PorosLombok.com – Kabupaten Lombok Timur mengukuhkan posisinya sebagai lumbung ternak utama di Nusa Tenggara Barat dengan total populasi mencapai 130.000 ekor guna menjamin pasokan hewan kurban aman terkendali.
Dominasi populasi ini membuat daerah tersebut tidak hanya mandiri secara pangan, tetapi juga menjadi tulang punggung bagi pemenuhan kebutuhan protein hewani di kabupaten tetangga. Kelimpahan stok lokal ini menjadi kunci stabilitas harga di pasar.
“Kalau bicara kebutuhan Lombok Timur, insyaallah terpenuhi walaupun kita tidak mendatangkan ternak dari daerah lain,” ujar Kepala Disnakkeswan Lombok Timur Haji Mashur, Kamis (30/4/2026).
Haji Mashur menegaskan bahwa kapasitas produksi peternak lokal saat ini sudah lebih dari cukup untuk menutupi tingginya permintaan menjelang hari raya. Kualitas sapi potong dari wilayah ini juga dikenal unggul sehingga banyak diminati konsumen luar.
Lebih dari separuh dari total populasi yang ada merupakan kategori sapi potong siap jual yang tersebar di berbagai sentra peternakan rakyat. Kekuatan stok ini memposisikan Lombok Timur sebagai penentu arus perdagangan ternak di Pulau Lombok.
“Populasi kita hampir 130 ribu ekor, dari total itu bahkan lebih dari 50 persennya adalah sapi potong,” katanya.
Data menunjukkan tren ketergantungan wilayah lain terhadap pasokan dari Lombok Timur terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini terlihat dari pergerakan pembeli yang didominasi oleh pedagang besar dari wilayah perkotaan seperti Mataram.
Kabupaten tetangga seperti Lombok Barat dan Lombok Tengah juga menggantungkan pemenuhan hewan kurban mereka pada ketersediaan stok di bumi Patuh Karya. Tingginya serapan pasar luar daerah membuktikan kepercayaan publik terhadap kesehatan ternak lokal.
“Lombok Timur bukan hanya melayani warga sendiri, banyak pembeli dari Mataram dan kabupaten lain mencari sapi di sini,” jelasnya.
Meski permintaan melonjak, pemerintah daerah tetap memberlakukan kebijakan ketat terkait pengiriman ternak antarpulau untuk menjaga keamanan hayati. Analisis risiko saat ini tengah diperdalam guna melindungi populasi lokal dari potensi penyakit menular.
Pengetatan lalu lintas hewan ini dilakukan agar lonjakan populasi yang terjadi tahun lalu bisa terus dipertahankan secara berkelanjutan. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan setiap ekor hewan yang keluar masuk telah melalui uji klinis yang sah.
“Berdasarkan catatan kami, terjadi lonjakan permintaan kurban yang semula 1.600 ekor pada 2024 menjadi 3.200 ekor lebih pada 2025 lalu,” pungkasnya.*
















