PorosLombok.com – Pimpinan Daerah Pemuda Nahdlatul Wathan (NW) Kota Mataram melayangkan kritik keras terhadap kebijakan Gubernur NTB HL Mohammad Iqbal terkait urgensi sewa mobil listrik senilai Rp14 miliar pada Senin (16/03/2026).
Ketua PD Pemuda NW Kota Mataram M Zainul Mukhtar Firdaus menilai pengadaan puluhan unit kendaraan mewah tersebut belum memiliki parameter manfaat yang jelas bagi masyarakat luas.
”Jika alasan penggunaan mobil listrik adalah efisiensi, maka pemerintah harus menjelaskan secara terbuka berapa penghematan yang dihasilkan,” katanya.
Transparansi anggaran menjadi poin krusial mengingat publik berhak mengetahui perbandingan biaya operasional antara kendaraan konvensional dengan unit listrik yang baru disewa tersebut.
”Harus ada hitungan matematis yang transparan agar masyarakat bisa menilai apakah kebijakan Rp14 miliar ini benar-benar menghasilkan efisiensi,” ujarnya.
Zainul juga menyoroti infrastruktur pendukung di lapangan yang dianggap belum memadai, mulai dari ketersediaan stasiun pengisian daya hingga kondisi jalan yang masih banyak mengalami kerusakan.
”Kalau ekosistemnya belum siap, maka kebijakan ini justru berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam operasional pemerintahan,” katanya.
Persoalan lain yang disorot adalah penerapan sistem meritokrasi dalam pengisian jabatan birokrasi yang dituding hanya menjadi slogan manis tanpa bukti keterbukaan proses seleksi.
Firdaus menganggap penilaian pejabat selama ini dilakukan secara sepihak oleh pemangku kebijakan tanpa memaparkan indikator serta hasil skor kepada khalayak umum.
”Ada beberapa pejabat yang tidak mengikuti beauty contest, tetapi justru dilantik menduduki jabatan strategis,” ujarnya.
Ketimpangan prosedur ini dianggap mencederai nilai profesionalitas ASN karena terdapat figur bermasalah dengan hukum yang justru tetap diberikan posisi penting di lingkup pemerintahan.
”Di satu sisi meritokrasi dikampanyekan, tetapi di sisi lain orang bermasalah justru tetap bertahan menempati posisi penting,” tegasnya.
Organisasi kepemudaan ini turut menagih realisasi janji program strategis seperti Desa Berdaya hingga NTB Connected yang hingga kini progresnya dianggap masih sangat jalan di tempat.
”Jangan kira publik diam, kami sedang mencatat, menghitung, dan menunggu waktu,” pungkasnya.*















