Nasional, PorosLombok.com – Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menembus angka Rp 16.000 per dolar AS. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyebut pelemahan ini tak lepas dari pengaruh ketidakpastian global, terutama terkait kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Melansir Kompas.com, Perry menyoroti langkah AS yang semakin protektif di sektor perdagangan, seperti kenaikan tarif impor, sebagai salah satu penyebab utama. Kebijakan ini, menurutnya, memperburuk fragmentasi perdagangan global dan mengacaukan rantai pasok internasional.
Akibat kebijakan tersebut, inflasi global terkerek naik, memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed). Hal ini berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar sejumlah mata uang, termasuk rupiah.
“The Fed cenderung mempertahankan suku bunga lebih lama karena inflasi di AS masih tinggi,” ujar Perry, Senin (17/12).
Perry menambahkan, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor lain. Kondisi ini menarik dana investor global untuk berbondong-bondong masuk ke pasar AS, sehingga makin menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Secara bulanan, nilai tukar rupiah tercatat melemah 1,37 persen, sementara secara tahunan tertekan hingga 4,16 persen. Namun, Perry memastikan pelemahan ini masih terkendali.
“Banyak mata uang lain melemah lebih tajam dibanding rupiah,” tegas Perry, dikutip dari Kompas.com.
Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI akan memanfaatkan berbagai instrumen moneter untuk mengendalikan inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menarik lebih banyak investasi asing.
“Stabilitas rupiah adalah prioritas kami. Kami yakin dengan kebijakan yang tepat, nilai tukar akan kembali stabil,” pungkas Perry optimistis.
(Arul/PorosLombok)














