close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

24.6 C
Jakarta
Kamis, Januari 22, 2026

Hujan Terus Mengguyur, Destinasi Wisata Lotim Dibayangi Ancaman Air Bah dan Sampah Kiriman

(PorosLombok.com) – Intensitas hujan tinggi yang terus mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Lombok Timur mulai berdampak pada sektor pariwisata.

Kondisi cuaca ekstrem ini menuntut kesiapsiagaan penuh, terutama di destinasi wisata yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam.

​Staf Khusus (Stafsus) Bupati Lombok Timur Bidang Pariwisata, Ahmad Roji, memberikan peringatan serius agar masyarakat dan pengelola wisata mewaspadai potensi banjir bandang dan tanah longsor. Titik-titik rawan seperti kawasan pantai dan pegunungan kini menjadi atensi utama pemerintah daerah.

​”Contoh Pantai Labuan Haji, tentu sangat rawan. Kita khawatir terjadi banjir kiriman, air bah, dan dampak lainnya,” ungkap Ahmad Roji saat memberikan keterangan kepada PorosLombok, Rabu (07/01/2026).

​Persoalan tidak berhenti pada ancaman fisik air bah semata. Ahmad Roji menyoroti masalah klasik yang selalu berulang setiap musim penghujan: tumpukan sampah yang terbawa arus deras sungai hingga mencemari destinasi wisata.

Menurutnya, Pemerintah Daerah terus berikhtiar mengurai masalah ini, namun kunci utamanya tetap berada pada kesadaran masyarakat. Ia menyayangkan kebiasaan buruk membuang sampah ke aliran air yang masih terjadi.

“Masyarakat jangan buang sampah ke sungai, selokan, atau drainase. Kenapa tidak dikumpulkan di karung, dipilah mana plastik dan mana yang bisa diolah jadi pupuk. Kesadaran masyarakat soal ini harus tumbuh,” tegasnya.

​Menyinggung kondisi di wilayah utara seperti Sembalun, Roji mendorong agar program penghijauan tidak hanya sekadar formalitas.

Ia mengkritik pola penanaman pohon yang selama ini dinilai keliru karena sering dilakukan saat musim hujan akan berakhir. Baginya, saat inilah momentum yang tepat untuk menanam pohon di kawasan yang mulai gundul.

​Ahmad Roji juga melayangkan kritik terhadap masifnya pembangunan vila di perbukitan yang berpotensi menghilangkan daerah resapan air. Ia tidak ingin keindahan alam Sembalun rusak akibat pembangunan yang serampangan.

Kedepannya, ia mendesak adanya intervensi kebijakan, baik berupa Perda maupun Perdes, yang mewajibkan setiap pemilik usaha penginapan untuk melakukan penghijauan.

​”Kita tidak ingin seperti kawasan Mandalika, yang hutan dan bukitnya sudah gundul karena pembangunan vila. Maka ke depan, setiap pembangunan hotel atau penginapan wajib hukumnya dibarengi penghijauan,” imbuh Roji.

​Meski cuaca sedang tidak menentu, Roji memastikan bahwa secara umum destinasi wisata di Lombok Timur masih aman untuk dikunjungi. Berdasarkan pantauan dan koordinasi dengan pihak terkait, belum ada laporan bencana yang signifikan, kecuali insiden pohon tumbang akibat faktor usia.

Saat ini, banyak pemilik penginapan di wilayah selatan dan utara justru sedang fokus melakukan perawatan (maintenance) fasilitas untuk menyambut lonjakan wisatawan di musim panas mendatang.

​Laporan dari lapangan menunjukkan aktivitas wisata di Tetebatu dan Sembalun masih tetap berdenyut, terutama pada akhir pekan. Kendati demikian, Ahmad Roji mengimbau wisatawan untuk lebih selektif dan waspada dalam memilih destinasi, terutama menghindari titik-titik yang berisiko tinggi saat hujan lebat.

​”Wisatawan harus melihat informasi lebih detail. Hindari hal-hal yang berpotensi rawan seperti daerah air terjun dan lereng perbukitan. Paling penting selalu menjaga keselamatan diri, siapkan logistik dan obat-obatan yang cukup, serta selalu pantau prakiraan cuaca dari sumber resmi,” tutupnya.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER