PorosLombok.com – Tradisi Bau Nyale kembali digelar di pesisir selatan Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ribuan warga berbondong-bondong menuju pantai sejak malam hari demi berburu cacing laut yang diyakini sebagai jelmaan Putri Mandalika.
Sejak matahari tenggelam, kawasan Pantai Seger dan sekitarnya mulai dipadati pengunjung. Ada yang datang berbekal jaring, ember, hingga senter. Mereka bersiap menyusuri pasir dan bebatuan karang demi mendapatkan nyale terbaik.
Menunggu Momen Puncak
Berburu nyale bukan sekadar menangkap cacing laut, tetapi juga tentang kebersamaan dan tradisi turun-temurun. Warga setempat percaya bahwa kemunculan nyale membawa keberkahan. Oleh karena itu, setiap tahunnya, mereka rela begadang hingga dini hari.
“Rasanya seru banget! Kita harus sabar menunggu sampai nyale benar-benar muncul,” kata Rudi, seorang wisatawan dari Mataram.
Benar saja, sekitar pukul 02.00 WITA, teriakan kegembiraan mulai terdengar. Nyale akhirnya muncul! Cacing laut berwarna hijau dan cokelat mulai tampak di antara ombak yang menyapu bibir pantai.
Sensasi Berburu di Tengah Malam
Suasana semakin riuh. Beberapa orang langsung turun ke air, menjaring nyale dengan tangan kosong. Ada pula yang menggunakan ember dan serokan kecil.
“Kalau sudah begini, semua lelah langsung hilang. Apalagi kalau dapat banyak,” ujar Nurhayati, seorang warga Lombok Tengah.
Tak hanya warga lokal, wisatawan juga tak mau ketinggalan. Banyak dari mereka yang baru pertama kali merasakan pengalaman berburu nyale.
“Saya kira ini mudah, ternyata cukup menantang! Harus jeli melihat nyale di antara ombak,” kata Diana, turis asal Jakarta.
Tak Hanya Ditangkap, Tapi Juga Dinikmati
Nyale yang berhasil ditangkap biasanya langsung dibawa pulang untuk diolah menjadi berbagai hidangan khas. Ada yang digoreng, dimasak dengan santan, hingga dijadikan pelengkap sambal.
“Nyale ini rasanya unik, gurih dan sedikit kenyal. Makanya banyak yang suka,” tutur Pak Burhan, seorang nelayan setempat.
Bau Nyale bukan sekadar perburuan cacing laut, tapi juga warisan budaya yang terus lestari. Tradisi ini selalu dinanti, bukan hanya oleh warga Lombok, tapi juga wisatawan dari berbagai daerah.
Nah, kalau kamu belum pernah berburu nyale, siap-siap ikut keseruannya tahun depan! Siapa tahu, kamu bisa menangkap nyale paling banyak.
Redaksi | PorosLombok















