Poros Lombok –
Desa Loyok Merupakan salah satu Desa Wisata tua yang terletak di Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur, desa nan indah dan menawan, desa anyaman bambu yang melekat sebagai jati dirinya. Inilah sepenggal kisahnya yang sulit terlupakan.
Beberapa tahun silam Desa Loyok merupakan salah satu desa yang terkenal dengan sebutan “Desa Anyaman Bambu” nama desa ini boleh dibilang menggema hingga mancanegara, bagai mana tidak! ketika kita berjalan di pagi hingga menjelang petang, masih tampak lalu lalang para wisatawan asing berjalan kaki, melihat berbagai macam jenis kerajinan anyaman bambu yang berjejer rapi di artshop (Toko Kerajinan) dipinggir jalan.
Berbagai pemandangan menarik tergambar di wajah para pengusaha kerajinan bambu, karena Artshop mereka tak pernah sepi pengunjung, berbagai jenis kerajinan ditawarkan kepada wisatawan, baik tas bambu, dompet, gegandek, dungki , keben dan lain-lain. Sehingga perekonomian masyarakat bisa terangkat bahkan orang-orang yang menggeluti usaha tersebut boleh dikatakan orang-orang yang kaya pada zamannya.
Kalau kita menengok beberapa tahun kebelakang, tentu desa ini merupakan desa yang cukup maju, bahkan waktu itu Desa Loyok tidak termasuk desa yang berpredikat Inpres Desa Tertinggal (IDT). krisis moneter beberapa tahun yang lalu tak terlalu dirasakan oleh masyarakat setempat, Karena selain menganyam masyarakat juga bergelut dalam pertanian.
Sawah-sawah hijau membentang terlihat tumbuh subur, sayur mayur tetap tumbuh di pematang sawah petani, sehingga masa krisis Moneter bukan masalah bagi masyarakat desa Loyok kala itu. Bahkan pada lomba desa, Desa Loyok selalu jadi jawara, karena dari segi keindahan alamnya dan kebersihan lingkungannya tentu tidak diragukan, apalagi sumber daya manusianya (SDM) yang cukup mempuni.
Namun seiring waktu berjalan kemajuan Desa Loyok semakin menurun sejak tragedi Bom bali tahun 2005 yang silam, sejak saat itu sudah tidak ada lagi wisatawan berambut pirang dengan pakaian sedikit minim berjalan di pinggir jalan, para pengusaha anyaman bambu mulai lesu, satu persatu Artshop mulai mati suri, bahkan ada beberapa yang gulung tikar.
Berbagai upaya sudah dilakukan, bahkan sampai promosi habis-habisan, sejumlah pengusaha Artshop juga sampai menggunakan sistem order, yakni langsung di ekspor namun lagi-lagi itu tak berlangsung lama, mungkin efek Bom Bali masih terasa. Dari hari-kehari kemunduran pariwisata Desa Loyok semakin terjun bebas, bahkan para perajin anyaman bambu harus rela melihat hasil karyanya terpajang rapi di pojok-pojok rumah mereka, karena tak ada yang datang untuk membelinya.
Di tahun 2018 silam datang secercah harapan karena pesanan mulai rame dari luar kota, terlihat beberapa kelompok pengerajin mulai bekerja. Begitu nampak wajah syukur diraut wajah para mereka, karena parajin ini kembali lagi menekuni pekerjaannya, walaupun omzetnya tidak sebanyak dulu, namun rasa syukur itu tetap terucap.
Namun itupun tak berlangsung lama, pada 2020 Pandemi Covid-19 kembali menghantam usaha mereka bahkan lebih parah dampaknya dari Bom bali, karena banyaknya pembatasan dan penyekatan membuat roda perekonomian semakin terpuruk. Namun harapan mulai datang kembali setelah beberapa pelaku pariwisata melakukan inovasi yang tiada henti.
Banyaknya diadakan event-event besar mulai ajang Best Tourism Village yang diselenggarakan oleh World Tourism Organization (UNWTO) dan MotoGp Mandalika, di tahun 2021 para pelaku Wisata mulai melakukan inovasi karena melihat peluang ini cukup bagus, sehingga banyak dibangun tempat -tempat wisata seperti Praja Cofee yang terletak di Dusun Ajan dan beberapa tempat lainnya.
Dengan adanya obyek wisata alam Praja Cofee seolah sebagai magnet baru pariwisata Desa Loyok, membuat para pejabat negara tertarik dengan tempat ini, bahkan tak jarang ada yang mampir dan menginap, dari Bupati hingga Gubernur, ‘Praja Cofee akan kita jadikan titik awal kebangkitan pariwisata Desa Loyok,” kata M.Isnaini owner Praja Cofee saat ditemui beberapa waktu yang lalu. Pria yang akrab dipanggil Guru Is ini, merupakan salah satu orang yang memotori terbentuknya wisata alam di Desa Loyok.
Melihat perubahan Desa Loyok saat ini terasa hawa-hawa kebangkitan kembali kejayaan pariwisata desa ini, namun tak tahu kapan itu akan terjadi, tentu masyarakat menunggu masa-masa itu, dan ditangan siapa akan terwujud kita tunggu pemimpin visioner selanjutnya. Seperti di sebuah batu yang ditemukan beberapa tahun lalu pada saat pembangunan Masjid Jami’ syafaatul Jinan yang dimana bertuliskan “Lestariku ada di Tanganmu,” ini merupakan sebuah pesan bahwa kemajuan desa ini ada pada masyarakatnya.
(Arul/ Poros Lombok)


















