LOTIM – PorosLombok.com | Sosialisasi Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang lebih populer disebut Empat Pilar MPR RI, merupakan salah satu upaya penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat.
Untuk itu, calon petahana yang saat ini masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Dapil NTB sekaligus sebagai anggota MPR RI Ir.H. Achmad Sukisman Azmi (ASA) gelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan yang merupakan kegiatan resmi MPR. Kegiatan ini merupakan perintah dari UU No 17 Tahun 2014.
Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar kali ini dihadiri oleh sebanyak 160 orang pekasih dari sepuluh kecamatan yang ada di Lombok Timur, bertempat di Aula Pondok Pesantren (Ponpes) Buak Ate Kembang Mate Dusun Letok, Desa Rumbuk Timur, Kecamatan Sakra pada Senin 22 Januari 2024.
Dalam pemaparannya Sukisman menyampaikan bahwa kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan merupakan kegiatan yang sangat penting bagi penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara, khususnya terhadap masyarakat kaum milenial yang tidak mendapatkan pelajaran tentang empat pilar yang memadai di sekolah.
“Nah itulah sebabnya kenapa sosialisasi empat pilar kebangsaan ini menjadi penting. Karna lemahnya penghayatan dan pengamalan agama karna sekarang pelajaran agama sudah semakin berkurang,” ujarnya.
Selain itu, Indonesia merupakan negara besar, wilayah yang luas, dan memiliki penduduk yang majemuk. Berdasarkan data BPS, Indonesia memiliki 1.128 suku bangsa dan bahasa, beragam agama dan budaya di sekitar 17.508 pulau.
Kekayaan itu juga menjadi tantangan karna berpotensi terjadi disintegrasi bangsa. Untuk itu diperlukan suatu konsepsi kebangsaan dan kenegaraan yang antara lain berkaitan dengan dasar negara, konstitusi negara, bentuk negara, dan wawasan kebangsaan yang sesuai dengan karakter Indonesia.
Tantangan lainnya, keadilan dan kesejahteraan serta penegakan hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan bagi semua, juga dapat memicu terjadinya perpecahan. Kekinian, kewenangan penuh pemerintah daerah dalam mengelola wilayahnya melalui otonomi daerah, mulai diganggu oleh pusat.
“Nah ini juga yang menjadi kekhawatiran sekarang ini. Disentralisasi kemarin sudah diberikan kita otonomi daerah dan sudah kita jalani. Sekarang setelah adanya UU Cipta Kerja, ditarik lagi kewenangan ini. Nah ini juga menjadi kekhawatiran terhadap keutuhan bangsa,” sebutnya.
Selain itu juga, semakin berkurangnya tokoh publik pigur yang menjadi panutan di tengah-tengah masyarakat menjadi tantangan di tengah masyarakat Indonesia yang masih menganut prinsip paternalistik. Syukurnya, di pulau lombok masih banyak terdapat para Tuan Guru yang dijadikan panutan oleh masyarakatnya.
Selanjutnya, pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dan persaingan antar bangsa yang semakin tajam. Selain juga, kemajuan teknologi informasi yang semakin tidak terbendung menjadi pintu masuknya budaya asing yang semakin hari semakin merajalela.
“Bayangkan saja, dengan kemajuan internet, anak-anak kita sekarang sudah terasa asing dengan lingkungannya. Malah orang-orang jauh di luar negeri sana lebih dikenal. Jadi banyak kekhawatiran yang bisa menyebabkan keretakan,” paparnya.
Oleh karna itu, pria dengan akronim nama ASA itu kembali menegaskan pentingnya membentengi masyarakat dan generasi bangsa dengan mensosialisasikan dan mengamalkan kembali Empat Pilar Kebangsaan. Yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.
“Oleh karna itu, mari kita sosialisasikan kembali Empat Pilar Kebangsaan ini kepada seluruh masyarakat dan anak cucu kita, sekaligus mempedomani dan mengamalkannya demi keutuhan NKRI,” demikian Sukisman.
(Anas/PL)















