LOTIM – PorosLombok.com | Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pembiayaan pemerintah daerah dan pembangunan daerah yang akan digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan daerah.
Karenanya, capaian PAD dari tahun ke tahun terus dioptimalkan dan dimaksimalkan demi memperlancar jalannya pembangunan di daerah. Menyadari hal itu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lombok Timur terus berupaya meningkatkan PAD dari sektor peternakan.
Hasilnya, capaian PAD dinas tersebut mengalami peningkatan bila dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2022 tercapai sebesar Rp.1,2 miliar dari target sebesar Rp.3 miliar. Kemudian capapian tahun 2023 sebesar Rp.1,7 miliar dari target sebesar Rp.8 miliar.
“Karna target yang terlalu besar maka secara persentase capaian kita rendah. Tetapi bila dibanding tahun 2022, kita mengalami peningkatan sebesar 500 juta,” ungkap Kepala Dinas Peternakan Lotim H. Masyhur, Jum’at (12/1/2024) kemarin.
Peningkatan tersebut, papar dia, dapat terealisasi berkat pola pendekatan yang tepat terhadap dua sumber utama, yakni rumah potong hewan (RPH) dan pasar hewan.
Di tingkat RPH, jelas dia, pihaknya melakukan pendekatan emosional kepada para jagal. Hasilnya, para pelaku usaha (jagal-red) selalu memberikan suport yang positif, terutama menyangkut data populasi ternak yang terpotong.
Variabel lainnnya adalah, pada tahun 2023 Lombok Timur mendapatkan ijin rekomendasi dari Gubernur untuk keluar masuk hewan ternak sebanyak lima ribu. Dari 5.000 ekor yang diberikan ijin, Dinas Peternakan Lotim mampu mengeluarkan dan memasukkan hewan ternak sebanyak 4.902 ekor.
Selanjutnya, target yang diberikan kepada Dinas Peternakan pada tahun 2024 adalah sebesar Rp.4,5 miliar. Berkaca dari hasil capaian tahun 2023, kemudian didukung oleh adanya penambahan kuota dari Gubernur untuk keluar masuk hewan ternak sebanyak 10 ribu ekor, pihaknya optimis mendapatkan hasil yang lebih optimal.
“Nah kalo benar ada penambahan 10 ribu ternak yang bisa masuk dan keluar, Insyaallah akan ada tambahan uang masuk sekitar 500 juta,” ulasnya.
Langkah lainnya yang akan dilakukan oleh dinas tersebut dalam meningkatkan PAD, adalah dengan melakukan penyisiran terhadap aset-aset yang dimiliki oleh Dinas Peternakan. Salah satu yang direncanakan adalah, membentuk Poskeswan Mandiri.
Poskeswan Mandiri tersebut nantinya akan dikelola oleh para dokter hewan yang yang memiliki ijin praktik. Dari praktik tersebut diharapkan menjadi sumber pemasukan dari jasa layanan pihak ketiga.
Selanjutnya, keberadaan tenaga inseminator akan diusahakan dapat menyumbang PAD dari hasil penyimpanan benih/bibit, sembari akan dilakukan evaluasi terhadap apa yang masih kurang dan apa yang kemudian harus disempurnakan. Termasuk jasa-jasa yang lain dari pelayanan dokter hewan.
“Dari kondisi yang sekarang, saya sangat optimis kita bisa mencapai diatas dua miliar, sambil kita terus menggali potensi yang ada. Mudah-mudahan kita bisa mencapai tiga miliar. Jadi target tinggi itu sebenarnya sebagai trigger (pemicu) agar ada upaya lebih untuk meningkatkan PAD kita,” pungkasnya.
(Anas/PL)















