PorosLombok.com – Sebuah permainan bola sore yang ceria berubah menjadi petaka memilukan setelah seorang remaja 13 tahun, Umbuh, hilang ditelan arus sungai yang meluap di kawasan Perumahan Griya Menang Asri, Desa Kuripan.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi para orang tua mengenai bahaya bermain di bantaran sungai, terutama saat intensitas hujan meningkat yang memicu arus liar. Kejadian nahas tersebut dilaporkan terjadi pada Selasa (28/4/2026) sore.
“Tim gabungan saat ini masih terus berjibaku melakukan pencarian di sepanjang aliran sungai Griya Menang Asri,” ujar Koordinator Lapangan SAR Mataram Dewa Gede Kerta, Rabu (29/4/2026).
Dewa menekankan bahwa pencarian difokuskan pada titik-titik pusaran air yang berpotensi menahan tubuh korban. Tim rescue bekerja cepat melawan waktu sebelum debit air semakin tinggi akibat potensi hujan susulan di hulu.
Petaka bermula ketika bola milik rombongan remaja ini terlempar ke aliran sungai yang sedang melaju kencang. Tanpa pikir panjang, Umbuh mencoba menjangkau benda tersebut tanpa menyadari licinnya tebing bantaran yang ia pijak.
Remaja malang itu terpeleset dan langsung terhempas ke dalam air yang keruh. Saksi mata menyebut tubuh korban sempat timbul tenggelam sebelum akhirnya benar-benar hilang disapu kekuatan arus sungai yang tak terbendung.
“Kondisi arus sungai yang cukup deras saat itu membuat tubuh korban terseret hingga hilang dari pandangan,” jelasnya.
Upaya penyelamatan skala besar segera melibatkan Kantor SAR Mataram, Polsek Kuripan, hingga bantuan tenaga dari BPBD Lombok Barat. Personel di lapangan menggunakan peralatan khusus untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah permukaan air.
Kehadiran Babinsa dan Bhabinkamtibmas di lokasi juga bertujuan untuk memberikan edukasi langsung kepada warga agar menjauh dari bibir sungai selama proses pencarian. Langkah ini penting guna mencegah terjadinya kecelakaan tambahan di area pencarian.
Masyarakat perumahan Griya Menang Asri turut memberikan dukungan logistik dan informasi mengenai jalur-jalur tikus di sepanjang aliran sungai. Kerja sama antara otoritas formal dan warga lokal menjadi harapan utama dalam misi kemanusiaan ini.
Tim gabungan terus menyisir setiap sudut sungai searah arus dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda signifikan mengenai keberadaan Umbuh di sepanjang lintasan pencarian yang telah dipetakan oleh petugas.
“Kami terus berkoordinasi lintas sektor agar penanganan musibah ini terorganisir dengan baik sehingga korban bisa segera ditemukan,” pungkasnya.*















