LOMBOK TIMUR – Road to FESyar (Festival Ekonomi Syariah) yang digagas Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kabupaten Lombok Timur, digelar di salah satu homestay di Desa Kembang Kuning, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, Rabu (30/6).
Sebanyak 50 takmir se Kabupaten Lombok Timur mengikuti pelatihan yang bertajuk, Membangun Wirausaha Syariah Berbasis Masjid melalui Program Lombok Timur Berkembang. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari mulai tanggal 28-30 Juni.
Supiandi, SE, Msc, perwakilan pejabat Bank Indonesia (BI) Mataram, NTB mengaku sangat antusias dengan langkah yang diambil Pemkab Lombok Timur melalui program Lombok Timur Berkembang.
Program tersebut kata Supiandi, menjadi rule model bagi pengembangan ekonomi syariah ditingkat nasional. Dalam pelaksanaannya, MES menjadi basis utama dalam pemberdayaan ekonomi ummat dimasjid-masjid.
“FESyariah di NTB bisa menjadi rule model bagi pengembangan ekonomi syariah. program ini dimulai dari masjid. Harapan kami nantinya ketika ada pemberdayaan ekonomi ummat, maka ada kegiatan ummat dimasjid,” ujar Supiandi saat menutup pelatihan takmir tersebut.
Diakuinya, untuk membangun sistem ekonomi syariah, tidak semudah yang dibayangkan oleh banyak para ilmuan dan konseptor. Justru yang terjadi mereka malah mengembangkan ekonomi Syariah tetapi terlalu jauh dari yang diharapkan.
Supiandi lalu menceritakan pengalamannya disalah satu masjid di Lombok Timur. Saat ia hendak ke masjid, malah tempat ibadah itu digembok.
Baginya, rumah ibadah tersebut tidak boleh sepi dari aktifitas ummat. Karenanya, ada komitmen yang kuat dibangun oleh MES Lotim dalam membangkitkan ekonomi ummat melalui masjid-masjid.
Sementara itu, Sekda Lombok Timur diwakili Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Lombok Timur, Miftahul Wasli, SE, M.Si menegaskan bahwa program yang digagas MES Lotim ini bisa menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga lainnya.
Banyak kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah melalui Organisasi Perangkat Daetah (OPD), tetapi belum ada yang menyasar kepada takmir masjid.
“Kami yakin pendekatan ekonomi berbasis syariah seperti ini dengan ilmu-ilmu yang sudah diterima peserta menjadi penuntun kita didalam pengelolaan usaha masing-masing,” pinta Miftahul Wasli saat menutup kegiatan pelatihan takmir tersebut.
Pengelolaan ekonomi berbasis syariah ini kata Miftahul Wasli, pastinya akan lebih terarah, efektif dan efisien dengan mengedepankan kaidah-kaidah syariah.
Dia menyebutkan bahwa MES yang terintegrasi dengan program Lotim Berkembang berbeda polanya dibandingkan dari bantuan lainnya pada umumnya.
Beda yang di Programkan loyim berkembang dan sekarang mendapat respon dari MES bahkan diberikan bantuan tapi dalam bentuk berbeda.
Bukan dalam bentuk uang ataupun dalam bentuk paket sembako. Tetapi membantu memfasilitasi masyarakat menghubungkan dengan lembaga keuangan untuk mendapatkan modal.
Namun, kewajiban lainnya ditanggung oleh Pemda. Antara lain ada subsidi bunga dan subsidi asuransi.
Sejalan dengan program ini papar Miftahul, maka dibentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang akan menghubungkan masyarakat untuk diberikan bantuan dengan lembaga keuangan. Sehingga masyarakat menyiapkan dalam bentuk berbeda.
Karena polanya seperti itu, pihak penerima bantuan dituntut untuk berhati-hati dan mengelola usahanya dengan baik. Karena kewajiban lanjutan untuk menyelesaikan pinjaman modal. Meskipun hanya pokoknya yang diselesaikan.
“Apa yang dilakukan MES, sebagian dari tugas kami di Bappeda Lotim sudah dilaksanakan oleh MES Lotim,” ujarnya.
Lebih jauh dijelaskannya, program ini betul-betuk memperhatikan derap langkah Pemda Lotim dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Dan untuk saat ini sudah memasuki tahun kedua dan berjalan lancar.
Meski diakui, sasaran awal program tersebut kepada petani peternak. Seiring berjalannya waktu diharapkan pula lebih berkembang lagi pada aspek-aspek pengelolaan ekonomi lainnya. Apakah petani, nelayan dan pelaku UKM lainnya.
Saat ini proses pelatihan berbasis masjid dengan melibatkan takmir masjid, menambah kesan bagi pemerintah daerah bahwa banyak yang peduli dengan program ini. Sehingga tugas-tugas pemerintahan lebih bersinergi kedepannya khususnya di bidang Pemberdayaan ekonomi ummat.
“Bilamana program ini disinergikan, kedepannya, pengelolaan ekonomi syariah ini menjadi salah satu solusi pengentasan masyarakat kita dari keterpurukan ekonomi sebagai dampak terjadinya pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir ini,” ujarnya.
Di tahun kedua dilanda pandemi covid, sangat bmempengaruhi berbagai apsek kehidupan temasuk, aspek ekonomi yang cukup krusial.
Sehingga arah kebijakan pembangunan yang sudah direncanakan Pemda menjadi tidak optimal. Misalnya, pertumbuhan, pemerataan dan pemberdayaan ekonomi dalam rangka pengentasan kemiskinan.
“Ada 5 prioritas yang menjadi sasaran Pemda, salah satunya adalah peningkatan kualitas SDM dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat,” akunya.
Untuk mengembangkan program unggulan ini, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tetapi saling membutuhkan. Ada 3 unsur utama dalam proses pelaksanaan pembangunan yakni, pemerintah, masyarakat dan lembaga kemasyarakatan lainnya yang berkontribusi menyumbangkan pikiran dan gagasan.
“Apa yang sudah dijalankan oleh MES patut diapresiasi, dalam pengelolaan program Lotim berkembang berbeda dengan pemberdayaan yang dilaksanakan khususnya dalam penanganan pandemi Covid-19. Seperti BPNT, BLT, dan bentuk bantuan lainnya. Meskipun, Lotim selalu mendapatkan porsi terbesar dalam bantuan ini,” kata Miftahul Wasli.
Meski berdampak positif saat memperoleh bantuan, tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah yang terjadi. Bantuan diberikan kepada masyarakat dan saat itu juga habis. Lalu menunggu lagi bantuan berikutnya.
“Berdampak positif memang ya, tapi hanya sesaat dan tidak menyelesaikan masalah secara keseluruhan,” tandas Miftahul Wasli.
Dalam kesempatan itu, mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Lombok Timur itu menyemangati para peserta pelatihan. Kata dia, banyak ilmu dan bekal yang telah diberikan kemudian dipersiapkan untuk membantu ekonomi masing-masing pelaku usaha yang nantinya disasar program ini. (*)

















