Perjalanan Hidup Tanwir, Pernah Bangkrut dan Punya Utang Rp 1.4 M, Kini Jadi Raja Sawer

Poroslombok.com | LOTIM – Jatuh dan bangkit kembali, itulah yang pernah dialami Tanwirul Anhar,ST. Tanwir, begitu ia akrab disapa, lahir di kota santri pancor pada tahun 1971 silam.

Tanwir pernah mengalami masa-masa sulit. Ia terperosok ke jurang kebangkrutan, lantaran bisnis toko bangunan yang ia rintis dengan susah payah mengalami kerugian. Namun, dengan usaha sendiri melalui kekuatan sedekah serta campur tangan tuhan menuntunnya keluar dari masa kelam.

Kini ia dikenal sebagai politisi sukses setelah terpilih selama tiga priode berturut-turut menjadi anggota DPRD Kabupaten. Yakni priode 2009-2014, 2014-2019 dan 2019-2024 dengan raihan suara yang cukup mentereng, yakni priode ke tiga dengan mendulang suara dukungan sebanyak 6.000.

Tanwir memiliki seorang istri yang begitu setia menemani hidupnya, baik saat suka maupun duka. Perempuan itu bernama, Rabihatun, yang juga berasal dari Pancor. Saat ini pasangan setia itu dikaruniai satu orang putra dan dua orang putri.

Peristiwa Bersejarah Tanwirul Anhar

Kisah penuh liku Tanwirul Anhar bermula pada tahun 1998, kala itu ia baru selesai melaksanakan acara perkawinannya dengan wanita yang menjadi tambatan hatinya, yang sampai saat ini menjadi anugerah paling berharga dalam hidupnya. Wanita beruntung itu tak lain adalah Rabihatun, istrinya.

Kelar acara perkawinan, Tanwir mulai berfikir untuk mencari pekerjaan yang layak sebagai sumber untuk menghidupi perempuan yang baru saja dinikahinya. Sang pengantin baru ini pun mulai berfikir keras. Akan tetapi tekad kuat dan semangatnya yang berapi-api tak sebanding dengan modal yang ia miliki.

Awalnya Tanwir bekerja sebagai buruh serabutan, mulai dari tukang catut jual beli emas, motor dan segala hal yang bisa menghasilkan rupiah. Sebagai sarjana teknik, ia juga dipercaya untuk mengawasi proyek bangunan, diminta membuat gambar sampai disuruh membeli material bahan bangunan.

Suatu saat, oleh pemilik toko bangunan tempat ia biasa membeli bahan material bernama H. Jumar (paok motong), memberi saran agar Tanwir membuka usaha toko bangunan sendiri.

“Waktu itu pak H.Jumar bilang, buka toko dah meton (sodara-red). Nanti sudah saya bantu. Itu kalimat beliau, akhirnya saya coba buka,” ucap Tanwir mengisahkan, saat dikunjungi poroslombok di Lesehan Rirana miliknya, Minggu (7|8).

Dengan bermodalkan uang 3,5 juta rupiah di kantong, Tanwir muda mulai merintis usaha toko bangunannya dengan membeli barang seadanya. Mulai dari Bambu, Pagar, Seng bekas sampai Pintu bekas bongkaran.

Dengan modal yang minim, tentu hasilnya juga minim. Meski sedikit, namun seperti kata pepatah, Lama-lama menjadi Bukit. Dari hasil yang dikumpulkan, ia mulai mencoba pergi ke mataram dengan menumpangi engkel (angkutan umum) untuk membeli paku hanya satu dua kilo saja, serta beberapa kunci dan engsel pintu sebagai contoh pajangan saja.

“Nah begitu orang belanja, pergi saya ke paok motong ke H.Jumar. kadang-kadang notanya saja kita kasi, nanti barangnya dia yang ngantar. Kita hanya ngambil upahnya saja,” tuturnya.

Suatu ketika, Tanwir bertemu dengan salah seorang temannya dari Desa Pohgading yang kemudian membantu membawakannya kayu. Mengingat saat itu belum banyak yang menjual kayu bangunan di seputaran pancor, ia pun meminta pesanan dalam jumlah banyak. Dan kayu itu pun dia turunkan sendiri dari truk.

Tidak lama setelah itu, lanjutnya, Tanwir didatangi oleh sales dari Mataram memberi kepercayaan dengan memberikan pinjaman modal. Dalam waktu singkat, bisnis toko bangunan milik Tanwir mulai berkembang pesat. Hanya dalam waktu dua tahun, ia sudah memiliki dua kendaraan untuk mengangkut barang.

Tahun berganti tahun, jerih payah hasil kerja kerasnya kian terlihat. Tanwir mulai melebarkan sayap usahanya. Ia kini sudah memiliki gudang besar di Rakam, karna gudang di toko yang berlokasi di pancor (RS Risa sekarang) sudah over load.

Seiring dengan itu, pergaulan Tanwir mulai meluas dan mulai memiliki keinginan lain, yakni menjadi kontraktor. Sebagai orang yang sudah memiliki modal, tak sulit baginya untuk mendapatkan itu. Ia pun mulai menjajal menjadi kontraktor, meski di awal hanya dapat proyek dari dua instansi saja. Yakni Dispenda dan Dikbud.

“Udah agak maju saya waktu itu, karna semua proyek Dikbud se-Lotim saya yang kerjakan. Mulai lagi bertambah keinginan yang lain,” kata Tanwir mengisahkan.

Awal Kebangkrutan Tanwir

Keinginan Tanwir kali ini mulai berpindah jalur, dari dunia bisnis berpindah ke wilayah politik. Awalnya ia tak pernah tertarik dengan dunia politik. Namun, pergaulannya dengan para pelaku politik akhirnya membawanya masuk pada dunia yang begitu asing buatnya.

Tapi, dari sinilah awal mula seorang Tanwir terpeleset. Alkisah, Tanwir akhirnya masuk di salah satu partai tertentu bahkan langsung di plot menjadi bendahara. Namun bukannya mendapat uang, sebaliknya ia harus mendanai beberapa kegiatan kampanye dengan uang pribadinya.

“Saya ndak pernah pegang uang sekalipun jadi bendahara. Tapi kebutuhan partai setiap kampanye saya aja yang tanggulangi. Mobil saya, semen dan sebagainya bahkan sampai uang waktu itu dari saya,” kenangnya.

Bukan itu saja, situasinya semakin sulit ketika beberapa orang rekan anggota dewan meminta kas bon bahan bangunan berupa semen dan sebagainya sebagai bahan kampanye. Celakanya, bertahun-tahun hutang itu sulit dibayar.

Tanwir yang saat itu masih awam dengan politik percaya begitu saja ketika banyak yang datang mengambil barang hanya dengan menjanjikan proyek, ujung-ujungnya hanya sebatas janji saja. Hinggalah pada tahun 2008, Tanwir terjerembab ke dalam jurang kebangkrutan yang mengerikan.

Seluruh isi toko bangunan sudah ludes, sementara proyek yang dijanjikan tak kunjung terealisasi, bisnisnya mulai macet serta usahanya terdampak. Tanwir mulai menjual aset-asetnya, mulai dari mobil pribadi 2 unit, mobil pengangkut barang 7 unit, termasuk aset gudang, toko sampai rumah juga ludes terjual untuk menutupi hutangnya.

Setelah semua aset ludes terjual tanpa tersisa secuil pun, dramatisasi hidup Tanwir masih berlanjut. Ya, karna ternyata semua aset yang terjual itu belum mampu melunasi semua utangnya. Ia masih memiliki utang sebesar 1,4 miliar rupiah. Yang lebih menyesakkan lagi, Tanwir dan keluarganya kini tak punya tempat tinggal.

“Saat itu anak saya yang paling besar, Rizki, nangis. Pak kalo dijual rumah kita ini terus dimana kita tinggal? Begitu dia nanya. Karna waktu itu dia posisinya baru tamat SD,” ucap Tanwir mengenang kembali masa-masa sulit itu.

Oleh salah seorang temannya bernama “Ismail” yang kebetulan bertugas di polindes pancor. Tidak ada pilihan lain, Tanwir dan keluarganya kemudian numpang di rumah sahabatnya itu selama tiga tahun, yakni di Lingkungan Kampung Sehat, sedangkan Ismail dan keluarganya tinggal di polindes.

Titik Balik Kebangkitan Tanwir

Hinggalah pada tahun 2009, Tanwir diajak untuk bergabung dan dicalonkan dari partai PKS. Dalam situasi sulit, ia memberanikan diri untuk maju saat itu dengan bermodalkan bantuan kecil dari beberapa keluarga dan teman-temannya. Kali ini perjuangannya tidak sia-sia, ia terpilih menjadi dewan kabupaten.

“Waktu itu terpilih pada priode pertama itu saya belum bisa keluar dari keterpurukan. Karna waktu itu gaji yang saya terima hanya 531 ribu, setelah potongan bayar utang di bank,” tuturnya.

Bagaimana tidak, saat itu, ia masih dikejar-kejar sales Bank setiap minggu. Belum lagi dari hutang toko bangunan, bahkan juga oleh beberapa rentenir. Akan tetapi, ditengah himpitan hutang yang masih menggunung, ia masih berpikir untuk bersedekah, padahal hidupnya sendiri butuh disantuni. Namun sebagai seorang muslim, ia sangat yakin dengan kekuatan sedekah.

“Pernah suatu hari saya ada tagihan 21 juta, saya ingat waktu itu hari kamis saya masih ada 15 amplop yang belum habis saya bagi. Waktu itu menjelang lebaran. Nah, tiap subuh saya bagi amplop itu, saya sisipkan satu-satu di bawah pintu tetangga, kebetulan ada anak yatim juga di situ,” ungkapnya.

Saat itu, terang dia, posisinya tinggal 4 hari akan masuk jatuh tempo untuk tagihan utang 21 juta tersebut. Ternyata, kenang dia lagi, sebelum datang jatuh tempo ia mendapatkan uang sebesar 25 juta. Hal itu diyakininya sebagai bukti kekuatan sedekah yang dilakoninya.

Hari-hari berikutnya, setiap mengalami kesulitan, apapun bentuknya, selalu ia selesaikan dengan jalan sedekah. Sampai hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu pada tahun 2016 bertepatan dengan dibukanya Lesehan Rirana, meskipun saat itu persiapannya masih minim.

Begitu bersyukurnya dia karna pada bulan pertama ia bisa mendapatkan omzet sebesar 9 juta rupiah. Bulan berganti tahun omzet dari usaha membuka lesehan semakin meningkat, sampai sebelum datangnya prahara covid-19 yang melanda seluruh dunia.

“Sebelum covid itu kita bisa mendapatkan sampai 50 juta sebulan, bersih. Nah setelah covid ini belum ada apa-apa. Masih sekedar bisa menggaji karyawan saja,” jelasnya.

Kendati demikian, ia masih surplus dari cabang usaha yang lain, ditambah gaji dia dan istrinya sebagai dewan. Kini sosok Tanwir dikenal sebagai politisi sukses yang suka bersedekah, bahkan oleh pegiat budaya peresean memberikan predikat “Sang raja sawer” kepada Tanwirul Anhar.

Memiliki kekayaan miliaran rupiah, pengalaman politik mumpuni serta memiliki modal sosial yang merata di hampir semua kecamatan, Tanwir menjelma menjadi Tokoh Politik Lombok Timur yang mulai banyak disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon Bupati Lotim 2024 mendatang

Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir, ia santer digadang-gadang akan menjadi salah satu kandidat yang akan ikut bertarung pada pilbup mendatang. Bahkan saat dikonfirmasi poroslombok, ia secara terang-terangan mengaminkan hal itu.

“Iya betul, saya akan maju di pilbub 2024 nanti. Dan kita sudah sangat siap dan sangat yakin untuk maju. Doakan saja mudah-mudahan segala ikhtiar kita mendapat ridho dari Allah SWT,” tutupnya.

(anas/pl)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU