Mataram, PorosLombok.com – Kondisi tenaga kesehatan (nakes) di NTB semakin memprihatinkan. Di tengah beban kerja yang tinggi, masih ada nakes yang hanya menerima honor Rp300 ribu per bulan. Jumlah itu bahkan tak cukup untuk membeli bensin agar bisa bolak-balik ke tempat kerja.
Fakta ini diungkapkan Mantan Ketua Umum Ikatan Seluruh Mahasiswa Kesehatan (ISMAKES) Kota Mataram, Abdul Hafidzirrahman. Ia menilai pemerintah belum serius memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan, terutama mereka yang bertugas di daerah.
“Kesejahteraan nakes kita bisa menjadi faktor agar terciptanya pelayanan kesehatan yang prima pada masyarakat. Ini soal dapur. Beban kerja yang banyak, tapi kalau tidak diimbangi dengan honor yang seimbang, bakal bisa membuat stres,” ujarnya, Rabu (12/2).
Menurutnya, tenaga kesehatan adalah ujung tombak pelayanan di fasilitas kesehatan. Namun, kesejahteraan mereka masih jauh dari kata layak.
“Kita sangat sayangkan, pemerintah belum serius memperhatikan kondisi nakes kita yang ada di NTB. Bayangkan saja, masih ada nakes yang memberikan pelayanan setiap hari di puskesmas, tapi mereka hanya mendapat honor tidak lebih dari Rp300 ribu per bulan,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi ini bukan hanya merugikan tenaga kesehatan secara individu, tetapi juga berdampak pada kualitas layanan kepada masyarakat.
“Kalau nakes tidak mendapatkan kesejahteraan yang layak, bagaimana mereka bisa bekerja dengan maksimal? Mereka sudah bekerja keras, tetapi penghargaan yang diberikan masih sangat minim,” tegasnya.
Kondisi di daerah pelosok NTB, menurutnya, lebih parah lagi. Fasilitas kesehatan minim, jumlah tenaga terbatas, dan insentif yang jauh dari standar layak.
Hal ini, kata Hafidzirrahman, menjadi tantangan besar dalam sistem pelayanan kesehatan. Jika kesejahteraan tenaga medis tak segera diperbaiki, dikhawatirkan mereka kehilangan semangat bahkan memilih meninggalkan profesinya.
“Pemerintah harus segera turun tangan. Jangan sampai kesejahteraan nakes di NTB terus terabaikan. Mereka adalah bagian penting dalam sistem kesehatan kita,” ujarnya.
Ia berharap ada langkah konkret dari pemerintah daerah maupun pusat untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan, terutama mereka yang bertugas di daerah terpencil.
Buruknya kesejahteraan nakes bukan hanya persoalan individu, tetapi juga menyangkut masa depan pelayanan kesehatan di NTB. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin masyarakat yang akan menanggung dampaknya.
“Pemerintah harus ingat, tenaga kesehatan yang sejahtera akan memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat,” pungkasnya.
Redaksi | PorosLombok














