(PorosLombok.com) – Mantan Menko Polhukam Mahfud MD akhirnya angkat bicara soal insiden kendaraan taktis (rantis) Brimob yang menabrak driver ojek online, Afan Kurniawan, saat aksi demonstrasi.
Dalam pernyataannya, Mahfud menegaskan bahwa pendemo tidak bisa diperlakukan represif. Menurutnya, masyarakat turun ke jalan bukan tanpa alasan, melainkan untuk menyuarakan keresahan atas penegakan keadilan.
“Pendemo itu tidak bisa disalahkan. Mereka sedang menyuarakan keresahan masyarakat. Itu wajar dalam demokrasi,” tegas Mahfud lewat akun Instagramnya, Jumat (30/8).
Meski begitu, Mahfud meminta publik untuk tidak serta-merta menyalahkan aparat di lapangan. Ia menilai pengemudi rantis yang menabrak massa bisa saja panik karena terjepit situasi.
“Aparat yang menabrak itu juga harus dikasihani. Mereka panik karena terjepit. Kalau tidak tegas, disalahkan atasan. Kalau terlalu tegas, bisa berhadapan dengan massa,” jelasnya.
Namun Mahfud menegaskan, persoalan utama bukan pada pendemo atau aparat, melainkan pada perilaku pejabat yang korup. Ia menyebut pejabat korup sebagai akar kerusuhan yang memicu gelombang protes di berbagai daerah.
“Yang harus dibenahi adalah akarnya: perilaku pejabat yang korup. Itu sumber keresahan publik,” tegas mantan Ketua MK tersebut.
Di akhir pesannya, Mahfud mengimbau masyarakat agar tetap tenang, menjaga kesehatan, dan tidak mudah terprovokasi di tengah situasi politik yang memanas.
(Redaksi/PorosLombok)

















