PorosLombok.com – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bergerak cepat merespons musibah kebakaran yang menghanguskan asrama putra Pondok Pesantren Safinatunnaja NW Repok Oat. Bencana ini melanda Desa Pengadang, Praya Tengah, Lombok Tengah, Selasa (23/3/2026).
Juru Bicara Pemprov NTB Ahsanul Khalik menjelaskan sebanyak 150 santri kehilangan tempat tinggal sementara dan saat ini sedang menempati lokasi evakuasi. Pemerintah memastikan kondisi fisik dan psikis para santri tetap menjadi prioritas penanganan pasca insiden tersebut.
”Berbagai perlengkapan pribadi seperti kasur, pakaian, hingga kitab suci milik para santri musnah tidak tersisa,” jelasnya.
Ahsanul Khalik menegaskan Gubernur NTB langsung memerintahkan Dinas Sosial dan BPBD untuk mengirim bantuan logistik secara cepat. Langkah ini bertujuan agar kebutuhan primer para santri terdampak dapat terpenuhi dalam waktu singkat tanpa kendala birokrasi.
”Arahan Bapak Gubernur jelas, kebutuhan dasar para santri harus segera terpenuhi melalui distribusi bantuan logistik secepatnya,” ujarnya.
Pemerintah memprioritaskan pengiriman paket makanan siap saji, tenda gulung, selimut, serta kebutuhan khusus anak guna menjamin kesehatan para korban. Ahsanul Khalik memastikan seluruh tim teknis di lapangan bekerja ekstra cepat untuk mendistribusikan bantuan tersebut.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar Santri Jadi Prioritas Utama
Ahsanul Khalik mengungkapkan bahwa proses penyaluran bantuan saat ini berjalan lancar dan pengurus pondok pesantren sudah menerima kiriman tersebut di lokasi. Pihaknya terus berkoordinasi dengan otoritas setempat guna memastikan bantuan terdistribusi secara merata kepada seluruh santri.
”Kami siaga memberikan bantuan darurat tambahan guna mendukung penuh penanganan pasca kebakaran di lingkungan pondok,” katanya.
Pemerintah provinsi kini tengah menyiapkan dukungan tambahan untuk proses rehabilitasi bangunan asrama putra yang terdampak cukup parah. Personel kebencanaan terus memantau situasi di lapangan guna memastikan keamanan lokasi dari potensi munculnya titik api susulan yang genting.
”Seluruh jajaran pemerintah akan terus mendampingi para santri hingga fasilitas asrama kembali layak mereka tempati,” jelasnya.
Komitmen ini bertujuan agar aktivitas belajar mengajar di Pondok Pesantren Safinatunnaja dapat segera berjalan normal kembali tanpa kendala. Pemerintah Provinsi NTB berupaya maksimal agar trauma para santri segera pulih melalui penanganan yang komprehensif.
”Kami pastikan penanganan pasca bencana ini berlangsung cepat dan menyeluruh untuk melindungi masa depan para santri,” pungkasnya.
Untuk diketahui, peristiwa bermula pada hari senin (24/03/2026). saat kobaran api muncul dari salah satu kamar santri sekitar pukul 12.00 WITA akibat dugaan korsleting listrik. Para penghuni asrama yang terkejut langsung berhamburan menyelamatkan diri sambil melaporkan kejadian kepada pengurus pondok pesantren.
Api dengan cepat membesar dan melahap sebagian besar bangunan asrama meskipun santri berupaya memadamkan secara manual menggunakan peralatan seadanya. Tim Pemadam Kebakaran Lombok Tengah segera mengerahkan unit armada ke lokasi guna mencegah perambatan api ke gedung madrasah lainnya.
Petugas pemadam kebakaran berhasil menjinakkan si jago merah dalam waktu singkat sehingga tidak menimbulkan korban jiwa di lokasi kejadian. Namun, dampak kerusakan material bangunan sangat masif karena sedikitnya 16 kamar asrama hangus terbakar dengan kondisi rusak berat.*
















