Pemkab Lotim Pertahanankan Juara 1 Konvergensi Pencegahan Stunting Tingkat Kabupaten

Lotim| POROSLOMBOK –

Pemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali meraih juara penilaian kinerja tingkat kabupaten dalam pelaksanaan aksi Konvergensi Pencegahan Stunting Tahun 2021 yang di selenggarakan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Kita berhasil mempertahankan juara selama pelaksanaan aksi Konvergensi Pencegahan Stunting, yang dilaksanakan dari tahun 2019 lalau dan sekarang kita juara pertama (1),” kata Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Khaerul Fathi, Senn (27/12/21).

Ia menyebutkan, pada tahun 2019 dan 2020 Pemkab Lotim hanya mampu meraih juara ke 2. Yang sebelumnya pada tahun 2019 di raih oleh Kabupaten Sumbawa dan Tahun 2020 Kabupaten Bima.

Adapun idikator keberhasilan Pemkab Lotim meraih juara 1 tidak lepas dari kerjasama 20 OPD yang semuanya bergerak termasuk Ibu-ibu PKK serta Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa yang terlibat dalam mencegah angka stunting. Terbukti dari tahun 2018 lalu angka Stunting di Lotim berada di angka 43,8 persen dan sekarang hanya 18 persen lebih .

“Artinya posisi angka Stunting di Lotim dalam kurun waktu tiga tahun bisa menurun 24 persen lebih dan penurunan dalam pertahunnya juga rata-rata diatas 5 persen,” Jelas Khaerul.

Hal ini kata dia berkat Komitmen pemerintah daerah yang telah memprogramkan penurunan angka Stunting. Sehingga apa yang diharapkan Bupati terhadap penurunan angka Stunting sudah bisa terlihat.

Peran Bappeda dalam penurunan angka Stunting yaitu sebagai konvergensi penurunan Stunting yang di jalankan oleh instansi terkait terhadap prioritas sasaran yang direncanakan dalam program . Di mana setiap hari pihak Bappeda memantau sejauh mana laporan pengisian master analisa situasi (Ansit) oleh instansi terkait.

“Kita menggunakan master Ansit yang setiap saat bisa melihat progres kegiatan yang di jalankan oleh instansi. Jika ada instansi yang lambat dalam mengisi master Ansit, kita langsung ingatkan untuk mengisinya, sebab kalau dibiarkan akan menjadi berkembang,” Jelas Khaerul.

Selama ini lanjut Khaerul, faktor yang menyebabkan anak Stunting banyak berada di desa disebabkan ketidak tahuan orang tua terhadap mengkonsumsi makanan bergizi mulai dari Ibu hamil, melahirkan dan usia balita. Sedangkan faktor lainnya yaitu keminskinan. Kalau di persenatasikan ketidak tahuan masyarakat lebih tinggi dari faktor kemiskinan yaitu 65 persen : 35 persen. (redaksi/PL).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU