LOTIM – Manajemen PT Energi Selaparang mulai dibenahi setelah dilakukan pergantian jajaran direksi. Tujuannya adalah memulihkan kembali keuangan perusahaan yang dalam beberapa waktu terakhir ini mengalami devisit.
Plt Direktur Utama PT Energi Selaparang Hasfiandi mengatakan, setelah kurang lebih dua bulan dipercaya menjabat, ada beberapa strategi yang ia siapkan untuk memulihkan kembali keuangan perusahaan secara perlahan.
Salah satunya dengan tidak lagi mendatangkan bahan baku dari luar untuk produksi air minum dalam kemasan (AMDK).
“Hanya beberapa bahan baku yang kami order dari luar karena memang tidak ada di sini. Kalau untuk gelas, botol dan lainnya kita usahakan dari sini,” jelas Hasfiandi.
Menurutnya, langkah itu diambil untuk menghemat agar tidak mengeluarkan biaya besar. Kalau bahan baku didatangkan dari luar, maka harus menggunakan jasa suplier. Apalagi untuk sekali produk AMDK biaya yang dihabiskan bisa mencapai Rp400 juta.
“Belum habis di pertengahan produksi, kita order lagi. Biaya yang dibutuhkan juga sama, dan itu membutuhkan uang besar karena harus dibayar langsung. Tapi kalau kita datangkan dari sini, selain biaya berkurang, uangnya juga bisa kita putar dulu untuk usaha lain,” imbuhnya.
Lebih lanjut ia menyampaikan, produksi AMDK kini sudah semakin meluas. Jumlah yang diproduksi juga meningkat, bahkan pihaknya pun sampai kewalahan untuk menerima pesanan.
Namun semua itu disesuaikan dengan kemampuan mesin. Karena dalam sehari, mesin hanya mampu memproduksi 1200 baik itu air kemasan gelas maupun botol.
“Saya lihat selama dua bulan tingkat produksi dan penjualannya meningkat. Ketika pesanan meningkat, maka kita harus ubah strategi supaya tidak kewalahan,” jelas Hasfiandi.
Ia juga melanjutkan selain AMDK, usaha SPBN atau BBM masih tetap berjalan seperti biasa dan usaha tersebut sejauh ini belum ditemukan masalah.
Meski kondisi perusahaan masih tertatih, tapi Hafsiandi tetap mempertahankan para karyawan, jangan sampai ada yang di-PHK.
Ia menilai karyawan merupakan salah satu bagian penting untuk kemajuan perusahaan. Ia pun memberikan kepercayaan yang tinggi ke para karyawan.
“Perusahaan juga menuntun mereka untuk berinovasi. Inovasi tidak hanya dari pimpinan tapi juga karyawan. Inovasi ini kita gabung menjadi inovasi yang terbaik. Yang paling penting kepercayaan yang kami berikan, harus bisa dijaga,” terang dia.
Hafsiandi berharap ke Pemkab selaku pemegang saham penuh. Selama dipercaya menjadi pimpinan, ia menginginkan adanya penambahan usaha-usaha yang lain, salah satunya usaha LPG.
Terlebih ia mengaku, saat ini banyak perusahaan luar yang ingin menjual BBM bersubsidi dengan lisensi dari PT Energi Selaparang.
“Tapi sekarang keputusan tergantung pemegang saham karena itu berkaitan dengan modal yang tidak sedikit,” tutupnya. (Red)

















