Gubrak! Joki Tradisi Tiyu di Jantuk Lombok Timur Nyungsep ke Aspal Usai Tabrakan Kuda

Tradisi tiyu di Desa Jantuk, Lombok Timur mendadak viral usai insiden tabrakan antar joki hingga nyungsep ke aspal. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam atraksi budaya Idulfitri tersebut.

PorosLombok.com – Warga Desa Jantuk, Kecamatan Sukamulia, Lombok Timur menggelar tradisi tiyu yang mendadak viral setelah insiden tabrakan antar penunggang kuda terekam kamera. Peristiwa heboh ini terjadi usai Shalat IdulFitri pada Minggu (22/3/2026).

​Rekaman video menunjukkan dua ekor kuda yang dipacu kencang saling senggol hingga menyebabkan penunggangnya tersungkur keras ke atas aspal. Kejadian tersebut memicu kepanikan luar biasa di tengah kerumunan masyarakat yang memadati lokasi atraksi.

​”Insiden itu memang terjadi saat acara berlangsung, tetapi para penunggang langsung bangkit kembali untuk melanjutkan aksi,” kata Pjs Kades Jantuk Yudi Hermawan.

​Kepala Desa menjelaskan bahwa tabrakan tersebut tidak mengakibatkan cedera serius bagi para peserta maupun hewan ternak mereka. Warga setempat secara spontan memberikan pertolongan dengan mengarahkan korban ke pinggir jalan raya utama.

​”Biasa insiden kecil seperti itu sering terjadi, namun kegiatan tetap jalan dan tidak ada masalah berarti bagi warga,” ujarnya.

​Meskipun sempat diwarnai kepanikan, tradisi tahunan ini tetap berlanjut dengan suasana meriah demi melestarikan budaya leluhur. Penonton yang awalnya berteriak histeris segera kembali memberikan semangat kepada para joki yang tersisa di lintasan.

Evaluasi Keamanan Tradisi Tiyu di Lombok Timur

​Camat Sukamulia Lalu M. Rahiman membenarkan adanya pelaksanaan kegiatan adat tersebut sebagai agenda rutin pascalebaran di wilayahnya. Ia mengakui daya tarik tradisi ini selalu berhasil menyedot perhatian ribuan pasang mata setiap tahun.

​”Silakan melakukan koordinasi lebih lanjut ke pihak kepolisian dan desa untuk mendapatkan rincian teknis peristiwa itu,” terangnya.

​Pimpinan kecamatan tersebut menekankan bahwa pengawasan lapangan sepenuhnya berada di bawah kendali aparat keamanan dan panitia lokal. Langkah ini sangat genting guna memastikan keselamatan publik tetap terjaga selama atraksi ketangkasan berlangsung.

​Di sisi lain, masyarakat menganggap jatuhnya penunggang kuda sebagai bagian dari risiko seni yang menuntut adrenalin tinggi. Keberanian para joki mengendalikan hewan pacu di lintasan sempit menjadi tontonan yang sangat dinantikan oleh wisatawan.

​”Kami terus berupaya menjaga agar warisan budaya ini tidak hilang meskipun tantangan keselamatannya cukup besar bagi peserta,” katanya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU