PorosLombok.com – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bersama Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal melakukan aksi nyata meninjau proyek ambisius pembangunan fisik serta kesiapan layanan medis di RSUD Kota Bima pada Jumat,(27/02).
​Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa inspeksi mendadak ini sangat krusial guna memastikan proyek raksasa tersebut berjalan sesuai rencana demi memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi rakyat di ujung timur Indonesia.
​Langkah berani ini diambil untuk menjamin seluruh fasilitas canggih dan alat kesehatan modern segera beroperasi guna menghancurkan tembok ketimpangan akses pengobatan yang selama puluhan tahun menyengsarakan masyarakat di wilayah Pulau Sumbawa tersebut.
​”Peralatan medis canggih dan dokter spesialis harus segera siap agar warga Bima maupun Dompu tidak lagi bertaruh nyawa di jalan menuju Mataram,” katanya.
​Pemerintah pusat menyuntikkan dukungan penuh untuk menyulap RSUD Kota Bima menjadi benteng pertahanan kesehatan utama bagi masyarakat agar tidak perlu lagi menempuh perjalanan laut yang sangat berbahaya hanya demi mendapatkan layanan medis spesialis.
​Revolusi Kesehatan Iqbal-Dinda di Pulau Sumbawa
​Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada pemerintah pusat yang telah mengucurkan anggaran besar demi merombak total fasilitas kesehatan di wilayah timur untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat NTB.
​Transformasi radikal ini mencakup kenaikan kelas RSUD Kota Bima menjadi Tipe C dan RSUD H.L. Manambai Abdul Kadir menjadi Tipe B sebagai bagian dari reformasi sistem rujukan regional yang jauh lebih tangguh sesuai amanat undang-undang kesehatan terbaru.
​”Dukungan pusat ini menjadi senjata utama kami dalam memerangi ketertinggalan fasilitas kesehatan di wilayah Pulau Sumbawa,” ujarnya.
​Proyek mercusuar ini merupakan bukti nyata dari janji politik pasangan Iqbal–Dinda yang berkomitmen menghadirkan revolusi pelayanan kesehatan bagi masyarakat di lima kabupaten dan kota yang selama ini merindukan kehadiran fasilitas medis berkualitas.
​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa selama ini penderita penyakit mematikan seperti jantung dan kanker selalu terjebak dalam pusaran rujukan yang sangat rumit karena fasilitas hanya terkonsentrasi di wilayah pusat Provinsi Pulau Lombok.
​Kondisi menyedihkan tersebut memaksa rakyat kecil mengeluarkan biaya ekstra yang sangat mencekik hanya untuk transportasi dan akomodasi selama berobat, yang tak jarang justru memperparah kondisi finansial dan kesehatan mental keluarga pasien tersebut.
​”Ketimpangan medis yang menyakitkan rakyat ini harus kita amputasi dengan memperkuat RSUD Kota Bima secara total,” jelasnya.
​Nusa Tenggara Barat saat ini sedang dikepung ancaman penyakit tidak menular yang sangat mematikan seperti stroke dan kanker yang menjadi mesin pembunuh nomor satu sekaligus pemicu utama kemiskinan akibat kehilangan produktivitas warga usia produktif.
​Gubernur Lalu Muhamad Iqbal mengungkapkan bahwa penguatan RSUD ini adalah strategi tempur untuk menahan laju kerugian ekonomi daerah yang bocor hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya akibat beban penyakit yang tidak tertangani dengan cepat.
​”Negara harus bertindak sebagai pelindung nyawa rakyat dengan menyediakan layanan medis yang setara tanpa pilih kasih wilayah,” tegasnya.
​Data statistik kesehatan yang sangat mengerikan menunjukkan penyakit kanker telah melumpuhkan ribuan nyawa per tahun sehingga pembangunan instalasi kemoterapi di Bima menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi oleh jajaran birokrasi manapun juga.
​Senjata Medis Modern Hadir di RSUD Kota Bima
​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa pasukannya telah dikerahkan yang terdiri dari dokter spesialis bedah saraf, onkologi, hingga urologi untuk memastikan RSUD ini memiliki otak dan keahlian setingkat rumah sakit internasional di Jakarta.
​Persenjataan medis kelas dunia seperti Cathlab jantung, CT Scan resolusi tinggi, dan Mamografi kini resmi didatangkan ke Bima untuk mendeteksi penyakit dalam hitungan detik sehingga nyawa pasien dapat diselamatkan sebelum kondisinya menjadi kritis.
​”Kita sedang membangun standar emas pelayanan medis di wilayah timur agar rakyat bangga dengan fasilitas negaranya,” ucapnya.
​Sejarah mencatat RSUD Kota Bima sebelumnya hanya memiliki 98 tempat tidur yang sangat memprihatinkan untuk melayani ratusan ribu jiwa sehingga pemandangan pasien yang terlantar di selasar rumah sakit menjadi hal yang lumrah dan sangat menyedihkan dilihat.
​Kini, melalui proyek ekspansi besar-besaran, kapasitas rumah sakit diledakkan hingga mencapai 230 tempat tidur yang dilengkapi dengan ruang ICU dan ICVCU super modern untuk menangani kasus kegawatdaruratan yang membutuhkan pengawasan medis 24 jam penuh.
​Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa kehadiran instalasi bedah sentral yang canggih akan mengakhiri masa kelam rujukan manual ke Mataram yang memakan waktu berjam-jam sehingga banyak nyawa melayang sia-sia di tengah perjalanan jauh tersebut.
​Fasilitas instalasi gawat darurat yang mengusung sistem zonasi internasional juga telah disiagakan untuk merespons setiap detik emas penyelamatan nyawa manusia agar tingkat keberhasilan tindakan medis di rumah sakit ini meningkat secara drastis dan signifikan.
​”Sistem kesehatan rujukan tidak boleh lagi diskriminatif terhadap rakyat yang tinggal jauh dari ibu kota provinsi,” tuturnya.
​Armada ambulans tempur yang baru juga dikerahkan untuk menembus wilayah pelosok yang sulit dijangkau guna menjemput pasien kritis dan membawanya ke pusat rujukan regional ini dengan kecepatan tinggi demi menjamin keselamatan jiwa rakyat di Bima.
​Keberhasilan program ini diproyeksikan akan meningkatkan rasio ketersediaan tempat tidur secara signifikan hingga mencapai standar ideal sehingga tidak ada lagi rakyat miskin yang ditolak saat membutuhkan perawatan medis intensif di rumah sakit ini.
​”Kami menargetkan penurunan angka rujukan secara besar-besaran demi menghemat biaya hidup rakyat yang sedang sakit,” katanya.
​Langkah berani membangun kemandirian medis di Pulau Sumbawa merupakan babak baru bagi NTB dalam mewujudkan sistem kesehatan yang inklusif, modern, dan sangat menjunjung tinggi martabat setiap nyawa manusia tanpa memandang status sosial mereka.
​Visi besar ini dipastikan akan membawa angin segar bagi peningkatan indeks pembangunan manusia di wilayah timur NTB yang selama ini tertinggal jauh dan memberikan harapan baru bagi masa depan generasi mendatang yang lebih sehat.*
















