Mataram,PorosLombok – Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) bergerak dinamis pada pembukaan tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,86 persen pada Januari 2026. Lonjakan harga emas perhiasan dan pangan laut menjadi pemicu utamanya.
”Kota Bima mengalami inflasi tertinggi sebesar 4,82 persen, sementara Kota Mataram mencatatkan angka terendah 3,69 persen,” ujar Ketua Tim Statistik Harga BPS NTB, Ir. Muhammad Ahyar.
Faktor Pemicu Inflasi Januari
Kenaikan harga emas dunia mendorong pembengkakan biaya hidup warga lokal. Tren ini memengaruhi indeks kelompok perawatan pribadi secara signifikan. Selain emas, masyarakat harus membayar lebih mahal untuk membeli ikan layang dan bandeng.
”Harga emas perhiasan terus mendaki mengikuti tren pasar global saat ini,” katanya.
Cuaca ekstrem di perairan menghambat aktivitas nelayan sehingga stok pasar menipis. Kelangkaan pasokan ini memicu kenaikan harga komoditas perikanan di berbagai pasar tradisional. Namun, penurunan harga cabai dan bawang merah sedikit meredam tekanan tersebut.
”Faktor cuaca yang kurang kondusif menghambat aktivitas penangkapan ikan oleh para nelayan setempat,” jelasnya.
Capaian Rekor Produksi Padi
Sektor pertanian memberikan kabar menggembirakan bagi kedaulatan pangan daerah. Hasil panen padi sepanjang 2025 menembus angka 1,71 juta ton GKG. Capaian ini melonjak 17,56 persen daripada periode tahun sebelumnya.
”Bantuan pompa air meningkatkan frekuensi tanam petani secara signifikan,” tuturnya.
Luas panen juga bertambah hingga 41,18 ribu hektare berkat optimalisasi lahan. Sebaliknya, volume jagung justru turun 2,86 persen karena petani beralih menanam padi. Curah hujan tinggi lebih mendukung ekosistem persawahan daripada ladang jagung.
”Sebagian lahan jagung beralih fungsi menjadi sawah padi demi menyesuaikan kondisi cuaca yang ada,” jelasnya.
Geliat Pariwisata Akhir Tahun
Industri pelesiran menunjukkan rapor hijau pada penghujung tahun lalu. Okupansi hotel bintang merangkak naik ke level 41,98 persen. Momen libur sekolah dan agenda Mandalika International Festival sukses menarik jutaan wisatawan.
”Wisatawan nusantara tumbuh 7,37 persen pada Desember 2025 dengan total kunjungan 1,33 juta orang,” ungkapnya.
Peningkatan ini sejalan dengan bertambahnya frekuensi penerbangan domestik di Bandara Bizam. Penurunan tarif angkutan udara juga mendorong minat masyarakat untuk berwisata. Kondisi ini memperkuat pemulihan ekonomi sektor jasa di NTB.
”Periode libur panjang akhir tahun dan penurunan tarif angkutan udara mendorong mobilitas penumpang pesawat,” katanya.
Lonjakan Fantastis Ekspor Smelter
Sektor perdagangan luar negeri mencatatkan nilai ekspor yang melambung tinggi. Nilai ekspor Desember 2025 melambung 368,28 persen secara tahunan. Produk industri smelter menjadi tulang punggung pengiriman barang ke Korea Selatan dan Swiss.
”Nilai ekspor Desember mencapai US$ 633,34 juta dengan barang galian non-migas sebagai komoditas terbesar,” pungkasnya.
Komoditas tembaga dan perhiasan mendominasi total pengiriman barang ke luar negeri. Sementara itu, nilai impor NTB justru menyusut drastis karena berkurangnya pengadaan mesin industri. Jepang tetap menjadi mitra utama yang memasok barang modal bagi industri lokal.














