Poroslombok.com | LOTIM –
Hidup dengan status sebagai anak yatim tidaklah mudah, baik dari sisi anak maupun dari sisi orang dewasa sebagai pendamping anak yatim yang perlu adaptasi setelah ditinggalkan orang terkasih.
Dibalik perjuangan mereka, tersimpan tegar dan getir yang luar biasa untuk terus menjadi yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga, agama, hingga dunia.
Nabi Muhammad SAW, sang suri tauladan umat Islam, lahir pada Tahun Gajah saat pasukan Abrahah menyerang Ka’bah, dimana kelahiran baginda Nabi sudah berstatus sebagai anak yatim.
Selain kisah Nabi itu, agama juga mengajarkan kita untuk membantu anak yatim. Dalam surat Al-Maun dijelaskan bahwa, selain menjalani ibadah kepada Allah SWT, umat Muslim juga harus memberikan bantuan kepada anak yatim dan tidak menghardiknya serta tidak mendustakan agama.
Memiliki harta yang cukup dan tidak mau tergolong sebagai orang yang mendustakan agama, Tanwirul Anhar, lantas mengambil sikap aware terhadap kehidupan anak yatim yang tentu sangat membutuhkan bantuan orang lain.
“Berangkat dari surat Al-maun serta dengan ikut merasakan getirnya kehidupan anak yatim, tentu telah mengetuk hati saya untuk membantu mereka,”ucap Tanwir saat dikunjungi poroslombok.com di rumah kediamannya, Rabu (8/6/22).
Selain itu, urainya, di dalam harta seorang muslim terdapat juga rizki para anak yatim piatu, fakir miskin dan para orang tua jompo yang dititipkan oleh Allah melalui mereka yang berkecukupan.
Karenanya, sebagai orang yang diberikan amanah berupa harta oleh Allah, Tanwir meyakini bahwasanya ia harus menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan sebagai hak anak yatim dan fakir miskin.
“Sebagian dari harta yang kita miliki terdapat hak anak yatim. Maka kita tidak boleh kikir terhadap mereka,” jelas politisi Partai Bulan Bintang yang akan mencalonkan diri sebagai CALON BUPATI LOMBOK TIMUR 2024-2029 mendatang.
Sekedar diketahui, pemberian santunan dari Tanwir kepada anak yatim pada bulan ramadhan kemarin menyasar kurang lebih 200 desa di seluruh kecamatan di lombok timur, dimana besarannya sesuai data anak yatim yang ada di masing-masing desa.
Disinggung soal niatannya untuk mencalonkan diri sebagai bupati pada pilkada mendatang, Tanwir menegaskan jika dirinya siap lahir batin semata-mata untuk pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat.
Lalu seperti apakah sosok seorang tanwir dan seberapa berkesankah perlakuan Tanwir dimata keluarga para anak yatim? berikut poroslombok.com merangkum beberapa pendapat dan kesan dari keluarga maupun pengasuh anak yatim yang sempat ditemui:
Zainuddin Zaini, salah seorang keluarga anak yatim dari Desa Rensing Induk saat dikonfirmasi di kediamannya mengungkapkan kekagumannya atas sikap mulia seorang Tanwir terhadap anak yatim.
Dirinya mengakui jika selama ini tidak pernah menemukan orang seperti Tanwir. Betapa tidak, tutur dia, seorang Tanwir selalu menyisihkan sebagian besar gajinya sebagai dewan untuk diberikan kepada anak yatim.
“Tidak sekali dua kali ya, tapi sudah sangat sering dia datang ke sini untuk memberikan santunan kepada anak yatim. Bahkan gajinya itu tetap dia berikan kepada anak yatim di sini,” tutur Zainudin Zaini.
Senada dengan Zainudin Zaini, H. Awal Rian Arofah, seorang yang dimandatkan oleh Tanwir untuk mengkoordinir anak yatim di Kecamatan Suela mengaku tersentuh dengan perhatian seorang Tanwir kepada anak yatim.
Pria asal Suntalangu, Kecamatan Suela ini menuturkan, pada bulan puasa kemarin ia mengumpulkan sebanyak 950 orang anak yatim, fakir miskin dan orang tua jompo untuk diberikan santunan berupa sembako san kain sarung.
“Saya baru kenal pak Tanwir ini. Makanya kita tidak perlu berlebihan ya, tapi saya menyampaikan apa adanya. Yang jelas semua keluarga anak yatim merasa bersyukur dan berterimakasih kepada beliau,” ucapnya.
Ungkapan yang sama juga disampaikan oleh, Ustadz Ramadhan, Ketua Pokja TPQ dan Diniyah Lombok Timur, asal Masbagik Kumbung menyatakan rasa kagumnya terhadap sosok Tanwirul Anhar.
Menurut dia, keikhlasan seorang Tanwir yang tanpa tedeng aling-aling (apa adanya-red) dalam memberikan perhatian serta bantuan kepada para anak yatim merupakan sikap terpuji seorang muslim sejati.
Ustadz Ramadhan mengisahkan, pada suatu ketika di sebuah acara lomba anak-anak di Gedung Wanita Selong beberapa waktu lalu, di luar dugaan, Tanwir secara spontanitas meminta kepada semua peserta lomba yang sudah menjadi yatim untuk berkumpul.
“Nah saat itulah beberapa anak yatim itu langsung diberikan santunan. Padahal itu di luar agenda saat itu,” tuturnya.
Saat yang sama, Ustadz Ramadhan berharap, agar pada masa-masa mendatang hal seperti ini bisa terus dilakukan, agar para anak yatim piatu, fakir miskin dan orang tua jompo merasa diperhatikan oleh kita semua, terutama kepada anak yatim yang tentu sangat membutuhkan uluran tangan kita semua.
(Anas/pl)

















