LOTIM – PorosLombok.com | Kabar baik kembali berhembus dari pantai selatan Lombok Timur. Setelah Teluk Telong-elong dijadikan sebagai kampung lobster, kini giliran Desa Ekas Buana yang dijadikan sebagai lokasi budidaya rumput laut skala besar dan industrialisasi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Lombok Timur M. Zainuddin, S.PI.,M.SI mengutarakan, bahwa pihak PT. Sie6 Energy Indonesia telah menunjukkan keseriusannya berinvestasi di daerah ini dengan membeli lahan seluas 1,2 hektar untuk membangun pabrik pengolahan rumput laut, senilai Rp.5 Miliar lebih.
“Jadi di situ nanti ada kegiatan budidaya rumput laut skala besar, sekitar 100 hektar dulu untuk tahap pertama yang dikelola langsung oleh perusahaan,” ungkap Zainuddin.
Menariknya program tersebut, papar Zainuddin, masyarakat langsung yang menjadi mitra dari PT. Sea6 Energy Indonesia, yang dimana rumput laut mentah akan diproses langsung oleh pabrik, tanpa melalui proses penjemuran.
“Jadi diharapkan dengan aktivitas tersebut dapat memperpendek mata rantai penjualan rumput laut yang dibarengi dengan harga tinggi,” sebutnya.
Adapun jenis rumput laut yang akan dibudidayakan dalam skala besar itu adalah cottoni dan spinosum, terutama rumput laut spinosum diproyeksikan menjadi bioplastik, biostimulan dan biofuel. Sedangkan biofuel akan dijadikan sebagai pupuk sampai menjadi bahan bakar.
“Jenis rumput laut yang dibudidaya adalah cottoni dan spinosum, dimana spinosum diproyeksikan menjadi bioplastik yang mudah terurai jika dibuang, kemudian biofuel dijadikan pupuk sampai dengan bahan bakar,” imbuhnya.
Keseriusan program tersebut dikatakan Zainuddin sangatlah tinggi, hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya PT. Sea6 sendiri, Kementerian Maritim dan Investasi, Kementerian Kelautan dan juga BRIN yang dilanjutkan oleh kehadiran Deputi untuk memastikan investasi tersebut berjalan sesuai rencana.
“Untuk memastikan investasi tersebut berjalan Deputi Sumber Daya Maritim turun langsung, terlebih perusahaan Sea6 Energy telah membeli 1,2 hektar lahan untuk pembangunan pabrik,” bebernya.
Lebih jauh dijelaskan mantan Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Lombok Timur itu, semua aktivitasnya menggunakan mesin. Hal itu dapat mempercepat semua proses yang barang tentu akan mengurangi biaya produksi.
“Semua aktivitas menggunakan mesin, bahkan mengikat rumput laut saja menggunakan mesin. Sehingga masyarakat hanya fokus di budidaya saja. Sehingga ini terus kita dorong agar segera dilaksanakan, paling tidak awal 2024,” demikian Zainuddin.
Sebagai tambahan informasi, 95 persen pembudidaya merupakan masyarakat tempatan. Sedangkan untuk karyawan pabrik nantinya akan direkrut dari SMK atau pemuda lokal tamatan SMK.
(Anas/PL)















