LOTIM – PorosLombok.com | Menjelang Bulan Ramadhan 1445 Hijriah, Pemerintah Daerah (Pemda) Lombok Timur terus berupaya memperkuat sektor pangan, terutama terkait kebutuhan komoditi beras.
Upaya itu sebagaimana yang dilakukan Dinas Pertanian (Distan) Lombok Timur melalui Gerakan Tanam Nasional ( GERTAM )dan Gerakan Nasional ( GERNAS ) Padi pada pertengahan Februari lalu sudah mulai panen sebanyak 4.000 hektare dengan menghasilkan 24.000 ton untuk stok Lombok Timur.
Demikian diutarakan Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur Ir. Sahri kepada Awak media.”Pemda dalam hal ini Dinas Pertanian tengah fokus memperkuat pangan, yang dimana upaya tersebut sudah dilakukan lewat GERTAM dan GERNAS yang berhasil memproduksi gabah kering panen sebesar 24.000 ton,” ungkap Sahri, Selasa (27/02/2024).
Dengan tingginya harga beras saat ini, Dinas Pertanian meminta agar masyarakat tidak khawatir akan kondisi beras, mengingat sebentar lagi masyarakat yang menanam secara reguler akan panen, ditambah dengan panen raya pada April mendatang.
“Masyarakat tidak perlu panik dengan kondisi beras yang sekarang, karena sebentar lagi masyarakat yang menanam reguler akan panen ditambah lagi dengan panen raya pada bulan April,” ujarnya.
Berkaca dari kondisi yang sekarang, Sahri mengajak petani untuk mengadopsi cara bertani orang terdahulu, yang dimana setelah menyelesaikan zakat, padi tersebut disimpan sesuai kebutuhan sebagai bekal sampai datang masa panen berikutnya.
“Ini yang paling penting, untuk kemudian mengikuti budaya panen orang terdahulu, artinya kita perkirakan berapa kebutuhan kita sampai menjelang panen berikutnya, sehingga aman kita,” ajaknya.
Di sisi lain, Sahri memberikan warning terhadap pengepul Padi yang nakal, untuk tidak mempermainkan harga sehingga masyarakat tergoda menjual semua hasil panennya.
” Yang jelas untuk mengantisipasi itu kita akan perbanyak sosialisasi, dan tentu apabila harga dan stok stabil akan memperkecil ruang pengepul nakal,” tegasnya.
Lebih jauh mantan Kepala Dinas Perkim itu kembali menegaskan Pemerintah terus berupaya menjamin keseimbangan harga dan stok, karena jika harga tinggi yang diuntungkan petani, tatapi yang resah ibu rumah tangga. begitupun sebaliknya.
“Kalau harga naik ibu rumah tangga teriak begitu juga sebaliknya, inilah kemudian yang sedang diseimbangkan agar semua tersenyum,” pungkasnya.
(Anas/PL)















