PorosLombok.com – menjadi saksi bisu saat fajar mulai menyapa dinding-dinding kokoh Ma’had Darul Qur’an wal Hadits, tempat lantunan ayat suci berkelindan dengan aroma kitab kuning yang khas pada medio 1937.
Di balik riuh rendah suara santri, hadir sosok karismatik yang duduk bersila dengan ketenangan batin yang memancar. Maulana Syaikh, sang mahaguru, memandang barisan muridnya dengan tatapan teduh namun menyimpan visi yang melintasi zaman.
Pendidikan di sini bukan sekadar transfer intelektual, melainkan sebuah prosesi ruhani yang mendalam. Beliau tidak segera membedah lembaran kertas, melainkan membangun koneksi batin dengan memindai wajah-wajah penuh dahaga ilmu di hadapannya.
Tradisi unik pun dimulai ketika sebuah instruksi pendek namun bertenaga memecah keheningan aula utama. “Lobar, bacakan,” titah beliau, memanggil santri bukan berdasarkan nama pribadi, melainkan identitas geografis asal tanah kelahiran.
Seorang pemuda asal Lombok Barat segera menata duduknya, mengalirkan bacaan Arab yang fasih di bawah pengawasan sang guru. Tak lama kemudian, giliran wilayah lain seperti Lombok Tengah dan Lombok Timur mendapatkan kesempatan yang sama.
Ritual pemanggilan ini menciptakan getaran emosional yang luar biasa bagi siapa pun yang hadir di sana. Ada semacam beban kehormatan yang dititipkan pada pundak santri saat nama daerahnya menggema di ruang suci penuh keberkahan tersebut.
Sayuti Hamdani, seorang alumni yang merekam memori ini dengan jernih, mengisahkan betapa berdebarnya jantung para murid. “Bukan karena takut salah, tapi karena merasa dimuliakan,” ungkapnya mengenang saat-saat penuh wibawa itu.
Strategi ini rupanya menjadi cara halus sang ulama untuk menanamkan rasa tanggung jawab kolektif. Setiap bait yang dibacakan bukan hanya representasi kepintaran individu, melainkan taruhan marwah dan martabat daerah yang diwakili sang santri.
”Ketika nama daerahmu disebut, maka semua santri dari sana ikut merasa berdiri,” tambah Sayuti menggambarkan solidaritas organik yang terbangun. Hal ini memicu semangat belajar yang kompetitif namun tetap dibalut rasa persaudaraan.
Maulana Syaikh memahami benar bahwa setiap jengkal tanah di Nusa Tenggara memiliki karakteristik budaya yang beragam. Dari Bima hingga Sumbawa, beliau memetakan potensi dakwah berdasarkan keunikan kultural yang melekat pada tiap santrinya.
Pendekatan ini jauh dari kesan seragam yang kaku, melainkan sebuah apresiasi terhadap keberagaman. Beliau mendorong para kader penggerak umat untuk tetap berpijak pada bumi tempat mereka dilahirkan tanpa kehilangan jati diri asalnya.
Dalam sesi latihan orasi, sang guru kerap menekankan pentingnya menggunakan bahasa ibu sebagai jembatan komunikasi. Beliau meyakini bahwa kebenaran akan lebih mudah meresap jika disampaikan melalui rasa dan diksi yang akrab di telinga masyarakat.
”Kalau engkau dari Bayan, ceramahlah pakai bahasa Bayanmu,” demikian pesan yang sering terngiang di telinga para santri. Sebuah instruksi yang awalnya memicu rasa canggung, namun perlahan menjadi senjata dakwah yang sangat efektif di lapangan.
Transformasi mental terjadi ketika para santri mulai menyadari bahwa menjadi dai tidak harus mencabut akar tradisi. Mereka diajarkan untuk menjadi penerang yang mampu berbicara selaras dengan tingkat pemahaman dan dialek lokal konstituennya.
Keberhasilan metode ini terbukti dari luasnya sebaran alumni yang kini mengisi ruang-ruang sosial di berbagai pelosok. “Alumni Ma’had tak hanya jadi ustaz atau guru. Mereka jadi penerang masyarakat,” tegas Sayuti dengan nada penuh keyakinan.
Kearifan Maulana Syaikh mencerminkan teladan nubuwah dalam memperlakukan manusia sesuai dengan kadar akal dan latar belakangnya. Ilmu yang diajarkan tidak bersifat menekan, namun menancap kuat melalui pendekatan yang sangat manusiawi dan menyentuh.
Kini, warisan intelektual dari Timur tersebut terus berpendar, melintasi sekat-sekat geografis yang dulu pernah dipanggil satu per satu. Suara-suara dari pelosok kecil itu kini telah menjelma menjadi narasi besar yang disimak oleh dunia luas.
Sejarah mencatat bahwa di tangan seorang guru yang visioner, identitas lokal bukanlah penghalang bagi kemajuan peradaban. Justru melalui pengakuan terhadap asal usul, cahaya ilmu dapat memancar lebih terang dan abadi bagi kemaslahatan umat.














