Lombok Timur, PorosLombok.com – Jumlah warga Lombok Timur (Lotim) yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) kini tembus 305 ribu jiwa. Angka ini menjadikan Lotim sebagai penyumbang PMI terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun di balik angka fantastis itu, tersimpan ironi. Sebab, di saat yang sama, masih ada 17 ribu warga Lotim yang menganggur.
Bupati Lotim H. Haerul Warisin alias H. Iron pun angkat bicara. Ia menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang luar biasa, namun juga menyedihkan.
“305 ribu warga kita jadi PMI. Tapi di kampung sendiri, masih ada 17 ribu yang belum punya pekerjaan. Ini luar biasa, tapi juga ironis,” tegas H. Iron saat membuka Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Tenaga Kerja di LLK Selong, Kamis (17/4).
Menurut Ketua Gerindra Lotim itu, membeludaknya PMI mencerminkan semangat kerja dan daya saing masyarakat Lotim di luar negeri. Namun sekaligus menyoroti minimnya peluang kerja yang tersedia di daerah sendiri.
Ia juga menyinggung soal layanan keimigrasian. Dengan angka PMI yang begitu besar, H. Iron mendorong pemerintah pusat agar segera mengubah status Kantor Imigrasi Perbantuan Mataram di Lotim menjadi kantor definitif.
“Kita ini penyumbang PMI terbesar di NTB, tapi masih menumpang urus dokumen ke tempat lain. Sudah saatnya punya kantor imigrasi sendiri,” ketusnya.
Lebih jauh, H. Iron berharap para PMI tidak hanya dilihat sebagai sumber devisa. Pemerintah daerah, kata dia, harus menjadikan fenomena ini sebagai alarm untuk membenahi sistem ketenagakerjaan di dalam negeri.
“Kita harus stop berpikir kerja ke luar negeri itu satu-satunya pilihan. Siapkan keterampilan, buka peluang di dalam daerah,” tandasnya.
(arul | PorosLombok)
















