PorosLombok.com | LOTIM –
Sebagai bentuk perhatian kepada para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dosen yang tergabung dalam Komunitas Persatuan Dosen Universitas Indonesia (UI) menjadikan Event Rinjani 100 sebagai ajang silaturrahmi dengan para UMKM binaannya yang ada di Sembalun.
Diketahui pada saat gempa bumi melanda Lombok pada 2018 yang lalu, kelompok dosen yang tergabung dalam Komunitas Persatuan Dosen UI ini gencar melakukan berbagai pelatihan untuk UMKM yang ada di sembalun.
“Setelah 3 tahun lamanya tak bersua, kami hadir di acara ini sekaligus temu kangen dengan beberapa UMKM binaan kami pada 2018 silam,” ucap Dr Rambat Lupiyoaidi selaku ketua Kelompok untuk Jurusan Ekonomi Minggu (5/06)
Ia menceritakan perjalanannya beserta para Dosen UI yang lain dalam melakukan pelatihan bagi masyarakat Sembalun. Bermula ketika gempa bumi pada 2018 silam, dimana pelaku UMKM termasuk dalam masyarakat berpendapatan rendah, tetapi banyak dari mereka merupakan tulang punggung atau tameng terdepan dalam menghadapi ketidakstabilan ekonomi akibat gempa bumi ini.
Melihat potensi alam sembalun yang begitu besar, terlebih lagi dalam segi petani bawangnya, ia dan kelompoknya tergerak untuk mengembangkan potensi mereka.
“Keadaaan demikian mendorong kami untuk mencoba melakukan berbagai upaya, dimana kondisi pengusaha mikro dengan segala keterbatasan yang dimilikinya berusaha untuk bertahan sebagai imbas dari kondisi melemahnya perekonomian yang berdampak pada lemahnya daya beli masyarakat. Selanjutnya kondisi yang demikian diperlukan usaha yang inovatif untuk mampu bertahan dari jurang degradasi usaha,” katanya.
Oleh karena itu sambungnya Kelompok Perkumpulan Dosen UI yang tergabung dari berbagai Fakultas, diantaranya Fakultas Ekonomi, Kesehatan, Sosial, dan juga Pertanian mencoba melakukan berbagai pelatihan. Namub ada dua fokus pelatihan yakni Pengembangan kelompok tani dan juga tentang Digital Entrepreneur.
Ia menjelaskan dalam hal ini UI juga terlebit dalam pembinaan UMKM yang ada di sembalun dari 2018, dimana yang dibina itu awalnya adalah black garnik namun sekarang sudah merambah ke berbagai produk, satu diantaranya adalah produk rengginang yang terbuat dari wortel.
Lebih jauh menurutnya, pelatihan tersebut diadakan sebagai bentuk perhatian dengan kontribusi positif dari sudut pandang akademis.
“Tujuan dari kegiatan kami ini sebagai wujud pengabdian sehingga memberikan kontribusi positif tentang perubahan mindset untuk adaptif dan bertahan ditengah permasalahan yang melanda masyarakat Sembalun pada khusunya, dan Indonesia pada Umumnya,” tutupnya.
(Arul/PorosLombok)
















