LOTIM | Poroslombok.com – Pemerintah Kecamatan Keruak Bersama TNI Polri, Pemerintah Desa dan Tim Vaksinator dari Puskesmas Keruak terus berupaya melaksanakan giat vaksinasi.
Upaya itu dalam rangka percepatan pelaksanaan vaksinasi demi terbentuknya Herd Immunity (kekebalan kelompok) di Kecamatan Keruak yang sudah menjadi proyeksi Kabupaten.
Hasil data sementara dari data monetoring pencapaian 38,251 Dosis D1 dan D2 dari Target 41,402 ribu. sedangkan untuk persentasenya setara dengan 92,1%
“InsaAllah kita akan usahakan sebelum bulan Desember target Kecamatan Keruak kita usahan 100%,” ujar Lalu Kasturi, Kepala Puskesmas Keruak di ruang kerjanya, sabtu (20/11).
Dengan capaian itu, sambung dia, Kecamatan Keruak masuk dalam ranking sepuluh besar. Namun untuk sampai pada capaian itu bukan tanpa hambatan.
Kesadaran masyarakat yang masih rendah serta masih adanya sebagian masyarakat yang masih takut untuk di vaksin, disebutnya menjadi kendala yang dihadapi selama ini.
Ia bahkan tak segan menceritakan perihal warga yang sampai pergi bersembunyi hanya untuk menghindari petugas vaksinator.
“Kemarin kan sempat viral tentang warga Desa Ketapang Raya yang pergi bersembunyi ke Desa Maringkik. Mereka ditemukan bersembunyi di goa pinggir tebing itu,” tuturnya.
Karnanya ia berharap, kepada pemerintah Desa, Kadus sampai ke tingkat RT untuk memberikan edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya vaksinasi.
Hal itu menjadi penting, lanjut dia, dikarenakan pada tahun depan masyarakat tidak akan lagi mendapatkan pelayanan vaksin secara gratis, tetapi akan dikenakan tarip alias berbayar sesuai dengan Perpres nomor 14 tahun 2021 pasal 13A.
“Masyarakat harus tau tentang pentingnya vaksinasi. Tahun depan sesuai yang disampaikan menteri, untuk keperluan pembuatan KK, KTP, untuk mendapatkan bantuan BLT dan lain-lain syaratnya harus bisa menunjukkan kartu vaksin,” tandasnya.
Karnanya ia mengimbau kepada seluruh masyarakat yang berada di wilayah Kecamatan Keruak untuk tidak takut divaksin demi kebaikan masyarakat itu sendiri.
“Ayolah bagi yang belum divaksin agar jangan takut lagi, mumpung gratis, kalo tahun depan bayar,” seru Lalu Kasturi memungkasi.
Berikut perkiraan harga vaksin saat masyarakat harus membelinya:
1. Sinovac
UNICEF melaporkan harga untuk Sinovac di Indonesia adalah US$ 13,6 atau setara dengan Rp 193 ribu (asumsi Rp 14.253/US$). Harga Sinovac ini beragam di setiap negara, tercatat Brasil, Filipina, hingga Ukraina harganya US$ 10 sampai US$ 18 atau senilai dengan Rp 142 ribu hingga Rp 255 ribu.
2. Sinopharm
Argentina, China, Hungaria, hingga Kazakhstan merupakan sejumlah negara yang menggunakan vaksin Sinopharm. UNICEF melaporkan harga di setiap negara tersebut bervariasi, mulai dari termurah di Argentina seharga US$ 9 atau Rp 127 ribu, hingga paling mahal di Hungaria US$ 36 atau Rp 511 ribu per dosis.
Sementara di Indonesia, Sinopharm sudah dipakai untuk program Vaksin Gotong Royong. Pemerintah telah menetapkan harga vaksin Sinopharm Rp. 321.660 per dosis.
3. AstraZeneca
Berdasarkan laporan UNICEF, vaksin AstraZeneca digunakan di Uni Eropa, Amerika Serikat, Kolombia, Brasil, hingga India. Harga berkisar US$ 2,19 hingga US$ 4.
4. Moderna
Vaksin Moderna digunakan di Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Argentina. Di AS, Moderna dijual dengan harga US$ 15 atau setara dengan Rp 213 ribu. Uni Eropa menetapkan harga untuk Moderna sebesar US$ 18 atau senilai Rp 255 ribu. Sementara di Argentina US$ 21,5 atau seharga Rp 305 ribu.
5. Pfizer
Laporan UNICEF memaparkan vaksin Pfizer digunakan di Afrika Selatan, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat. Harga Pfizer paling mahal diterapkan Uni Eropa seharga US$ 23,15 atau Rp 329 ribu per dosis. Di Amerika Serikat, Pfizer dibanderol seharga US$ 19,5 atau senilai dengan Rp 277 ribu. Sementara paling murah di Afrika Selatan dengan harga US$ 10 atau Rp 142 ribu per dosis. (Anas)
















