selama ini digaungkan.
Dari sisi permodalan, usaha budidaya ikan air tawar ini dibiayai dari Dana Desa melalui alokasi program ketahanan pangan. Sekitar 20 persen Dana Desa digunakan pada tahap awal, dengan nilai kurang lebih Rp245 juta, termasuk untuk penggalian kolam menggunakan alat berat.
“Untuk satu kolam, omzet kotor sudah di kisaran Rp60 jutaan. Itu belum dipotong biaya pakan, tenaga kerja, dan operasional lainnya,” jelas Khaerul
Ia menambahkan, setelah seluruh biaya dihitung, hasil pengelolaan BUMDes akan dibagi sesuai skema yang telah ditetapkan, dengan sekitar 20 persen keuntungan bersih masuk ke kas desa.
Ke depan, pemerintah desa berencana memperluas skala budidaya ikan air tawar melalui BUMDes. Hairul berharap dapur MBG ke depan bisa melirik produksi lokal agar tercipta kolaborasi yang memberi dampak langsung bagi ekonomi desa.
“Kalau bisa dipenuhi dari desa sendiri, kenapa harus ambil dari luar. Ini yang kami harapkan bisa berubah ke depan,” tegasnya.
(arul/PorosLombok)














