Lombok Timur, PorosLombok.com — Secangkir kopi hitam mengepul dari gelas bening, menyebarkan aroma hangat di teras Pondok Reban Tebu, sebuah tempat persinggahan para jurnalis di Lombok Timur.
Malam itu, udara terasa lebih tenang dari biasanya. Angin menyusup pelan di sela-sela perbincangan. Di antara para wartawan yang duduk bersila, tampak sosok yang dikenal kalem tapi tajam dalam keputusan: Drs. HM. Juani Taofik.
Ia bukan datang untuk diwawancarai. Tak ada catatan agenda atau pernyataan resmi yang akan dikutip besok pagi. Malam itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur itu memilih bercerita. Tentang hal yang paling personal, yang jarang disentuh dalam ruang-ruang kekuasaan: rumah tangga.
“Bicara soal keluarga itu berat,” katanya, membuka percakapan, “karena di sanalah tempat kita sebenarnya diuji, bukan di kantor.” Para wartawan yang mendengarkan hanya tertawa kecil. Beberapa dari mereka masih lajang. Tapi mereka paham, cerita yang akan disampaikan bukan omong kosong.
Nama istrinya, Hj. Nurhidayati, disebut dengan nada datar tapi dalam. Seperti menyebut nama seseorang yang tak hanya menemaninya di meja makan, tapi juga menopang dalam setiap keputusan penting.
“Kalau kalian melihat saya bisa seperti sekarang, itu karena ada yang menjaga saya dari belakang,” ucapnya.
Kisah mereka tidak dilapisi kemewahan. Ia tidak menutupi bahwa jalan rumah tangganya penuh tanjakan. Pernah ada waktu ketika gaji tak cukup untuk kebutuhan anak-anak.
Pernah juga, dalam tekanan pekerjaan, ia mulai kehilangan arah. Tapi satu hal yang tak berubah: kehadiran sang istri yang tak pernah berpaling.
“Istri itu, letak harganya ada pada kesetiaan. Dan laki-laki, pada tanggung jawabnya,” katanya pelan. Tak ada dramatisasi. Hanya kalimat sederhana yang mengendap dalam benak siapa pun yang mendengarnya.
Sebagai birokrat, ia tahu bagaimana caranya menyusun strategi dan menghadapi krisis. Tapi sebagai suami, strateginya jauh lebih sederhana: pulang. Sesibuk apa pun, ia selalu menyempatkan waktu makan bersama keluarga. Bahkan sesekali, ia dan sang istri karaoke bareng.
“Itu cara kami menjaga semangat tetap muda,” katanya sembari terkekeh.
Sosoknya memang dikenal humanis. Dalam rapat, ia bisa keras. Tapi di luar kantor, ia ramah dan banyak senyum. Banyak orang tak tahu, di balik sikap tenangnya, ada disiplin ketat soal waktu untuk keluarga. Ia menolak semua yang berpotensi merenggangkan hubungannya dengan rumah.
Malam di Reban Tebu makin larut. Tapi alih-alih mengakhiri cerita, Kak Ofik makin dalam mengulas makna keluarga. “Saya percaya, jabatan ini hanya sementara. Hari ini saya Sekda, besok bisa jadi bukan siapa-siapa. Tapi sebagai suami dan ayah, itu identitas yang tak bisa dicabut.”
Ia mengingatkan, banyak pejabat kehilangan arah bukan karena tekanan pekerjaan, tapi karena mengabaikan rumah. “Kalau sudah mulai lupa pulang, itu alarm yang harus kita dengar,” katanya. Dan malam itu, alarmnya berbunyi. Ponselnya bergetar, menampilkan nama yang sudah sangat akrab: “Ibu.”
“Istri saya nggak pernah lupa kirim pesan kalau saya kelamaan di luar,” katanya tersenyum. Di layar, ada tulisan pendek: “Sudah jam 12, ayah belum pulang?”
Kata-kata itu bukan perintah. Tapi cukup untuk membuat seorang pria yang mengurus kabupaten seukuran Lombok Timur merasa harus segera angkat kaki. “Bukan takut,” katanya sambil tertawa, “tapi itu bentuk cinta yang tak pernah berubah.”
Ia lalu pamit. Menyisakan ruangan dengan aroma kopi yang mulai dingin dan cerita yang masih mengendap. Tak ada yang memotong pembicaraan, tak ada yang mengalihkan topik. Semua larut dalam satu kesadaran: bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi seseorang yang menunggu.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, di mana jabatan datang silih berganti, Kak Ofik memilih bertahan dalam satu prinsip: mencintai yang tak pernah sementara. Dan malam itu, tanpa disadari, ia sedang memberi pelajaran. Bukan soal politik, bukan pula birokrasi, tapi tentang menjadi manusia yang tahu ke mana harus pulang.
(arul/PorosLombok)














