Lombok Barat, Poros Lombok – Langkah strategis menyentuh sisi spiritual baru saja diambil Bupati H. Lalu Ahmad Zaini dengan mengumpulkan jajaran pimpinan daerah di Pendopo. Oleh sebab itu, momentum syukur ini menjadi ajang penguatan mental bagi aparatur sipil negara sebelum mereka memasuki masa puasa.Selasa (17/02).
”Pembersihan hati di lingkungan birokrasi sangat krusial demi kelancaran pelayanan publik,” katanya.
Selanjutnya, kehadiran jajaran eselon dua hingga tokoh agama menciptakan harmoni antara urusan duniawi dan ukhrawi dalam satu majelis. Bahkan, Pj Sekda H. Akhmad Saikhu tampak membaur bersama para jamaah guna menyerap energi positif dari dzikir tersebut.
”Solidaritas antarpegawai harus berlandaskan nilai-nilai religius yang kuat,” jelasnya.
Pesan Spiritual bagi Aparatur Sipil
Sementara itu, Wakil Bupati Hj. Nurul Adha turut mendampingi prosesi khidmat yang berlangsung pada Senin sore di pusat pemerintahan itu. Maka, beliau memandang tradisi doa bersama ini sebagai fondasi kokoh untuk menjaga integritas para pelayan masyarakat.
”Kekuatan spiritual akan menjadi motor penggerak disiplin kerja yang lebih baik,” ujarnya.
Kemudian, tausyiah dari TGH. Muharrar Mahfudz memberikan suntikan moral mengenai pentingnya menjaga tali silaturahmi di lingkungan kerja. Selain itu, beliau menekankan bahwa kesuksesan daerah sangat bergantung pada keikhlasan para pemimpinnya saat memberikan pengabdian.
”Hilangkan rasa sombong agar setiap program pemerintah mendapat rida dari Allah SWT,” pesannya.
Meskipun demikian, pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hakim Kediri tersebut mengingatkan bahwa keberkahan usia harus berisi kontribusi nyata bagi sesama. Sebab, pertemuan dengan bulan suci merupakan kesempatan emas bagi manusia untuk memperbaiki kinerja serta perilaku.
”Ibadah yang maksimal akan melahirkan pribadi yang jujur dan amanah,” tuturnya.
Oleh karena itu, suasana semakin syahdu saat TGH. Nafsin Kholili memimpin doa penutup yang khusus memohon kedamaian bagi seluruh warga. Alhasil, seluruh hadirin menundukkan kepala sembari meminta kelancaran dalam menjalankan tugas negara maupun kewajiban agama.
”Semoga Kabupaten Lombok Barat tetap kondusif dan masyarakatnya hidup sejahtera,” pungkasnya.
Di samping itu, kegiatan religi ini berakhir dengan jabat tangan hangat antarpejabat sebagai simbol selesainya segala perselisihan masa lalu. Karena itu, seluruh aparatur kini merasa lebih siap secara batiniah untuk melaksanakan ibadah puasa sambil tetap memberikan pelayanan prima.
”Kita harus memasuki Ramadhan dengan perasaan yang lapang dan jiwa yang tenang,” jelasnya.
Namun, acara ini tidak hanya menjadi seremoni rutin tahunan, melainkan sarana mempererat kerukunan antarumat dan pemerintah. Jadi, Bupati berharap spirit doa bersama ini mampu meningkatkan indeks kebahagiaan warga melalui kebijakan yang berkeadilan.
”Mari kita jadikan bulan suci sebagai titik balik perbaikan kualitas diri,” tutupnya.















