Tradisi Roah 1001 Tebolak Beak Sambut Ramadhan di Lombok Timur

Langkah kaki ribuan warga membelah sunyi Makam Batu Ngereng, membawa doa dan dulang merah demi merawat rindu pada leluhur jelang Ramadhan yang suci.

Lombok Timur, Poros Lombok – Iring-iringan ratusan perempuan yang menjunjung dulang di atas kepala terlihat memadati jalur menuju Pemakaman Batu Ngereng, Desa Gelanggang, Sakra Timur, Lombok Timur.Kamis (12/02) siang.

​Ritual tahunan bertajuk Roah 1001 Tebolak Beak ini diselenggarakan secara kolosal oleh gabungan warga dari tiga desa berbeda guna menyambut Ramadhan.

​”Roah 1001 Tebolak Beak memang sudah menjadi kebiasaan secara turun-temurun masyarakat di sini, yang dilaksanakan menjelang tibanya bulan suci Ramadhan,” kata Ketua Panitia, Ibrahim.

​Tradisi tersebut dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Desa Gelanggang, Desa Lepak, serta wilayah Sakra Timur sebagai bentuk pelestarian warisan luhur yang telah dijaga dengan sangat konsisten oleh penduduk setempat.

​”Ini selalu kami laksanakan setiap tahun,” imbuhnya.

​Seluruh warga dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mempererat silaturahmi melalui prosesi makan bersama yang dikenal dengan istilah lokal begibung di area pemakaman.

​”Gelaran Roah 1001 Tebolak Beak ini dilakukan sebagai bentuk merawat rasa persaudaraan antarwarga di tiga desa tersebut yang secara simbolis diwujudkan melalui kegiatan begibung atau makan bersama dalam satu nampan,” jelas Ibrahim.

​Nama unik tradisi ini diambil dari penutup dulang berwarna merah mencolok yang dibawa oleh ribuan masyarakat saat berjalan beriringan menuju lokasi pemakaman umum tersebut.

​”Untuk itulah kita sebut sebagai Roah 1001 Tebolak Beak, karena tebolak atau penutup dulang yang dibawa warga tersebut memang memiliki kekhasan warna merah yang sangat ikonik,” terangnya.

Filosofi Kebersamaan di Makam Leluhur

​Masyarakat setempat mengawali prosesi sakral ini dengan menggelar tausiah bersama tokoh agama guna mempertebal nilai religius bagi seluruh warga sebelum memasuki bulan puasa.

​”Di dalam filosofi Roah 1001 Tebolak Beak ini terkandung semangat kebersamaan, kekeluargaan, silaturahmi, pengajian agama, serta zikir dan doa yang dipanjatkan secara tulus oleh seluruh masyarakat,” kata Ibrahim.

​Pemakaman Batu Ngereng dipilih sebagai lokasi pusat kegiatan karena area tersebut merupakan tempat peristirahatan terakhir yang sangat disakralkan bagi para leluhur yang berasal dari tiga desa bertetangga tersebut secara turun-temurun sejak zaman dahulu kala oleh para warga setempat.

​”Tempat ini merupakan sentral pemakaman yang ada di wilayah tiga desa serta menjadi lokasi dimakamkannya para orang tua dan pendahulu kami yang telah berjasa besar di wilayah Sakra Timur ini,” jelasnya.

Makna Kesetaraan dalam Ritual Begibung

​Alur kegiatan kemudian berlanjut pada penjelasan mendalam mengenai makna kesetaraan sosial yang disampaikan oleh sosok panitia penyelenggara lainnya bernama Zirhan dalam kesempatan yang sama.

​”Rowah ini bermakna menjaga silaturahmi, semua keluarga kita undang dan dulang yang dibawa warga ini kita makan bersama-sama tanpa memandang siapa pun,” ujar Zirhan.

​Berbagai jenis makanan yang disajikan di dalam dulang tersebut disantap bersama tanpa memandang status sosial oleh seluruh warga guna menciptakan suasana harmoni yang sangat kental dan tulus di tengah lingkungan masyarakat desa setempat tanpa adanya sekat pemisah strata.

​”Di hadapan Allah SWT semua kita sama, tanpa memandang warna kulit, status sosial, pejabat atau masyarakat biasa semua berbaur menjadi satu melalui kegiatan ini,” ucapnya.

​Kegiatan pendukung seperti membersihkan area perkuburan serta memperbaiki berbagai fasilitas makam yang rusak juga diagendakan oleh Zirhan bersama masyarakat sebelum memasuki hari puncak pelaksanaan tradisi agar lokasi tampak asri dan nyaman digunakan oleh peziarah.

​”Biasanya masyarakat akan membersihkan makam, memperbaiki fasilitas yang kurang, dan melakukan kegiatan lainnya sebelum hari puncak tiba,” jelas Zirhan.

​Seluruh rangkaian acara yang penuh khidmat ini ditutup dengan ziarah kubur serta pembacaan doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi anggota keluarga yang telah meninggal dunia secara kolektif oleh ribuan orang yang hadir di lokasi pemakaman tersebut.

​”Melalui kegiatan ini, kita juga memanjatkan doa untuk yang masih hidup maupun keluarga kita yang telah meninggal dunia agar senantiasa diberikan kemuliaan,” tutupnya.

(Poros Lombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU