PorosLombok.com – Sejumlah wali murid di Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur meluapkan kekecewaannya setelah mendapati menu roti program Makan Bergizi Gratis yang dinilai tidak layak konsumsi oleh siswa sekolah pada Rabu (11/3/2026).
Video amatir yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kondisi makanan bertekstur sangat keras sehingga memicu kekhawatiran besar orang tua mengenai standar nutrisi yang dijanjikan pemerintah pusat bagi para siswa penerima manfaat saat ini.
“Bukan masalah bersyukur, tapi layak tidak dimakan anak-anak. Ini butuh air satu liter buat mencerna roti ini. Kasian kan kalau dibuang mubazir, kita butuh kualitas nyata,” tulis akun @Jihan Mykekey.
Warganet tersebut mengkritik tajam kualitas pangan yang didistribusikan karena dianggap terlalu padat dan berisiko tinggi mengganggu pencernaan anak saat dikonsumsi secara langsung di sekolah tanpa adanya tambahan nutrisi cair lainnya.
“Siapa ahli gizinya? Masyaallah kok begini yang dikasih. Ini SPPG 2 Suralaga, gizinya di mana? Ini butuh satu liter air baru bisa kita makan agar tidak tersedak saat menelan,” teriak wali murid.
Masyarakat mempertanyakan keberadaan tenaga profesional yang seharusnya menjamin mutu sajian mengingat program ini menggunakan anggaran negara yang sangat besar namun di lapangan justru hanya menyuguhkan gumpalan tepung mengembang tanpa gizi.
“Kalau begini bisa keselek kita makan. Ini bukan masalah bersyukur, tapi ini tidak layak dimakan karena hanya tepung dan mengembang saja tanpa ada campuran bahan yang bergizi,” keluhnya.
Kritik pedas terus mengalir deras lantaran publik menganggap pemberian kudapan roti tersebut memicu pemborosan keuangan negara karena banyak siswa justru memilih membuang makanan tersebut akibat rasa dan tekstur yang dianggap sangat tidak bersahabat.
Merespons kegaduhan yang berkembang pesat di jagat maya tersebut, pihak pengelola program akhirnya angkat bicara untuk memberikan penjelasan resmi guna menjernihkan persoalan terkait kualitas mitra penyedia makanan di wilayah kecamatan.
“Kami mengambil roti dari UMKM. Kebetulan saat kami ambil rotinya baru matang dan masih hangat. Tampilannya menarik dan harganya juga sesuai dengan bajet yang ada saat ini,” kata Kepala SPPG Suralaga 2 Nisa Alistiana.
Nisa tidak menampik bahwa roti yang memicu kegaduhan tersebut memang didistribusikan oleh pihaknya melalui skema kemitraan dengan pelaku usaha mikro kecil di wilayah setempat guna mendukung ekonomi lokal namun tetap berupaya menjaga mutu.
“Kami pesan harga 15 ribu rupiah, sedangkan roti bulat untuk porsi B3 harganya 10 ribu rupiah. Kami juga sudah mengonfirmasi ke suplier terkait masalah teknis ini,” jelas Nisa.
Berdasarkan keterangan penyedia barang, keluhan mengenai tekstur roti tersebut baru pertama kali terjadi meski beberapa dapur program serupa di wilayah lain juga memesan produk dari UMKM yang sama tanpa ada laporan masalah kualitas sebelumnya.
“Menurut suplier baru kali ini ada yang komplain. Banyak dapur lain juga memesan roti dari UMKM tersebut sebagai menu mereka dan belum pernah ada laporan komplain sebelumnya,” beber Nisa.
Pihak manajemen dapur berjanji akan melakukan audit internal secara menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok makanan guna memastikan insiden memalukan yang merugikan nama baik program nasional ini tidak terulang kembali pada masa yang akan datang.
“Pihak suplier juga telah menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada kami atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh para orang tua siswa terkait kualitas roti tersebut,” ungkap Nisa.
Langkah evaluasi ini mencakup peninjauan kembali kontrak kerja sama dengan vendor lokal untuk memastikan bahwa setiap butir makanan yang sampai ke tangan anak didik telah melalui uji kelayakan serta pengawasan ketat dari tenaga ahli gizi lapangan.
“Ke depan kami akan lebih selektif dalam memilih UMKM yang menjadi mitra suplier, terutama yang produknya benar-benar berkualitas untuk dikonsumsi langsung para siswa kita,” pungkasnya.*


















