(Lombok Timur, PorosLombok.com) – Malam itu, Jumat 06 September 2024, langit Anjani berhiaskan bintang-bintang yang berkelip lembut, seolah ikut merayakan peringatan hari ulang tahun Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) ke-89. Udara malam menyelimuti kota santri ini dengan kesejukan yang menenangkan, membawa setiap hati yang hadir dalam perayaan ini ke dalam suasana yang damai dan penuh harap.
Di tengah kesejukan malam, aroma masakan yang menggugah selera menyebar dari dapur umum. Ibu-ibu kader Nahdlatul Wathan, dengan semangat yang menyala dan senyum yang selalu mengembang, sibuk mengaduk panci dan wajan besar. Suara gemerincing alat masak berpadu harmonis dengan obrolan hangat yang memenuhi udara, menciptakan simfoni malam yang menyejukkan jiwa.
Di bawah naungan tenda-tenda sederhana, dapur umum ini berdiri sebagai simbol kebersamaan dan semangat gotong royong yang tak lekang oleh waktu. Terlihat barisan ibu-ibu dari berbagai organisasi seperti Muslimat NW, Lazah NW, dan Nahdliyat NW, bahu-membahu menyiapkan makanan bagi ratusan ribu jamaah yang datang dari berbagai penjuru. Setiap tangan yang bekerja mengalirkan cinta dan pengabdian, menjadikan setiap hidangan sebagai ungkapan syukur dan persaudaraan.
Lampu-lampu minyak yang menggantung di sekitar dapur menambah kehangatan suasana. Cahaya temaramnya memberikan kesan damai dan intim, seolah memeluk para pekerja yang tengah berpeluh di tengah malam. Dalam keremangan itu, terpantul wajah-wajah yang penuh keikhlasan, menandakan betapa dalamnya makna kebersamaan yang terjalin.
Dari kejauhan, terdengar lantunan shalawat dan doa dari para jamaah yang berkumpul, menciptakan harmoni yang merasuk hingga ke dalam jiwa. Suara itu bergema lembut, menyatu dengan gemerisik angin malam yang mengalun pelan, membawa setiap harapan dan doa ke angkasa, berharap akan berkah dan rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Nawawi, Sekretaris PW Lazah NW, tampak berdiri di antara para ibu-ibu yang sibuk. Ia menyaksikan pemandangan ini dengan mata berbinar, penuh rasa syukur dan harapan. “Alhamdulillah, semoga ini menjadi berkah bagi kita semua,” ucapnya penuh rasa, menggetarkan setiap hati yang mendengarnya. Kalimat sederhana yang sarat makna itu menjadi doa yang melangit, menyentuh setiap jiwa yang hadir.
Suasana malam di Anjani semakin meriah dengan hadirnya anak-anak yang berlarian riang di sekitar area acara. Tawa dan canda mereka menambah semarak, menjadi pengingat bahwa peringatan ini juga milik generasi penerus. Di dalam kepolosan mereka, tersimpan harapan-harapan besar yang kelak akan mewujud menjadi kenyataan.
Sementara itu, para pemuda Nahdlatul Wathan sibuk membantu mengatur logistik dan memastikan segala sesuatunya berjalan lancar. Semangat kerja sama tampak jelas dalam setiap gerakan mereka, mencerminkan kekuatan persatuan yang terjalin erat. Mereka adalah tulang punggung perhelatan ini, yang dengan penuh dedikasi memastikan bahwa setiap detil acara berjalan sempurna.
Di sisi lain, para jamaah yang telah menempuh perjalanan jauh, duduk santai menikmati suasana. Mereka berbagi cerita dan pengalaman, mempererat tali silaturahmi yang terjalin di antara mereka. Dalam setiap kisah yang dibagikan, tersimpan pelajaran dan inspirasi yang memperkaya batin dan memperkuat ikatan persaudaraan.
Kehadiran dapur umum ini tak hanya sekadar menyediakan makanan, namun juga menjadi wadah bertemunya berbagai cerita, harapan, dan doa. Setiap suapan yang disajikan mengandung makna dan cinta yang dalam, menghubungkan satu sama lain dalam ikatan kebersamaan yang tulus. Ini adalah perayaan cinta dalam bentuk yang paling murni.
Dengan semangat melayani, para ibu-ibu terus menyiapkan hidangan hingga larut malam. Meski lelah, senyum tak pernah lepas dari wajah mereka. Semangat ini menular kepada setiap orang yang menyaksikan, meneguhkan tekad untuk terus saling membantu dan mendukung. Dalam setiap langkah dan gerakan, terpancar ketulusan yang menjadi kekuatan utama dari perhelatan ini.
Ketika malam semakin larut, langit Anjani semakin berkilauan. Bintang-bintang tampak lebih dekat, seolah turut menyaksikan kebersamaan yang terjalin di bawahnya. Alam seolah ikut berdoa, berharap semua yang terlibat dalam peringatan ini mendapatkan berkah dan rahmat, menjadi saksi bisu dari kasih sayang dan persatuan yang terjalin di bumi Lombok Timur.
Di akhir malam, ketika hidangan telah tersaji dan perut kenyang, para jamaah memanjatkan doa bersama. Mereka mengucap syukur atas kebersamaan dan cinta yang dirasakan malam itu, berharap agar semangat ini terus berlanjut di hari-hari mendatang. Dalam kebersamaan ini, tersimpan kekuatan yang bisa mengatasi segala tantangan.
Perlahan, suasana mulai mereda. Para jamaah kembali ke tempat istirahat masing-masing dengan hati yang damai dan penuh rasa syukur. Semangat persatuan dan kebersamaan yang terjalin malam itu akan terus dikenang sebagai bagian dari perjalanan spiritual mereka. Malam ini telah menjadi saksi dari kebesaran hati dan cinta yang tak terbatas.
Di bawah langit Anjani yang kini mulai diselimuti kabut tipis, dapur umum pun menutup malam dengan rasa puas. Malam itu bukan hanya tentang makanan yang tersaji, melainkan tentang cinta dan persaudaraan yang terjalin erat, menumbuhkan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Dan di sinilah, di bawah bintang-bintang yang bersinar, harapan dan mimpi-mimpi baru terlahir.
(Arul/PorosLombok)
















