PIT PDSPA 2025 Soroti Krisis Dokter Spesialis di NTB

(PorosLombok.com) – Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomi Indonesia (PDSPA) 2025 di Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkap persoalan serius soal minimnya tenaga dokter spesialis di daerah.

Ketua IDI NTB Rohadi menegaskan, ketersediaan dokter patologi anatomi masih jauh dari kebutuhan, bahkan sejumlah kabupaten belum memiliki tenaga spesialis sama sekali.

“Di era disrupsi saat ini, banyak PR kita. Di antaranya bagaimana kota-kota di NTB bisa diisi dokter patologi anatomi. Untuk itu kaderisasi dan penguatan harus kita perkuat,” ujarnya saat memberi sambutan, Sabtu (6/9).

Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas medis, salah satunya pemeriksaan Immunohistochemistry (IHC) yang masih harus dikirim ke Surabaya. Kondisi ini membuat pelayanan kesehatan di NTB belum maksimal.

“PR kita juga bagaimana bidang teknisi, termasuk IHC, bisa diperkuat di NTB sehingga pelayanan lebih optimal,” jelas Rohadi.

Selain soal sarana, Rohadi menyinggung masalah remunerasi tenaga medis. Menurutnya, banyak dokter di daerah terpencil kesulitan bertahan karena fasilitas terbatas dan hanya bergantung pada satu rumah sakit.

“Kalau tidak ada remunerasi yang layak, mereka mau makan dari mana. Untuk itulah mari kita berjuang bersama,” tandasnya.

Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, membenarkan distribusi dokter patologi anatomi masih timpang. Dari total 42 rumah sakit di NTB, hanya 12 tenaga spesialis yang tersedia dan mayoritas terkonsentrasi di Mataram.

“Ini bagian penting untuk kami sampaikan kepada pimpinan, terutama dari sisi penganggaran,” ucapnya.

Ia menyebut salah satu solusi yang ditempuh Pemprov NTB adalah meningkatkan status sejumlah rumah sakit agar lebih layak menampung dokter spesialis.

“Program pemerintah provinsi adalah menaikkan status rumah sakit menuju tipe B, disertai penguatan sarpras dan SDM kesehatan,” terangnya.

Sementara itu, Ketua PDSPA Diah Rini Handjari menekankan PIT bukan sekadar agenda tahunan, melainkan forum strategis untuk memperbarui ilmu, menyamakan standar praktik, serta menjawab tantangan medis modern.

“Pertemuan ini menjadi wadah pembaruan ilmiah dan harus diturunkan dalam langkah nyata yang dirasakan langsung masyarakat,” pungkasnya

(redaksi/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU