(PorosLombok.com) – Delapan pemuda dan pemudi Desa Waringin, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menginisiasi gerakan literasi secara konsisten selama dua tahun terakhir.
Mereka tergabung dalam komunitas Sanggar Baca Abhinaya, yang rutin mengajak anak-anak gemar membaca buku di tengah gempuran era digital.
“Kami tidak ingin anak-anak tumbuh tanpa kecintaan terhadap buku,” kata Abdul Goni, penggagas sanggar literasi tersebut, Senin, 15 Juli 2025.
Setiap pekan, para relawan menyambangi sekolah-sekolah dari tingkat TK hingga SMP di wilayah sekitar. Mereka membawa berbagai macam buku dan mengajak anak-anak membaca bersama secara aktif.
“Kegiatan ini menjadi cara kami untuk menumbuhkan minat baca sejak usia dini,” sambung Goni.
Sanggar juga menerapkan aturan tegas berupa larangan membawa HP bagi anak-anak yang ikut membaca. Langkah ini dinilai penting agar mereka tidak terdistraksi oleh teknologi saat berinteraksi dengan buku.
“Kami ingin mereka benar-benar hadir untuk membaca, bukan hanya duduk sambil main gawai,” ujarnya.
Upaya ini pun mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak orang tua mengapresiasi inisiatif relawan yang dinilai mampu mengurangi kecanduan anak terhadap layar.
“Anak-anak sekarang lebih sibuk dengan HP daripada buku. Program ini sangat membantu,” ujar salah satu warga Desa Waringin.
Meski tanpa dukungan dana besar, sanggar tetap bertahan dan berkembang. Para relawan berharap bisa memperluas jangkauan dan menambah fasilitas penunjang untuk kegiatan baca.
“Kami ingin budaya literasi bisa menyebar lebih luas, tidak hanya di satu desa,” harap Goni.
Gerakan sunyi yang mereka bangun perlahan mulai mengubah wajah pendidikan lokal. Kini, membaca mulai menjadi rutinitas yang menyenangkan bagi anak-anak di pelosok desa.
(*/PorosLombok.com)
















