Secercah Sejarah Situs Cagar Budaya Makam “Batu Bangka” TGH Ali Batu

LOTIM | Poroslombok.com –

Makam Al-Magfulullah TGKH. Muhammad Ali Batu, atau yang dikenal dengan sebutan Makam Batu Bangka, yang berada di Desa Sakra memiliki sejarah yang panjang.

Berbicara tentang sejarah Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Ali Batu, sudah barang tentu bersandar pada “babad” atau sejarah yang ada di bumi sasak lombok.

“Karna ketika berbicara tentang beliau (TGH. Ali Batu), maka sama artinya berbicara tentang bumi sasak lombok ini,”ujar, M.Guntur Halba, salah satu keturunan TGH. M.Ali Batu saat memaparkan sejarah singkat Makam Batu Bangka dalam acara Hari Jadi Rinjani Foundation, Minggu (13/3/22).

Pun demikian, lanjut dia, berbicara tentang TGH. Ali Batu, sama artinya berbicara tentang islam yang ada di bumi Sasak Lombok.

Sehingga, kata dia lagi, menceritakan sejarah TGH. Ali Batu tidak akan cukup hanya dalam waktu satu atau dua jam saja. Bahkan, dalam waktu satu hari sekalipun tidak akan cukup untuk mengupas sejarah sang pahlawan sasak itu.

“Harus berhari-hari. Karna begitu panjangnya sejarah atau babad yang menuliskan tentang sejarah perjuangan dan keulamaan beliau,” jelasnya.

Secara umum, dituturkan Guntur, sosok Al-magfurullah TGH. Ali Batu adalah seorang pejuang sekaligus seorang ulama.

Sejarah mencatat, selain menyebarluaskan agama islam di gumi sasak lombok, sosok kiyai ini juga tercatat sebagai pahlawan yang memimpin perjuangan melawan kezaliman penguasa kala itu.

Guntur Halba menyebut, dalam buku sejarah babad sasak lombok, terdapat sebuah kalimat yang berbunyi “Congah” yang memiliki makna “perjuangan melawan kezaliman”.

“Maka, dalam babad sasak lombok disebut Congah Sakra,” ujarnya.

Meskipun disebut Congah Sakra, terang dia, bukan berarti yang berjuang kala itu hanya orang Sakra saja, akan tetapi bersama-sama dengan warga lainnya dari berbagai wilayah.

Lebih lanjut diceritakan Guntur Halba, pada masa perjuangan TGH.Ali Batu dulu, yang pertama beliau lakukan adalah menyebarkan agama islam.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat Lombok makin banyak yang memeluk agama islam. Maka yang kedua beliau lakukan adalah mengajarkan Tarekat Naqsyabandiah.

Tujuannya adalah, urai dia, untuk makin memantapkan iman masyarakat Lombok saat itu. Selain juga, untuk menanamkan semangat Hubbul Wathon Minal Iman (cinta tanah air).

“Karna cinta tanah air itu adalah bagian dari iman,” ungkapnya.

Selanjutnya, TGH. Ali Batu mengajarkan ilmu kedigjayaan kepada murid-muridnya. Sehingga banyak dari murid-murid belaiu yang sakti mandraguna. Kebal terhadap senjata tajam dan senjata lainnya.

Tak hanya itu, selanjutnya beliau mengajarkan ilmu membuat senjata serta mengajarkan ilmu strategi perang kepada murid-muridnya.

Setelah semua ilmu itu diajarkan, barulah TGH. Ali Batu mengajak murid-muridnya berperang melawan kezaliman penguasa.

“Sehingga terjadilah perang berjilid-jilid. Jadi bukan satu dua jilid, tapi berjilid-jilid,” ungkap pria yang beberapa waktu lalu memimpin aksi damai bela leluhur di depan kantor Bupati Lotim.

Sehingga, pada tahun 1891 terjadilah perang besar atau perang dahsyat. Dan pada perang dahsyat itulah TGH. Ali Batu bersama salah satu tangan kanannya wafat dalam perang jihad Fisabilillah, melawan kezaliman saat itu.

“Beliau wafat pada hari jum’at, tanggal 17 Oktober, tahun 1891. Kemudian disusul oleh tangan kanan beliau, yaitu Raden Gede Ratmawe Rarang, atau yang populer dengan nama Raden Rarang,” tutur dia lagi.

“Kemudian setelah beliau berdua wafat. Keduanya dimakamkan di tempat ini,” tambahnya.

Sejak saat itulah, kata Guntur mengisahkan, tempat tersebut (Makam Batu Bangka) beralih fungsi menjadi makam. Sebab sebelumnya, di tempat itu merupakan bangunan sebuah mushalla.

Lebih jauh Guntur Halba menuturkan, bahwa dulunya TGH. Ali Batu bertempat tinggal di sebuah repok (dusun kecil) bernama Sombe. Tempat itu adalah sebuah Dusun di Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur (saat ini).

Hingga pada akhirnya TGH. Ali Batu hijrah ke Desa Sakra yang saat itu masih bernama Desa Pengkalik Tanak. Saat hijrah ke Desa Pengkalik Tanak, yang pertama kali beliau bangun adalah sebuah Mushalla dan bangunan rumah kayu sebagai tempat tinggal.

Di tempat itulah, TGH.Ali Batu mengajarkan berbagai macam ilmu kepada murid-muridnya. Oleh karena itulah, garis-garis shaf masih terlihat pada bagian dalam bangunan makam tersebut.

“Kenapa bagian dalamnya tidak dikeramik dan hanya bagian luarnya saja yang dikeramik?, karna untuk mempertahankan sekaligus melestarikan bukti dan nilai sejarah,” beber Guntur Halba.

Menurut Guntur, sebelum perang besar atau perang Fisabilillah terjadi, TGH. Ali Batu berwasiat, jika ia meninggal dalam perang jihad tersebut agar jenazahnya dimakamkan di tempat itu. Wasiat itu kemudian dipatuhi dan dilaksanakan oleh jamaah dan warga setempat.

Dari sejarah singkat ini, ucap Guntur memberi penegasan, bahwa ada satu kesimpulan yang bisa diambil. Yakni menegaskan bahwa beliau adalah seorang ulama sekaligus pejuang, atau pejuang sekaligus ulama.

Lalu, apa saja jasa-jasa dari Syeikh TGH. Ali Batu yang bisa dinikmati oleh pengikutnya secara khusus dan oleh ummat islam pulau Lombok saat ini?. secara umum, menurut Guntur, ada dua hal pokok yang bisa dinikmati dari jasa-jasa beliau yang masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Yang pertama adalah, urainya, jika seandainya pada saat itu beliau tidak menyebarkan agama islam, maka diyakini gumi sasak lombok menjadi Bali kedua.

“Tapi alhamdulillah. Berkat kasih sayang Allah, Lombok tidak jadi Bali kedua, tapi tetap menjadi Lombok yang beriman islam hingga saat ini dan InsyaAllah sampai kiamat,” kata Guntur.

Yang kedua, jasa beliau adalah, membebaskan masyarakat sasak Lombok dari kezaliman. Seandainya beliau tidak memimpin perang jihad Fisabilillah melawan kezaliman saat itu, maka diyakini yang berdiri tegak di pulau Lombok bukan Masjid, bukan Mushalla dan bukan juga Pondok Pesantren. Tetapi yang berdiri tegak adalah bangunan Pura.

“Alhamdulillah, berkat jasa beliau, sampai hari ini kita bisa melihat dengan mata kepala kita sendiri, bahwa masyarakat sasak adalah masyarakat yang berimankan islam yang InsyaAllah akan tetap kita pertahankan sampai hari kiamat,” demikian dipaparkan Guntur Halba.

(Anas/pl)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU