Penulis : Lalu Riki Wijaya, S.H.M.H
Ketua : Ikata Pelajar Majelis adat Sasak
OPINI,Poros Lombok – Eksistensi sebuah etnis di tengah pusaran globalisasi bukan lagi sekadar persoalan angka populasi biologis. Ketahanan suatu bangsa justru terletak pada kekuatan nilai luhur yang kian tergerus oleh standarisasi gaya hidup modern yang seragam.
Istilah Generasi Sasak terakhir sejatinya merupakan alarm bagi masyarakat adat untuk berefleksi mengenai tanggung jawab menjaga jati diri. Jika transmisi etika dan bahasa terputus, maka kepunahan identitas menjadi ancaman nyata di masa depan.
Dalam kacamata sosiologis, keberlanjutan komunitas adat ditentukan oleh konsistensi pewarisan nilai antargenerasi. Sistem nilai seperti sorong serah aji krama merupakan fondasi moral yang harus tetap kokoh dalam interaksi sosial masyarakat.
Namun, realitas menunjukkan bahwa penuturan bahasa daerah di ruang domestik mulai pudar secara perlahan. Tanpa penggunaan aktif dalam lingkup keluarga, simbol budaya akan kehilangan ruh dan hanya menjadi pajangan seremonial yang hampa.
Fenomena ini menuntut kesadaran kolektif agar setiap individu merasa memiliki beban moral untuk merawat marwah tradisi. Kita harus waspada terhadap erosi karakter yang membuat masyarakat tercerabut dari akar sejarah aslinya sendiri.
Setiap anak yang belajar menghormati orang tua dan memahami struktur adat adalah mata rantai keberlangsungan peradaban. Selama kesantunan dalam tutur kata tetap dijaga, identitas kolektif akan tetap tegak berdiri menghadapi terjangan zaman.
Langkah konkret diperlukan melalui penguatan literasi aksara serta praktik musyawarah berbasis kekerabatan yang unik. Pemerintah dan tokoh masyarakat perlu bersinergi dalam menciptakan ekosistem yang mendukung pelestarian budaya lokal.
Revitalisasi Nilai di Ambang Kepunahan
Kebijaksanaan dalam bertindak serta kejujuran dalam bersikap menjadi tolok ukur utama harga diri sebuah bangsa. Ketidakhadiran nilai luhur dalam perilaku sehari-hari menandakan awal dari hilangnya sebuah jati diri komunitas.
Transisi menuju era digital menuntut adaptasi tanpa harus mengorbankan prinsip etika yang telah lama menjadi pedoman. Inovasi kultural dalam memperkenalkan budaya kepada kaum muda menjadi kunci agar tradisi tetap relevan bagi mereka.
Refleksi mendalam ini membawa kita pada sebuah pertanyaan mendasar mengenai peran masing-masing dalam menjaga warisan. Kita memiliki pilihan untuk menjadi penjaga yang setia atau justru saksi bisu lenyapnya kearifan lokal.
Kekhawatiran akan hilangnya identitas seharusnya ditransformasikan menjadi energi positif untuk menggerakkan kembali simpul budaya. Kesadaran kolektif ini adalah benteng pertama melawan kepunahan sosiologis yang menghantui masyarakat adat.
Praktik tradisi jangan sampai terjebak pada euforia keramaian tanpa memahami esensi filosofis di balik setiap prosesi. Pemaknaan ulang terhadap simbol budaya menjadi tugas intelektual bagi generasi muda yang hidup pada masa sekarang.
Keberlanjutan bahasa ibu merupakan indikator paling valid dalam mengukur kesehatan sebuah peradaban besar. Pudarnya bahasa daerah berarti hilangnya satu jendela pengetahuan unik yang tidak bisa digantikan oleh bahasa global mana pun.
Integrasi nilai adat dalam sistem pendidikan dapat menjadi solusi strategis untuk memastikan tunas muda mengenal wajah budayanya. Pendidikan karakter berbasis kearifan lokal adalah investasi jangka panjang yang bersifat mutlak.
Pada akhirnya, nasib identitas masyarakat berada sepenuhnya di tangan para pewaris yang sadar akan komitmen kultural mereka. Tanggung jawab ini bersifat melekat dan tidak dapat diberikan begitu saja kepada pihak luar.
Keberhasilan merawat tradisi akan memastikan bahwa sebutan generasi pemungkas tidak akan pernah menjadi kenyataan pahit. Nyala api peradaban akan terus berkobar selama nurani kolektif tetap menjunjung tinggi kehormatan leluhur.
(Poros Lombok)
Catatan Redaksi:
Artikel ini merupakan kolom opini yang ditulis oleh narasumber eksternal, Seluruh isi tulisan menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari penulis.















