Merah Bukan Jawaban: Rencana Ubah Warna Paspor Dinilai Hanya Kosmetik

Oleh: Salman Hafiz (Perantau)

OPINI,PorosLombok.com – Pemerintah Indonesia dikabarkan tengah mempertimbangkan perubahan warna paspor dari hijau tosca menjadi merah marun. Alasannya, demi menyeragamkan desain dengan negara-negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia.

Namun, rencana ini justru menimbulkan pertanyaan di tengah publik. Apakah ini langkah strategis yang relevan, atau sekadar memoles permukaan tanpa menyentuh persoalan inti?

Simbolisme Tanpa Substansi

Paspor bukan sekadar buku perjalanan. Dokumen ini adalah simbol kedaulatan negara dan kekuatan diplomatik. Namun, dari sisi daya saing global, paspor Indonesia masih belum menggembirakan.

Menurut Henley Passport Index 2024, paspor Indonesia hanya memberikan akses bebas visa ke 75 negara. Jauh di bawah Malaysia (144 negara) dan Singapura (192 negara). Bahkan Timor Leste pun mencatat 96 negara.

Dalam konteks ini, mengganti warna paspor tanpa memperkuat daya tawarnya dinilai seperti mengganti kemasan tanpa memperbaiki isi.

Teori Kuda Mati

Dalam manajemen perubahan, ada istilah populer: Dead Horse Theory—ketika kuda yang ditunggangi sudah mati, maka pilihan paling rasional adalah turun, bukan terus mengecat kudanya.

Mengubah warna paspor tanpa mengatasi masalah utama sama saja dengan mengecat kuda mati. Kenyataannya, warga negara Indonesia masih menghadapi:

Kesulitan mengurus visa
  • Perlakuan diskriminatif di sejumlah bandara luar negeri
  • Minimnya perlindungan terhadap WNI di luar negeri
  • Birokrasi lambat dalam penanganan kasus luar negeri
  • Diplomasi yang belum cukup kuat membuka akses bebas visa
Ini yang Lebih Mendesak

Dari pada sibuk mengganti warna, ada hal yang jauh lebih penting untuk dibenahi:

  1. Negosiasi Akses Visa Pemerintah perlu aktif membuka kerja sama bebas visa dan visa on arrival dengan negara-negara strategis.
  2. Perlindungan dan Reputasi Penanganan buruh migran, mahasiswa, dan WNI yang bermasalah di luar negeri harus jadi prioritas.
  3. Digitalisasi Pelayanan Mempercepat layanan paspor elektronik, memangkas antrean, dan menjamin keamanan data.
  4. Bangun Citra Global Warga Indonesia harus dikenal sebagai pribadi yang kompeten dan kontributif secara internasional.
Bukan Sekadar Ganti Warna

Mengubah paspor menjadi merah marun mungkin penting secara visual dan simbolik. Tapi itu bukan solusi utama. Tanpa peningkatan kualitas pelayanan dan diplomasi, paspor merah tidak akan banyak berbeda dengan paspor hijau.

Yang dibutuhkan Indonesia bukan paspor berwarna merah, tetapi paspor yang bernilai merah—kuat, dihormati, dan memberikan kemudahan nyata bagi rakyatnya.

Paspor bukan sekadar dokumen perjalanan, tetapi juga cermin dari martabat bangsa. Jadi, hijau tosca atau merah marun, yang lebih penting adalah maknanya bagi rakyat.

Jika esensi paspor masih lemah, maka perubahan warna hanyalah fatamorgana. Kita akan terus terjebak dalam ilusi perubahan—bukan perubahan yang sesungguhnya.

(*PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU