PorosLombok.com – Pendaki wanita asal Brazil, JDSP (27), dilaporkan terjatuh di lereng curam Gunung Rinjani. Empat hari berlalu, proses evakuasi belum juga berhasil menembus lokasi korban. Cuaca buruk dan medan ekstrem menjadi penghalang utama.
Korban jatuh di kawasan Sangkareang, titik yang dikenal rawan longsor dan nyaris tak terjangkau jalur normal pendakian. Lokasinya kini diperkirakan berada 950 meter dari titik jatuh awal, dan terus bergeser.
Tim SAR gabungan dibuat bekerja ekstra keras. Helikopter Basarnas Amman sempat dikerahkan, namun misi udara itu gagal total.
“Cuaca di atas tidak mendukung. Awan tebal, angin kencang. Kami terpaksa putar balik,” tegas Direktur Operasi Basarnas, Brigjen TNI Edy Prakoso di Pos SAR Sembalun, Rabu (25/6).
Sementara itu, perwakilan Kedutaan Brasil, Helena Masote, turun langsung ke lokasi untuk mendesak percepatan evakuasi. Ia mengaku prihatin, tetapi memahami kondisi medan dan cuaca yang dihadapi tim di lapangan.
Di sisi lain, Basarnas tak tinggal diam. Jalur vertikal mulai dibuka dengan teknik manual climbing di lereng tajam. Drone juga dikerahkan untuk menjatuhkan logistik ke titik perkiraan korban.
“Kami sudah kirim makanan dan air dari udara, korban masih bergerak karena kontur tebing yang terus melongsor,” ungkap salah satu anggota SAR.
Kapolres Lombok Timur, AKBP I Komang Sarjana, memastikan jajarannya tetap all out mendukung evakuasi.
“Personel kami standby sejak hari pertama. Koordinasi lintas instansi terus berjalan. Target kami, korban bisa segera diselamatkan,” ujar Kasi Humas AKP Nikolas Osman.
(arul/PorosLombok)















