(Lombok Timur, PorosLombok.com) -Pulau Lombok, dengan keindahan alamnya yang memukau, menyimpan cerita heroik dari seorang pahlawan nasional yang tak kenal lelah memperjuangkan pendidikan agama. TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, atau akrab disapa Maulana Syeh, menjadi sosok sentral dalam pengembangan pendidikan di Nusa Tenggara Barat.
Di tengah keterbatasan akses pendidikan agama pada era 1960-an, Maulana Syeh hadir dengan visi besar. Beliau menyadari pentingnya pendidikan agama yang kuat sebagai fondasi bagi masyarakat Lombok yang religius. Hal ini memicu lahirnya berbagai inisiatif, salah satunya adalah pendirian Pondok Pesantren Sunan Giri NW Montong Baan.
Pondok Pesantren Sunan Giri berdiri atas prakarsa para sesepuh Desa Montong Baan pada tahun 1962. Dengan harapan untuk meningkatkan pemahaman Islam, pesantren ini memulai perjalanannya sebagai pusat pendidikan agama. Dukungan Maulana Syeh memberikan energi dan motivasi bagi para pendiri, menjadikan pesantren ini simbol kebangkitan pendidikan Islam di Lombok.
Lalu Wiralaga, S.Pd.i, Ketua Yayasan Ponpes Sunan Giri, mengenang bagaimana kehadiran Maulana Syeh menginspirasi banyak pihak. Beliau tidak hanya memberikan dorongan moral, tetapi juga memobilisasi dukungan dari desa-desa sekitar seperti Semaya dan Darmasari. Alhasil, masyarakat sekitar turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan pesantren.
Perkembangan Ponpes Sunan Giri tidak lepas dari berbagai tantangan. Pada awalnya, pesantren ini menawarkan program Pendidikan Guru Agama (PGA) empat tahun. Namun, seiring dengan perubahan regulasi pemerintah, program ini bertransformasi menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada tahun 1982. Transformasi ini menandai adaptasi pesantren terhadap kebijakan pendidikan nasional.
Tidak berhenti di situ, tahun 2003 menjadi titik penting ketika Ponpes Sunan Giri resmi menjadi pondok pesantren penuh. Keputusan ini diambil atas dasar permintaan masyarakat yang ingin melestarikan ajaran Maulana Syeh dalam format pendidikan yang lebih komprehensif. Langkah ini sekaligus menegaskan peran pesantren sebagai pusat pembelajaran yang integral.
Seiring berjalannya waktu, Ponpes Sunan Giri menunjukkan perkembangan pesat. Saat ini, pesantren ini menampung lebih dari 500 santri dari berbagai tingkat pendidikan, mulai dari Madrasah Tsanawiyah hingga Madrasah Aliyah. Bahkan, pandemi COVID-19 tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk mengirimkan anak-anak mereka ke pesantren ini.
Pondok pesantren ini tidak hanya fokus pada pendidikan formal. Rencana pengembangan program tahfizul Qur’an dan pendalaman kitab kuning menjadi prioritas ke depan. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama tanpa mengabaikan kebutuhan santri akan literasi teknologi.
Visi Ponpes Sunan Giri adalah mencetak santri yang berakhlak mulia dan berwawasan teknologi. Penekanan pada akhlak dan teknologi ini penting di era digital yang serba cepat. Santri Ponpes Sunan Giri diharapkan mampu bersaing dan berkontribusi positif di tengah kemajuan zaman.
Dukungan dari berbagai tokoh masyarakat dan alumni terus mengalir, memperkuat posisi Ponpes Sunan Giri sebagai lembaga pendidikan yang berpengaruh. Keberhasilan ini tidak lepas dari dedikasi seluruh pihak yang terlibat, termasuk para pengajar yang dengan sabar dan tekun membimbing para santri.
Sebagai bagian dari upaya pelestarian ajaran Maulana Syeh, Ponpes Sunan Giri juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di lingkungan sekitar. Pesantren ini menjadi pusat kegiatan yang menyatukan masyarakat dalam semangat kebersamaan dan saling mendukung.
Warisan Maulana Syeh di Ponpes Sunan Giri menjadi pengingat betapa pentingnya pendidikan sebagai alat pembebasan dari kebodohan. Pendidikan agama yang kuat dan relevan dengan perkembangan zaman adalah kunci untuk mencetak generasi penerus yang berintegritas.
Kisah perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dan berdirinya Ponpes Sunan Giri adalah inspirasi bagi kita semua. Semangat beliau dalam memajukan pendidikan di Lombok menjadi teladan yang patut kita teruskan. Dengan semangat ini, kita berharap Ponpes Sunan Giri terus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia.
(Arul/PorosLombok)
















