Makna Tradisi Mersin Puasa, Ritual Suci Suku Sasak di Pulau Lombok

Tradisi mersin puasa menjadi simbol penyucian diri Suku Sasak di Lombok. Ritual ini memadukan kesucian hati dan kearifan lokal dalam menyambut ibadah dengan penuh kesadaran spiritual.

Mataram, Poros Lombok – Masyarakat Pulau Lombok memiliki cara unik menyambut bulan suci melalui praktik budaya religius yang warga kenal sebagai tradisi mersin puasa.

Ritual ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan adat Suku Sasak dalam mempersiapkan diri sebelum menjalankan ibadah wajib umat Islam.

​”Mersin dalam bahasa Sasak merujuk pada kegiatan membersihkan, mempersiapkan, atau menyucikan diri secara lahir maupun batin,” ujar Ketua Ikatan Pelajar Majelis Adat Sasak, Lalu Riki Wijaya, Senin (16/02).

​Secara etimologis, istilah tersebut menggambarkan proses pembersihan total agar seseorang benar-benar siap menunaikan kewajiban Ramadan maupun sunnah. Riki menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk nyata kesadaran spiritual tinggi yang penduduk asli miliki di daerah berjuluk Pulau Seribu Masjid.

​”Puasa bukan semata-mata menahan lapar serta dahaga, melainkan laku batin yang menuntut kesiapan moral dan kesucian hati,” katanya.

​Filosofi mendalam yang terkandung di dalamnya mencerminkan upaya manusia menata kembali hubungan harmonis dengan Tuhan dan sesama makhluk hidup. Warga biasanya mewujudkan nilai tersebut lewat kegiatan mandi penyucian serta ziarah ke makam para leluhur sebagai bentuk penghormatan.

​”Aksi nyata lainnya adalah memperbanyak doa serta memohon maaf kepada keluarga maupun warga di lingkungan sekitar,” jelasnya.

​Penguatan Solidaritas dan Identitas Sasak

​Langkah ini berfungsi sebagai sarana introspeksi diri atau mulat sarira untuk menghapus noda kesalahan masa lalu sebelum memasuki fase ibadah. Selain aspek religi, fenomena budaya tersebut memberikan dampak signifikan terhadap penguatan solidaritas komunal dan ikatan kekeluargaan antarwarga desa.

​”Mersin puasa menjadi manifestasi nilai kerendahan hati sekaligus peneguh identitas adat keislaman masyarakat Sasak,” ujarnya.

​Keberadaan ritual ini membuktikan adanya harmonisasi sangat kuat antara ajaran agama dengan kearifan lokal yang nenek moyang wariskan secara turun-temurun. Penduduk terus menjaga tradisi tersebut sebagai warisan berharga yang memberikan warna khas pada praktik keagamaan di wilayah Nusa Tenggara Barat.

​”Ini adalah bukti kesadaran kolektif untuk memulai fase suci dengan kondisi batin yang benar-benar bersih,” tegasnya.

​Melalui pendekatan kultural, Riki mengimbau generasi muda agar terus melestarikan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap jengkal aktivitas adat tersebut. Ia menekankan pentingnya menjaga relevansi tradisi di tengah arus modernisasi yang kian kencang melanda wilayah perkotaan maupun pedesaan.

​”Kami ingin memastikan bahwa akar budaya tetap kokoh menopang spiritualitas generasi masa depan,” ungkapnya.

​Prosesi ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat sisi religiusitas mendalam dari masyarakat lokal di jantung NTB. Keunikan cara pandang Suku Sasak terhadap penyucian diri memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya persiapan mental sebelum beribadah.

​”Kesiapan lahiriah yang dibarengi kemurnian hati akan melahirkan kualitas ibadah yang jauh lebih bermakna,” pungkasnya.

(Poros Lombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU